SerambiIndonesia/

Mihrab

Masjid Asal Penampaan Pertama di Galus

SUDAH tua usia masjid ini. Kendati zaman sudah semodern ini, di masjid ini ada bagian yang masih bertahan

Masjid Asal Penampaan Pertama di Galus
MASJID Asal Penampaan yang terletak di Desa Penampaan Kecamatan Blangkejeren. 

SUDAH tua usia masjid ini. Kendati zaman sudah semodern ini, di masjid ini ada bagian yang masih bertahan dengan atap dari daun ijuk. Pun ada dindingnya yang masih menggunakan tanah liat (dicampur sekam atau ampas padi yang sudah digiling di kilang padi), dan tanpa plafon pula. Sudut tersebut kira-kira berukuran 12x12 meter, terletak di sebelah kiri arah kiblat dari masjid itu.

Masjid tersebut bernama Masjid Asal Penampaan yang dibangun tahun 1214 Masehi, terletak di Desa Penampaan Kecamatan Blangkejeren, tak jauh dari Pendopo Bupati Gayo Lues (Galus), serta tak jauh pula dari pusat ibu kota Blangkejeren.

Tapi tahukah Anda? Asal Penampaan tak hanya 12x12 meter. Dalam perkembangannya ada perluasan bangunan seperti huruf L yang mampu menampung 8000 lebih jamaah. Dibangun dengan gaya masjid era kini, dengan dinding tembok, lantai kramik, plus ada plafonnya. Pelebaran tersebut dikerjakan secara swadaya masyarakat dan bantuan pemerintah Aceh.

Menurut pengurus dan khadam Masjid Asal Penampaan, Tgk Abu Kasim, kepada Serambi Mihrab (22/11), Gubernur Irwandi Yusuf sudah berjanji akan membantu pembangunan menara Masjid Asal Penampaan, senilai Rp 5 miliar. Tak lama lagi pembangunannya dimulai, dan sudah ditunjuk konsultan pembangunannya seorang putra daerah.

Nazar
Kecuali tempat ibadah, Masjid Asal Penampaan, lazimnya dijadikan pula lokasi untuk melepas hajat/nazar. Warga yang datang tidak saja dari Galus, tapi juga dari luar Galus, misalnya dari Kutacane Aceh Tenggara, Takengon Aceh Tengah, Medan (Sumatera Utara). Ini sering dilakukan setiap hari Jumat. Disebut-sebut banyak nazar warga terkabulkan di Asal Penampaan. Wallahu ‘aklam.

Menurut Tgk Abu Kasim, selama ini sering dikunjungi juga oleh orang dari Jakarta, untuk bernazar dan shalat sunat.

Diperkirakan lebih dari 100 orang pengunjung yang datang pada setiap hari jumat, dengan beragam nazarnya.

Air bening
Setiap usai berkunjung/melepas nazar di Masjid Asal Penampaan, biasanya orang-orang membawa pulang “oleh-oleh” air putih, yang bersumber dari sebuah sumur di Masjid Asal Penampaan tersebut. Air putih itu dipercayai sebagai obat yang diramu untuk diminum. Airnya jernih dan bening, hampir mirip air zam zam.

Bagi pengunjung yang ingin membawa oleh-oleh tersebut, diperbolehkan membawanya dalam wadah muatan dua liter. Baik dalam botol atau wadah lain.

Dikunci
Bagi warga yang ingin bernazar dan melaksanakan shalat sunat di bagiam masjid yang berdinding tanah, sebelumnya harus menemui pengurus atau khadam masjid. Kecuali khusus pada hari Jumat, ruangan tempat ibadah yang beratapkan ijuk dan dinding tanah itu dibuka sejak pagi hingga selesai melaksanakan shalat Jumat berjamaah. Lain halnya dengan hari-hari biasa ruangan itu dikunci dan ditutup. Dibuka khusus bagi pengunjung yang ingin melihat dan melaksanakan shalat sunat.

Kegiatan Asal Penampaan sebenarnya sama saja dengan masjid lainnya. Aktif shalat berjamaah lima waktu, pengajian kaum ibu dan anak dari sekitar Desa Penampaan. Saat ini di masjid sudah dilengkapi dengan fasilitas sumur bor, pengisap debu, tempat wudhu dan fasilitas pendukung lainnya. Asal Penampaan saat ini dipimpin oleh imam besar Tgk Kamin dibantu tiga orang khadam. Setiap enam tahun sekali, dilakukan pergantian imam, dan pengurus masjid dan khadam diganti setahun sekali. Secara umum Masjd Asal Penampaan, pembangunannya sudah memadai. Tinggal menaranya. Adakah diantara Anda yang mau ikut membantu?(rasidan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help