SerambiIndonesia/

Saham Warga Aceh Capai Rp 1,16 T

Nilai saham masyarakat Aceh yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 31 Oktober 2017

Saham Warga Aceh Capai Rp 1,16 T

BANDA ACEH - Nilai saham masyarakat Aceh yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 31 Oktober 2017 mencapai Rp 1,16 triliun. Pemilik saham itu didominasi investor dari Banda Aceh. Namun, angka itu masih kecil dibandingkan dengan nasional yang market caps-nya per hari yang hingga kemarin lebih Rp 6.000 triliun.

Kepala Perwakilan BEI Aceh, Thasrif Murhadi menyampaikan hal ini ketika menjawab Serambi, Selasa (14/11). Menurutnya nilai saham tersebut banyak bergerak di perusahaan banking, consumer, dan insfrastruktur.

“Secara umum, banking sekarang ini masih menjadi tujuan investasi oleh investor karena pertumbuhan harga sahamnya juga cukup menyakinkan. Sementara consumer relatif lebih stabil, dan sangat cocok bagi investor Aceh karena masih banyak yang baru. Kalau di bidang insfrastruktur sesuai kebijakan pemerintah yang menggenjot pembangunan insfrastruktur,” jelas Thasrif.

Ia juga menyebutkan rata-rata kepemilikan saham di Aceh adalah milik perorangan. Sedangkan jumlah investor di Aceh yang tercatat hingga 31 Oktober 2017 adalah 8.149 orang. Rinciannya usia investor, yakni 18-25 tahun 35,8 persen, 26-30 tahun 16,2 persen, 31-40 tahun 23,4 persen, dan 41-100 tahun 24,2 persen.

“Berdasarkan usia jumlah investor di Aceh, maka umumnya kalangan pemuda yang berstatus pelajar dan mahasiswa. Mereka menyisihkan uang jajannya untuk berinvestasi dengan membeli saham sebesar Rp 100.000- Rp 200.000,” sebut Thasrif.

Lebih lanjut, Thasrif mengatakan jumlah investor Aceh yang saat ini mencapai 8.000-an itu masih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk Aceh yang mencapai sekitar 5 juta jiwa. Namun kesadaran masyarakat untuk berinvestasi saham sudah mulai terbangun. “Kita terus berupaya untuk melakukan sosialisasi ke seluruh Aceh,” ujarnya.

Kepala Perwakilan BEI Aceh, Thasrif Murhadi juga menyampaikan keuntungan menjadi pemilik saham/perusahaan dibandingkan hanya menjadi konsumen, yaitu dengan menjadi pemilik perusahaan atau membeli sahamnya, maka akan mendapatkan bagi hasil dari keuntungan perusahaan tersebut.

“Apabila konsumen hanya menikmati manfaat produk yang dibeli, dengan menjadi pemilik perusahaan kita bisa mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga saham. Sedangkan jika menjadi konsumen, tidak demikian,” jelasnya.

Selain itu, pemilik perusahaan juga dapat menentukan arah kebijakan perusahaan sementara konsumen hanya menerima hasil dari kebijakan tersebut. (una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help