SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Momentum Sabang ‘Go Internasional’

DALAM dua tahun terakhir ini, Aceh benar-benar mendapatkan perhatian utama dari pemerintah pusat untuk

Momentum Sabang ‘Go Internasional’
ist
Launching Sail Sabang 2017 

Oleh Rahmad Mukhtar

DALAM dua tahun terakhir ini, Aceh benar-benar mendapatkan perhatian utama dari pemerintah pusat untuk penyelenggaraan event Nasional maupun internasional. Setelah Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) XV yang berlangsung meriah dan sukses pada Mei 2017 lalu, kini Aceh kembali ditunjuk sebagai tuan rumah even internasional, Sail Sabang 2017, yang akan digelar pada 28 November - 5 Desember 2017 mendatang.

Mendengar kata Sabang mungkin kebanyakan orang Indonesia tahu. Itu merupakan sebuah kota titik paling barat di Indonesia yang memiliki Tugu Nol Kilometer (0 Km) dan terletak di Aceh. Dari Sabang sampai Merauke, Berjejer Pulau-Pulau, Sambung Menyambung Menjadi Satu Itulah Indonesia. Begitulah penggalan lirik lagu Nasional karangan R Suharjo, yang cukup populer di kalangan kita semuanya. Dari lagu tersebut kita tahu bahwa Sabang merupakan garis terdepan negara Republik Indonesia.

Selain itu, Kota Sabang juga dikenal sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat beberapa tahun silam. Tepat, jika Sail Sabang 2017 ini menjadi momentum titik balik transformasi pembangunan Aceh dari setiap sektor pembangunan, khususnya sektor pariwisata.

Sektor unggulan
Pariwisata merupakan satu sektor unggulan yang akan memberikan kontribusi yang cukup besar pada pembangunan Aceh, khususnya Sabang, apabila pemanfaatannya dilakukan secara optimal dan manusiawi. Pemanfataan dan pembangunan sektor pariwisata Sabang ini dipercaya bisa menjadi kekuatan ekonomi dan politik yang bisa diandalkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Sabang dan Aceh untuk mencapai kesejahteraan yang dicita-citakan.

Sebagai wilayah kepulauan, Kota Sabang memiliki pemandangan yang indah, dengan panorama pantai yang masih terjaga keasriannya. Berdasarkan hasil studi Bank Indonesia dalam “Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Aceh Agustus 2016”, Sabang merupakan satu destinasi wisata paling utama dan strategis di Aceh. Bahkan, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Sabang hampir mencapai 70%. Ini artinya lebih dari setengah kekuatan perekonomian Sabang ditopang oleh sektor pariwisata.

Kunjungan wisatawan ke Sabang (Pulau Weh), terus meningkat dari tahun ke tahun baik wisatawan dalam negeri (domestik) maupun wisatawan mancanegara (asing). Kendati demikian, sedikitnya ada lima pekerjaan rumah utama yang harus dibenahi, supaya sektor pariwisata mampu menjadi leading sector (sektor penggerak utama) bagi perekonomian Sabang: Pertama, aksesbilitas dari dan ke lokasi wisata bahari dan pulau-pulau kecil umumnya masih rendah dan sulit; Kedua, infrastruktur, sarana dan prasarana umum dan penunjang di lokasi wisata umumnya terbatas dan masih memprihantikan seperti toilet, tempat ibadah, listrik, air bersih dan lain sebagainya; Ketiga, promosi, publikasi dan kemasan pemasaran yang belum memadai dan kurang menarik. Sehingga, masih banyak wisatawan yang belum mengetahui dan tidak mampu mengeksplorasi potensi pariwisata di Sabang terutama di sepanjang Pulau Weh;

Keempat, dukungan dan sinergi dari instansi pemerintahan terkait masih kurang. Hal ini, merupakan penyakit umum yang menggeluti sebagian besar pemerintahan, baik ditingkat daerah maupun ditingkat nasional (ego sektoral), dan; Kelima, kualitas SDM (pemerintah, operator, dan masyarakat) perlu ditingkatkan dan saling bersinergi bukan saling berkompetisi untuk memajukan pariwisata di Kota Sabang.

Tidak ada kata terlambat. Dengan potensi yang besar dan modal dasar pembangunan yang sangat lengkap serta dengan modal bonus demografi hingga 2030, mestinya sektor pembangunan pariwisata Aceh khususnya Sabang bisa tumbuh dengan gemilang. Momentum Sail Sabang 2017 ini diharapkan dapat menjadikan Sabang sebagai icon pariwisata Nasional dan bahkan internasional. Ini tepat mengingat Sail Sabang 2017 ini mengangkat tema “Sabang Menuju Gerbang Destinasi Wisata Bahari Dunia”.

Langkah strategis
Untuk itu, diperlukan beberapa langkah strategis yang harus dilakukan untuk memanfaatkan ajang Sail Sabang 2017 ini, sebagai ajang promosi dan publikasi pariwisata sabang untuk Go International. Pertama, perubahan azas dan pola pikir(mindset) dalam pengelolaan pariwisata bahari dari pendekatan sistem birokrasi berbelit menjadi sistem pendekatan entrepreneurial. Hal ini bertujuan untuk memudahkan investor/pengusaha menanamkan modal atau investasi di Kota Sabang. Dengan demikian, potensi pariwisata Sabang akan teroptimalkan dengan baik dan tentunya akan ikut membantu dalam menanggulangi kemiskinan dan pengangguran dengan penyerapan tenaga kerja pada sektor pariwisata.

Kedua, pemetaan (mapping) potensi pariwisata unggulan dan potensial yang tersebar di Kota Sabang, baik di kawasan pesisir maupun pulau-pulau kecilnya. Pemetaan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan memudahkan wisatawan dalam memilih spot-spot wisata yang akan dikunjungi. Selain itu, akan memudahkan wisatawan merencanakan anggaran (budget) ketika akan menikmati liburan dan keindahan pariwisata di Sabang. Pemetaan potensi atau spot-spot wisata ini dapat dilakukan secara sederhana (peta spot wisata) maupun berbasis elektronik dengan didukung sistem informasi geografis. Sehingga, wisatawan akan dimudahkan dan dimanjakan dalam memilih spot wisata yang diinginkan.

Ketiga, menyusun rencana investasi dan pembangunan (masterplan 3D) dari berbagai informasi yang didapatdaripemetaan, sehingga perlu dibangun factor pendukungnya seperti akses transportasi, telekomunikasi sarana dan prasarana pendukung lainnya. Keempat, melakukan dan meningkatkan strategi pemasaran dan publikasi, baik melaluitelevisi nasional maupun internasional dan berbagai media lainnya seperti internet, majalah dan pameran-pameran pariwisata di tingkat Nasional maupun internasional. Sebagai contoh, Thailand menghabiskan dana sebesar 1 miliar dolar AS untuk promosi wisatanya di beberapa jaringan televisi internasional, sehingga wajar bila kunjungan wisatawan ke Thailand menduduki peringkat pertama di ASEAN.

Kelima yang tak kalah pentingnya ialah menciptakan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang tangguh di bidang pariwisata bahari, baik skill (kemampuan), inovasi, kreativitas, etika, budaya kerja dan tingkat pendidikan, serta akhlakul karimah. Hal ini penting, mengingat wisatawan memiliki latar belakang yang berbeda, baik agama, suku, bahasa, dan bangsa, sehingga memiliki karakter yang berbeda pula.

Untuk itu, mulai sekarang mari kita stop ego sektoral dan kita terapkan manajemen KISS (Koordinasi, Integrasi, Simplifikasi, dan Sinkronisasi) untuk mewujudkan Sabang sebagai destinasi pariwisata dunia. Semoga ajang Sail Sabang 2017 ini tidak hanya sebagai event semata, namun harus mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat Aceh, terutama warga Kota Sabang. Go internasional!

* Rahmad Mukhtar, S.I.K., alumnus Dayah Jeumala Amal Pidie Jaya (Angkatan 2009), alumnus Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB Bogor, berasal dari Mane Tunong, Aceh Utara. Email: rahmaditk46@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help