SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Syariat Aceh dan Problem Kualitas

ACEH bukanlah belahan dunia tersendiri, ketika palu sekularisme diketuk dan menggema ke suluruh dunia

Syariat Aceh dan Problem Kualitas
SERAMBI/BUDI FATRIA/FILE
Algojo melakukan eksekusi cambuk terhadap pelanggar Syariat Islam di halaman Masjid Syuhada Lamgugob, Banda Aceh, Selasa (31/5/2016). SERAMBI/BUDI FATRIA 

Pun dalam Islam, menjadi insan bertakwa itu bukan opsional atau alternatif adanya, melainkan suatu kemestian. Maka pendidikan formal sebagai satu “mesin cetak” kemanusiaan yang utama pada zaman now, oleh Aceh harus mampu dihadirkan dalam model-model dan kualitasnya yang dapat membentuk manusia bersyariat. Dari sini, kemudian bolehlah kita menaruh harapan tentang ketakwaan kolektif yang akan membawa rahmat.

Untuk hal itu, maka sejumlah persoalan seperti soal regulasi, harus segera dicari jalan keluarnya. Dalam konsep otonomi daerah kita, urusan pendidikan sebagai urusan pemerintahan yang bersifat konkuren, sebenarnya memberi celah bagi Aceh yang bersyariat untuk mengaktualisasikan nilai pendidikan Islam secara lebih massif dalam kurikulum muatan lokal. Di mana penetapan kurikulum muatan lokal adalah domain urusan pemerintah daerah. Walau itu belum sepenuhnya memadai, namun merupakan satu jalan paling dekat dan tepat untuk saat ini, oleh karenanya perlu disungguhi.

Di dalamnya, Alquran dan Sunnah, serta praktik keberislaman para pendahulu kita yang saleh, perlu dijadikan patron dan model. Alquran dan Sunnah, walaupun dalam sistem hukum Indonesia merupakan sumber hukum materil (meta-yuridis), namun bagi entitas yang telah memilih Islam sebagai pemandu hidup, haruslah menempatkan Alquran dan Sunnah sebagai patron untuk menggapai citanya, dan itu mesti dimulai dari ikhtiar pendidikan.

Dalam hal ini, kita tidak perlu terkurung dalam kerangkeng positivisme hukum. Karena positivisme hukum itu adalah tertib, bukan belenggu. Ia boleh saja ikut menata, namun tidak sesekali untuk menghalangi kita dari jalan menuju cita. Aceh dengan “pilot”-nya kini yang seringkali mampu berpikir menggebrak, mesti pula pandai mencari celah untuk manifestasi kebersyariatannya pada tekstur hukum positif yang sejatinya kerap terbuka.

Nilai-nilai syariat
Dalam pada itu, kita mesti sadar dan menyadarkan bahwa keberpihakan pada nilai-nilai syariat itu, tidak memiliki hubungan kausalitas dengan kemunduran ekonomi. Tidak ada bukti yang relevan dalam sejarah umat, bahwa keberislaman yang benar dan sungguh, akan atau pernah menghambat kemajuan.

Hanya, Islam tidak mengenal materi sebagai tujuan akhir. Dan dalam perannya mendorong kemajuan ekonomi, Islam mengajarkan ukuran kegunaan dan kebutuhan, serta distribusi materi yang adil berimbang. Karena Islam tidak menghendaki keadaan sebagaimana yang umum menjalari kita kini, yang oleh Tibor Scitovsky disebut sebagai, “Kemiskinan di tengah-tengah manusia kaya yang tak berbahagia...” (The Joyless Economy, 1976).

Syariat dan segala yang bertaut dengannya, adalah hikmah dan maslahat, baik maslahat dunia maupun akhirat. Sebagaimana simpul-simpul yang dirumuskan oleh al-Imam Ibnul Qayyim, bahwa “Basis syariat adalah hikmah dan kemaslahatan di dunia dan akhirat. Kemaslahatan ini terletak pada keadilan sempurna, rahmat, kesejahteraan, dan hikmah. Apa saja yang membuat keadilan menjadi kedzaliman, rahmat menjadi kekerasan, kemudahan menjadi kesulitan, dan hikmah menjadi kebodohan, maka hal itu tidak ada kaitannya dengan syariat.” (I`lam Al-Muwaaqi`in).

Bila hari ini keadilan, rahmat, hikmah, dan kesejahteraan tidak menyertai kita, itu karena kita yang belum bergerak di atas basis syariat. Betapapun Islam telah membentuk identitas kita yang mutakhir. Artinya, fakta kuantitas keberislaman, mesti jauh ditransformasikan ke dalam fakta kualitas. Dan lagi-lagi pendidikan, yang merupakan jalan paling masuk akal untuk memulai itu. Inilah tugas jangka panjang kita dalam bersyariat.

Akhirul kalam, syahdan Khalifah Umar yang mulia pernah berpesan, bahwa “kita adalah suatu kaum yang telah dimuliakan oleh Allah azza wa jalla dengan Islam, maka bila kita mencari kemuliaan dengan cara-cara selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita.” (Al-Mustadrak). Ini, adalah pesan mendalam dan amat mengena di tengah hari-hari hidup kita, yang agaknya mulai merasa rendah diri dengan keberislaman. Wallahulmusta`an.

* Nauval Pally Taran, alumnus Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, sehari-hari di Ma‘had As-Sunnah Aceh. Email: nauvalpally@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help