SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Pengajian Zaman Now

BETAPA pentingnya dunia pembelajaran Islam menyikapi kemajuan teknologi informasi

Pengajian Zaman Now
KH ABDULLAH Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym memberikan tausyiah dalam Dakwah yang digelar Pemko Banda Aceh, Senin (3/7) di Taman Sari (Taman Bustanussalatin) Banda Aceh. 

Oleh Muhammad Adam

Perkembangan teknologi informasi membuat platform hidup manusia berubah dalam berbagai aspek, mulai dari urusan ekonomi, politik, bahkan sampai agama. (Prof. Rhenald Kasali)

BETAPA pentingnya dunia pembelajaran Islam menyikapi kemajuan teknologi informasi. Tidak hanya sekadar mengikuti, tetapi bagaimana para pelaku pendidikan Islam, seperti; ulama, pimpinan pesantren, guru, penceramah, ustaz, aktivis Islam, cendekiawan Muslim, penulis dan profesi-profesi sejenis lainnya mengisi ruang di dunia maya dengan terstruktur, terukur, serius, dan strategis layaknya dunia nyata.

Kini, tidak sedikit pusat-pusat belajar Islam seperti balai pengajian, masjid, mushalla, dan bahkan pesantren yang berkurang jamaahnya, terutama dari generasi muda. Hal ini belum tentu mereka tidak tertarik untuk belajar Ilmu Agama, karena bagaimanapun itu menjadi kebutuhan spiritual manusia. Namun yang terjadi adalah mulai tumbuhnya pesantren dan guru-guru pengajian di dunia maya.

Tempat orang belajar sudah mulai berpindah dari balai pengajian, masjid dan mushalla ke dunia maya. Tidak bisa dipungkiri, orang sekarang belajar Islam melalui Google, di mana mesin pencari Google menjadi tempat bertanya berbagai persoalan umat. Umat sekarang belajar mengaji di mana saja, tidak lagi terbatas hanya di masjid dan balai pengajian. Saat mengantre di bank, di bis, saat menunggu jadwal penerbangan, atau sedang berada dalam perjalanan, orang dengan mudah mengeksplor kebutuhan Islam mereka.

Selain itu, tidak hanya informasi yang offline, kejadian yang sedang berlangsung (live) sekarang bisa dinikmati oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Sebut saja live streaming via Facebook ceramah Ustaz Adi Hidayat tentang pembagian harta warisan yang berlangsung di Masjid Al-Ihsan, Bekasi, tidak hanya dinikmati oleh mereka yang hadir secara fisik. Tetapi ada puluhan ribu jamaah gaib lainnya yang bisa menikmati ceramahnya, belajar dan bertanya secara interaktif ke beliau hanya dengan menggunakan perangkat telepon genggam. Makanya tidak berlebihan jika disebutkan telepon genggang jauh lebih keras suaranya dari pada “toa” masjid.

Mengalami pergeseran
Perkembangan teknologi membuat dunia pembelajaran Islam juga mengalami pergeseran yang tidak kalah dahsyatnya seperti industri pakaian dan mainan yang saya sebutkan di atas. Alasan logis adalah jumlah penduduk Indonesia yang saat ini didominasi oleh usia produktif dan kecenderungan mereka terhadap teknologi yang sangat tinggi. Di laporan Tetra Pak Index 2017 terdapat sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia dan hampir setengahnya (sekitar 40%) adalah penggila media sosial (Detik.com, 27/9/2017).

Survey CSIS (Center for Strategic and International Studies) pada Agustus 2017 tentang “Orientasi Sosial, Ekonomi dan Politik Generasi Milenial”, juga menunjukkan bahwa sekitar 54.3% milenial mengaku setiap hari membaca media online (dari total 600 sampel). Data ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya bagi guru, penceramah, dai, ustaz di Indonesia untuk melihat teknologi sebagai satu ruang dakwah yang masif dan strategis, bahkan bisa dijadikan peluang bisnis sambil berdakwah. Karenanya, dibutuhkan strategi dan pendekatan yang berbeda dalam berdakwah di era digital ini.

Dalam kondisi tersebut, para ustaz dituntut untuk berinovasi dan kreatif dalam melakukan aktivitas dakwahnya. Pertama, secara isi dibutuhkan kemampuan untuk menyuguhkan materi-materi yang kontemporer dan sesuai zaman tentunya yang menyejukkan dan solutif. Kedua, ustaz atau teungku dituntut untuk mampu menyampaikan materi-materi yang komplek dengan cara-cara yang kreatif dan sederhana.

Satu kecenderungan melanial di Indonesia adalah tidak suka yang panjang dan menoton. Survei terbaru dari CSIS menunjukkan minat baca-tulis melanial Indonesia sangat rendah (hanya 5.3% untuk menulis dan 0.8% untuk membaca dari total 600 sampel). Kondisi ini menantang para pendidik dan penceramah untuk menyajikan materi panjang dan rumit dalam bentuk yang menarik dan singkat. Misalkan video-video singkat yang menjawab persoalan umat atau melalui infografis yang disajikan secara menarik dan sederhana.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help