SerambiIndonesia/

Mihrab

Masjid Raudhaturrahman, Masjid Tempurung

MASJID di Gampong Pasar Padang Tiji ini, ada juga yang menyebutnya sebagai Masjid Tempurung Kelapa (Seumejid/Meuseujid Bruek U)

Masjid Raudhaturrahman, Masjid Tempurung
MASJID Raudhaturrahman Padang Tiji, Pidie 

MASJID di Gampong Pasar Padang Tiji ini, ada juga yang menyebutnya sebagai Masjid Tempurung Kelapa (Seumejid/Meuseujid Bruek U). Padahal nama aslinya Masjid Raudhaturrahman Padang Tiji, terletak di Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie.

Kenapa Masjid Tempurung? Tentu karena bentuknya seperti tempurung kelapa yang ditelungkupkan. Bukan bentuk biasa layaknya masjid kebanyakan yang terdiri dari kubah, menara dan estetika lain dengan gaya arsitektur ketimurtengahan misalnya.

Pada masa dibangunnya di tahun 1980, masjid ini menjadi buah bibir juga. Fenomenal dan unik. Kala itu belum ada satupun masjid di Aceh yang bentuknya seperti Masjid Raudhaturrahman.

Lalu, masjid ini tanpa tiangkah? Tentu banyak tiangnya, namun terbungkus dalam didingnya. Lihatlah tampilan luarnya, yang bagian bawah tempunrung (kubah) disangga beton-beton (ornamen) sekat-sekat, yang dari tiga penjuru ada pintu masuknya. Di dalam masjid memang ada dua tiang, tapi sebagai penyangga lantai dua. Kondisi tanpa banyak tiang itu, lebih membuat leluasa pendirian shaf-shaf. Jadi mesjid ini memang punya nilai keindahannya tersendiri.

Jangan berpikir berada di dalam Raudhaturrahman kita akan kepanasan (maklum dari luar sepertinya tak kelihatan jendela atau ruang terbuka lalulalangnya udara). Sebaliknya begitu masuk masjid, rasa sejuk memapar jiwa raga kita. Tenang, juga dalam sirkulasi udara yang sejuk. Tentu saja, sebab dari kipas angin-kipas angin yang ada di rung bundar tersebut terus menebarkan embun (butiran halus air). Pun langit-langitnya yang tinggi menambah keleluasaan pandang dan muatan udara.

Kendati seluruh bangunan terbuat dari beton, tapi tidak ada suara-suara pantulan/gema. Karena pada akhir lengkung dinding dalam, hingga di lantainya dipasang lapisan kayu sebagai pengedap suara. Warnanya yang seperti warna pelitur, membuat ruang dalam masjid relatif mewah. Lalu pagar pembatas tingkat dua, didisain dengan ukiran ala Jepara, juga dengan warna pelitur coklat tua ikut menyamankan mata.

“Canggih”nya Raudhaturrahman yang berkapasitas 2000 jamah dan bermenara 37 meter itu, dilengkapi CCTV. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Menurut Sekretaris Umum Masjid Raudhaturrahman, Drs Sayuthi Mukhtar kepada Serambi Mihrab mengatakan, masjid yang dibuka 24 jam tanpa ditutup ini, didisain oleh Ir Azwar Abubakar (putra Padang Tiji, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia) yang kala itu masih sebagai seorang konsultan di Banda Aceh. Azwar terilhami dari salah satu masjid di Melbourn, Australia. Dimana kubahnya hanya satu bulatan bagaikan tempurung kelapa.

Untuk kontruksi dikerjakan oleh ahli kontruksi rancang bangun, Ir Masri Sutan Bandaro, (Dosen Fakultas Teknik Unsyiah).

“Sumber dana selama ini untuk biaya pemeliharaan dan tata kelola masjid bersumber dari sedekah harian/celengan masjid. Sedangkan untuk pembangunan bersumber dari APBA Provinsi Aceh dan sebagian kecil dari APBK Pidie,” jelas Sayuthi lagi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help