SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Syariat Aceh dan Problem Kualitas

ACEH bukanlah belahan dunia tersendiri, ketika palu sekularisme diketuk dan menggema ke suluruh dunia

Syariat Aceh dan Problem Kualitas
SERAMBI/BUDI FATRIA/FILE
Algojo melakukan eksekusi cambuk terhadap pelanggar Syariat Islam di halaman Masjid Syuhada Lamgugob, Banda Aceh, Selasa (31/5/2016). SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Nauval Pally Taran

ACEH bukanlah belahan dunia tersendiri, ketika palu sekularisme diketuk dan menggema ke suluruh dunia melalui kafilah-kafilah dakwahnya. Dalam berbagai tahapan, melalui platform politik maupun intelektual, terus menjalar pada tiap ruang dan zaman. Sebagaimana Indonesia, Aceh terkena erosi kemanusiaan dalam sebuah dunia yang harus memberontak pada kitab suci. Lestarilah ‘sekulariah‘. Sungguh pun seringnya, kita mengadakan klaim kualitas keberislaman lewat berbagai legitimasi sejarah, sekularisme-materialisme itu nyatanya telah jauh menatar hidup kita.

Bagaimana model institusi pendidikan yang menciptakan friksi antara sekolahan umum dan sekolahan agama menjadi cukup adekuat, anasir hukum kolonial, tertib ekonomi kapitalistik yang memantik nafsu materi, beserta kuasa perbankan dan korporasi yang menyertainya, adalah fakta konkret untuk menjelaskan kebersahajaan kita atas warisan sekularisme.

Sekularisme yang menggebu, dengan cukup baik telah merebut area penting di mana kemanusiaan itu dibentuk. Pendidikan kita. Yang menjelma sebagai serangkaian agenda “reproduksi” aktor-aktor intelektual yang terus setia untuk menggerakkan roda komersialisme dan konsumerisme. Demi hari-hari hidup manusia yang taat pada sejenis “iman” baru, bahwa materi dan konsumsi adalah prestasi dan tujuan tertinggi.

Adakah kita secara kolektif menganggap masalah perihal nilai dan sistem yang dibangun sekularisme itu? Agaknya tidak. Kita ini, barangkali mirip sebagaimana yang dikemukakan Teuku Jacob sebagai pengidap syndrome “sakit tak merasa sakit”. Pada sekujur tubuh keberislaman kita menjalar sejumlah problemasi serius, namun tak teridentifikasi oleh nalar kita yang terlanjur rusak dan mendunia.

Inilah problem fundamentalnya. Lalu bagaimana kita, mengonstruksi bangunan megah keberislaman di atas fondasi yang begini rebah? Tentu lucu, membayangkan dan mengharapkan peradaban Islam yang memuliakan, atau syariat yang membahagiakan, di tengah turbulensi keimanan yang sedemikian parah.

Perlawanan hegemonik
Ketika wacana untuk merancang grand design pelaksanaan syariat Islam di Aceh muncul kembali ke permukaan, terpikir bagaimana kita menata pendidikan yang merupakan area tarung pelbagai nilai itu. Ya, pendidikan adalah arena paling strategis untuk menggerakkan perlawanan hegemonik terhadap Barat yang bekerja terus-menerus pada banyak sisi untuk mengatur kemanusiaan kita.

Aceh dalam Indonesia, sebenarnya memiliki dasar yang kuat untuk itu. Konstitusi pendidikan kita, telah meletakkan iman, takwa, dan akhlak mulia sebagai nilai utama yang harus mendasari pendidikan. Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 menyatakan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”

Sayangnya, cita iman, takwa, dan akhlak mulia itu sering hilang menguap pada tataran pelaksanaan pendidikan kita. Sebab, harus menyesuaikan diri dengan etos sekularisme yang sudah cukup lama mengakar mengatur hidup kita. Sekularisme itu sendiri, selalu memberi pesan, bahwa budi atau moral yang baik bisa hadir sendirinya tanpa sokongan agama.

Aceh yang bersyariat, mestilah menyesuaikan orientasi pendidikannya dengan nilai dan cita syariat. Agar mampu membentuk manusia Aceh yang diinsafi oleh iman, takwa, dan akhlak mulia. Dan, pengembanan akan hal ini, bukan saja tanggung jawab lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren atau yang semisal, melainkan tanggung jawab seluruhnya, sebagaimana konstitusi telah mengamanahkannya secara universal.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help