SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Himne ‘Bergek’

MULTIKULTUR dan etnik di Aceh secara realita berjalan komprehensif dan komunikatif

Himne ‘Bergek’
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Ketua Banleg DPRA, Abdullah Saleh dalam konferensi pers tentang sayembara himne Aceh di DPRA 

Oleh Teuku Dadek

MULTIKULTUR dan etnik di Aceh secara realita berjalan komprehensif dan komunikatif. Saya katakan komprehensif karena keterpaduan hubungan antaretnik di Aceh itu memang bukan saja berbeda dalam budaya dan bahasa, namun semua etnik di Aceh terdapat hubungan yang berkelindang dan saling memahami. Bahkan, dalam konflik kemarin bukan hanya mereka yang berbahasa Aceh ikut merasakan sakitnya konflik, tetapi hampir seluruh etnik, bukan hanya merasakan tetapi juga ikut ambil bagian dalam konflik itu.

Buah dari konflik itu telah melahirkan perdamaian dengan berbagai macam kesepakatan, baik dalam bentuk multikultur dan etnik yang mengacu kepada pemenuhan “kerugian” sejarah bangsa Aceh, seperti dana otonomi khusus (dana Otsus) dan berbagai keistimewaan lainnya, sampai kepada kesepakatan-kesepakatan yang hanya mengakomodir kepentingan “orang Aceh” yang berbahasa Aceh, seperti Wali Nanggroe dan terbaru sekarang Himne Aceh yang harus dalam bahasa Aceh.

Bahkan dalam kemerdekaan sebagaimana dikatakan Teuku Kemal Fasya (Serambi, 18/11/2017), etnik Gayo dan Alas sepertinya mendapatkan porsi yang lebih besar lagi “penderitaan sejarah” yang mereka rasakan, seperti pembantaian yang dilakukan Van Daleen (1863-1930) yang menewaskan hampir 400 orang. Anda bisa menyaksikan juga komprehensif ini, misalnya serbuan motif seperti tas dan lain-lain dari Gayo dan Alas menjadi “Aceh” ketika orang luar Aceh melihat motif tersebut, belum lagi Saman yang mendunia.

Membuat kagum
Pengalaman pribadi saya pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) lalu, sungguh membuat saya kagum sekaligus tertawa sendiri. Betapa tidak, satu cabang yang diperlombakan adalah Tari Saman, yang kebetulan dari Aceh Barat diwakili Kecamatan Meureubo yang sebagian besar penduduknya berbahasa Aneuk Jamee. Mereka dipercayakan mewakili Aceh Barat. Panitia telah menetapkan bahwa penilaian Tari Saman, ya sebagaimana Saman yang asli dari Gayo, bahasa sampai kostumnya harus Gayo.

Padahal, Saman Gayo sebenarnya bisa saja dibawakan dengan syair bahasa Aceh, ya tentu bisa karena di Aceh Barat juga punya akar yang kuat terhadap Saman. Kami punya Rapai Saman yang dibawakan dengan gerak seperti Saman Gayo, namun ditambah rapai, tentunya tidak sulit membawakan Tari Saman dengan Syair Aceh yang lebih tajam dan agresif.

Saya bertanya kepada para syeh dan penari apa mereka paham dengan bahasa Gayo yang mereka ucapkan? Tidak, katanya. Namun Aceh Barat menjadi nomor dua dalam lomba tersebut, nomor satunya tentunya tetap dari Aceh Tengah walaupun saya melihat juri yang sebagian besar dari Aceh Tengah itu hanya senyum-senyum ketika syeh kami melantunkan bahasa Gayo itu.

Saya katakan komunikatif karena perbedaan --terutama dalam penggunaan bahasa-- selalu ada “jembatan penghubung” antaretnik, Gayo dengan saya tentunya mengandalkan Bahasa Indonesia, itu saya lakukan bertemu Fikar W Eda. Namun saya juga melihat Fikar bisa paham dengan Bahasa Aceh yang saya ucapkan, termasuk Pak Nova sering saya lihat beliau berbahasa Aceh gaya Indonesia.

Di Simeulue dan Aceh Selatan termasuk di Meulaboh hubungan etnik Aceh dengan non Aceh bukan hanya menggunakan bahasa Melayu, tetapi juga menggunakan pengantar bahasa Aneuk Jamee atau Minang. Saya selalu berkomunikasi dengan para penurut Aneuk Jamee dengan bahasa Aneuk Jamee, walaupun sebagian besar mereka bisa berbahasa Aceh. Yang lebih unik lagi adalah penurut bahasa di Simeulue, di mana bahasa lokal dan daerah mereka yang berbeda menggunakan bahasa pengantar Aneuk Jamee, biasa saya menyebutnya bahasa Baiko.

Mudah menerima
Pernah terpikir oleh saya; mengapa ketika Soempah Pemoeda yang diucapkan dari berbagai etnik itu, orang Jawa begitu mudah menerima bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia? Padahal, penutur orang Jawa begitu ramai, namun pilihan jatuh kepada bahasa Melayu yang minoritas. Bahasa Jawa, saya pikir juga bukan bahasa yang sulit dipahami dan diucapkan, saya selama lima tahun di Yogyakarta mudah berbicara dan mengerti Bahasa Jawa. Tapi bahasa Melayu yang minoritas dipilih para Suku Jawa, Jong Ambon dan lain-lainnya sebagai bahasa kesatuan. Tentunya karena bahasa Melayu mudah dipahami oleh etnik-etnik lainnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help