Opini

Pengajian Zaman Now

BETAPA pentingnya dunia pembelajaran Islam menyikapi kemajuan teknologi informasi

Pengajian Zaman Now
KH ABDULLAH Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym memberikan tausyiah dalam Dakwah yang digelar Pemko Banda Aceh, Senin (3/7) di Taman Sari (Taman Bustanussalatin) Banda Aceh. 

Sebut saja Ustaz Abdul Somad (UAS) dari Pekan Baru, Riau, yang sedang happening di seantero Indonesia. Padahal jika diperhatikan, UAS jarang tampil di TV, seperti dai-dai kondang lainnya di level Nasional. Ustaz Somad berasal dari daerah yang jauh dari ibu kota, di mana industri media mainstream berpusat. Kesempatan beliau terekspose media, terutama TV lebih kecil karena beliau tinggal di daerah. Namun pada faktanya, hampir semua warganet, terutama yang Muslim mengenal Ustaz Abdul Somad. Jutaan pengguna sosial media mengonsumsi ceramah dan kajian-kajian beliau, bahkan saya yakin tidak sedikit non-Muslim yang juga ikut mendengarkan ceramahnya.

Selain faktor pembawaan beliau yang sederhana dan gayanya yang nyentrik, rahasia sederhana dari ketenaran dan pengaruh beliau di dunia dakwah Nusantara saat ini adalah pelibatan teknologi, yang digarap secara serius untuk berdakwah. UAS memiliki tim media khusus yang selalu siap merekam, mengolah lalu menyebarkannya di sosial media. Tim media UAS mampu meraup uang hingga Rp 50 juta setiap bulannya dari Youtube, karena jumlah pelanggan setianya yang sudah mencapai ratusan ribu (Ustadz Digital, ajp-media.com).

Menjaring banyak target
Satu pendekatan pengajian di zaman now selanjutnya untuk menjaring lebih banyak target dari kalangan melanial adalah gaya pembawaan dan cara penyampaian. Penampilan ustaz yang “gaul” cenderung lebih mudah diterima dan disukai di kalangan pemuda. Satu figur yang tepat dalam konteks ini adalah Ustad Hanan Attaki dari Aceh yang saat ini berdomisili di Bandung. Gayanya yang menggunakan topi kupluk dan celana menjadi satu strategi jitu untuk mendekati kaum melanial. Mungkin terlihat aneh bagi sebagian dai mainstream karena kebiasaannya penceramah berpenampilan serba putih, baju jubah, kain sarung dan peci hitam.

Tidak hanya Ustaz Hanan yang peka dengan perkembangan dunia digital dan pergeseran cara belajar, kanal Youtube AmmarTV bahkan menjadikan perkembangan teknologi sebagai satu peluang bisnis sembari berdakwah. Mereka menyadari bahwa banyak generasi melanial yang senang dengan anak muda yang pandai mengaji dan bersuara indah, seperti Muzammil Hasballah. Tidak heran jika dengan rekaman-rekaman Alquran yang diunggah ke Youtube AmmarTV mampu menghasilkan uang hingga Rp 250 juta/bulan (Ustadz Digital, ajp-media.com).

Nah, saya belum melihat bagaimana teungku, ulama, dan guru-guru di Aceh melihat teknologi sebagai satu ruang dakwah yang strategis dan sakral untuk digarap, apalagi dijadikan peluang menguntungkan secara materi. Padahal dari segi substansi, guru-guru dayah kita di Aceh memiliki pengetahuan agama jauh lebih bagus. Intinya, jika ustaz, teungku, guru ngaji, para penceramah, ulama dan cendikiawan Muslim tidak jeli melihat perubahan ini dan memersiapkan strategi-strategi jitu untuk bersahabat (bukan melawan arus) dengan teknologi, maka hanya masalah waktu, mereka akan ditinggalkan oleh jamaah mereka. Karena pengajian zaman now memang berbeda.

* Muhammad Adam, Konsultan Pendidikan lulusan Flinders University Australia. Putra Seunuddon Aceh Utara. Email: adamyca@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved