SerambiIndonesia/

BPCB Kaji Situs Cagar Budaya Kompleks Taman Sari Gunongan  

Kegiatan tersebut bertujuan untuk merekontruksi kembali kondisi awal situs Gunongan yang didalamnya terdapat makam Sultan Iskandar Tsani.

BPCB Kaji Situs Cagar Budaya Kompleks Taman Sari Gunongan   
SERAMBINEWS.COM/MASRIZAL
Dua Tim Geofisika Unsyiah, Cut Intan Keumala dan Amir Asyqari melakukan pengukuran data gravitasi untuk mengindetifikasi lapisan bawah tanah dalam rangka kajian revitalisasi situs cagar budaya di Taman Sari Gunongan, Banda Aceh, Selasa (21/11). 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh melakukan kajian revitalisasi situs cagar budaya di Kompleks Taman Sari Gunongan, Banda Aceh.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk merekontruksi kembali kondisi awal situs Gunongan yang didalamnya terdapat makam Sultan Iskandar Tsani.

Ketua Unit Kerja Pengembangan pada BPCB Aceh, Andi Irfan Syam kepada Serambi, Senin (21/11) menyampaikan kegiatan yang berlangsung dari 17- 24 November 2017 melibatkan Balai Arkeologi Sumut, Tim Ahli Cagar Budaya Nasional di Jakarta, Jurusan Teknik Geologi, Jurusan Geofisika, dan Jurusan Arsitektur Unsyiah.

“Saat ini kita masih mengumpulkan data-data melalui metode geofisika. Jadi mereka berusaha untuk melihat anomali yang ada di bawah permukaan tanah. Kita ingin merekontruksikan kembali seperti yang diceritakan dalam kitab Bustanul Salatin untuk memerplihatkan kondisi awal,” kata Irfan.

Dia menjelaskan bahwa Taman Sari Gunongan merupakan tempat pemakaman raja-raja.

Berdasarkan hasil penelitian dan literatur sejarah, katanya, menyebutkan di dalam kandang (bangunan samping gunongan) disemayamkan seorang sultan Aceh, yaitu Sultan Iskandar Tsani.

Tetapi, kondisi kandang (tempat pemakaman) tersebut saat ini telah berubah. Permukaan lantainya sudah ditinggikan dengan alasan untuk menghindari dari genangan air sungai Krueng Daroy yang berada disampingnya.

Selain itu, juga tidak ada gundukan tanah di tengahnya seperti yang ada saat ini.

Menurut Irfan, kondisi awal permukaan kandang tersebut rendah atau sejajar dengan permukaan tanah.

“Awanya rata dengan permukaan jadi tidak mengunduk seperti ini. Makam itu sebenarnya jauh berada di bawah kita. Kita masih menghimpun data pendukung untuk membuat sebuat model revitalisasi tahun depan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Masrizal Bin Zairi
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help