SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

PGRI Milik Siapa?

HARI ini, 25 November 2017, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) kembali memperingati dan merayakan hari ulang

PGRI Milik Siapa?
SERAMBINEWS.COM/M NASIR YUSUF
Sekjen PB PGRI Kudrat Hidayat, Minggu (14/12/2014) melantik Pengurus PGRI Aceh masa bakti 2014-2019 

Oleh Tabrani Yunis

HARI ini, 25 November 2017, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) kembali memperingati dan merayakan hari ulang tahunnya ke-72. Seperti biasa, selebrasi milad organisasi guru pertama dan terbesar di Nusantara ini, diisi dengan berbagai kegiatan, seperti mengenang jasa guru, acara ziarah, jalan santai, dan mungkin ada acara-acara lomba yang sifatnya just for fun.

Selain itu, karena kita berada di era digital, di mana penggunaan gadget (gawai) sudah semakin lumrah, seperti ada momentum hari-hari besar, kita sudah terbiasa dan membiasakan diri mengirimkan ucapan selamat lewat pesan singkat (SMS), WhatsApp, dan bahkan di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan lain-lain.

Pengiriman ucapan selamat sebagai tanda bahwa kita adalah bangsa yang menghormati dan menghargai guru. Apalagi ketika merayakan hari ulang tahun PGRI itu, sekaligus merayakan Hari Guru Nasional (HGN). Kita doakan PGRI semakin berjaya dan menjadi perekat bagi para guru yang katanya sebagai pemilik organisasi profesi ini. Lalu, seperti apa PGRI pada usia 72 tahun ini?

Melakukan refleksi
Guna menjawab pertanyaan itu, para pengurus PGRI dan guru selayaknya melakukan refleksi, bercermin, melihat kembali apakah visi dan misi organisasi guru yang sudah 72 tahun ini masih sejalan atau relevan dengan kondisi saat ini dan kondisi di masa depan? PGRI memang harus memotret diri, mengajak para guru untuk bercermin, apakah masih sesuai atau tidak, kemajuan apa yang sudah dibuat untuk memajukan pendidikan nasional.

Apalagi dalam konteks kekinian, seiring dengan bermunculan berbagai organisasi guru di luar PGRI yang jumlahnya lumayan banyak itu, dimana guru-guru yang selama ini menjadi anggota PGRI daerah banyak yang ikut bergabung ke organisasi alternatif, seperti Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) dan lain-lain hingga ke Aceh ada yang menamakan Kobar-GB, Asgu-NAD dan lain-lain. Organisasi guru alternatif ini malah selama ini sangat aktif melakukan kegiatan-kegiatan yang responsive terhadap guru.

Dalam konteks Aceh saja, kita melihat bagaimana getolnya Kobar-GB melakukan advokasi terhadap guru-guru di Aceh yang bukan saja menyangkut nasib guru PNS, tetapi juga guru-guru non PNS. Begitu juga dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang terus bergerilya melakukan upaya peningkatan kapasitas guru lewat sejumlah kegiatan yang sangat memberdayakan guru, meningkatkan kapasitas guru lewat program literasi, melatih guru menulis hingga melahir guru-guru penulis buku.

Sementara PGRI menjadi organisasi guru yang semakin tidak kreatif, tidak produktif, dan tidak advokatif terhadap anggotanya. PGRI sepertinya udah masuk pada stadium stagnan, sudah mentok. Mungkin karena sudah merasa mapan, sehingga tidak produktif lagi. Biasanya, kalau sudah enak berada di zona aman, kepedulian, kreativitas dan produktivitas sering mati.

Nah, ketika PGRI tampil semakin gemulai, maka selama ini banyak guru, terutama yang ingin berkembang memilih bergabung ke organisasi guru alternatif tersebut. Bila semakin banyak guru bergabung ke organisasi guru alternative tersebut, pertanyaan kita adalah apakah PGRI masih diperlukan?

Pertanyaan tersebut penting dijawab, karena banyak peran yang seharusnya dilakukan atau dilaksanakan oleh PGRI kini malah dilakukan oleh organisasi guru alternatif, misalnya peningkatan kapasitas guru di bidang menulis, literasi dan lain-lain. PGRI sendiri kelihatan vakum, tanpa ada kegiatan yang memberdayakan anggotanya. Selayaknya pada HUT ke-72 ini PGRI berkaca diri.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help