SerambiIndonesia/

Unsur Budaya dalam H’iem

H’iem adalah suatu ungkapan lisan tradisional sejenis teka-teki yang menggunakan satu atau lebih unsur

Unsur Budaya dalam H’iem

Oleh: Junaidi, S.Pd., M.Pd., Pengajar di Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh

Salah satu sastra lama dalam masyarakat Aceh yang berbentuk lisan adalah h’iem. H’iem adalah suatu ungkapan lisan tradisional sejenis teka-teki yang menggunakan satu atau lebih unsur pelukisan, unsur jawaban, dan kadangkala jawaban tidak disebutkan sehingga harus diterka.

Dalam masyarakat Aceh nilai-nilai h’iem memberikan warna hampir dalam segala aspek kehidupan budaya, salah satunya adalah unsur budaya. Ada beberapa unsur budaya yang digunakan dalam pertanyaan dan jawaban h’iem masyarakat Aceh.

Unsur-unsur budaya tersebut adalah sebagai berikut.
(1) Bahasa istilah
Pemakaian bahasa istilah yang dimaksud di sini adalah pemakaian bahasa Aceh yang tidak diketahui artinya secara leksikal. Bahasa istilah sengaja dipilih oleh pencipta h’iem untuk menciptakan kreasi dalam h’iem yang diciptanya. Selain itu, pemilihan bahasa istilah tersebut dipakai akibat tidak ada pilihan bahasa yang tepat, sehingga bahasa yang digunakan sulit dipahami, bahkan oleh masyarakat Aceh sendiri.

Namun, di balik semua alasan tersebut, sesungguhnya pencipta h’iem dalam hal ini sering memunculkan unsur budaya berupa bahasa istilah yang bertujuan untuk memperlihatkan kekayaan bahasa daerah di Aceh. Pemakaian bahasa istilah tersebut terdapat pada data-data h’iem yang sebagiannya penulis kutip dari Laporan Penelitian yang ditulis Wildan, dkk. (2000) berikut ini.
(1) U siculék meudék u Aceh (Buleun)
(2) H’iem h’op Sak bakông idông reuh’ob (Boh jambèe)
(3) Geusak ijô jiteubiet mirah Lailah kucok-kucok ‘Oh akhé jiteubiet ie mirah (Pajôh ranueb)
(4) Tum keutam-keutem Kön su geulanteu, kön su pageu ‘Oh ban kuteupeu ka ie raya Meunyo jeut tapeuglah aréh that gata (Peuneurah) Bahasa istilah yang terdapat dalam h’iemh’iem di atas tidak dapat diartikan secara leksikal maknanya. Misalnya, penggunaan bahasa istilah meudék dan h’iem-h’op dipakai hanya sebagai bentuk padanan kata yang bertujuan memperindah lirik h’iem. Selanjutnya lailah kucokkucok dan tum keutam-keutem merupakan bahasa istilah yang dipilih hanya untuk menyepadankan bunyi lirik h’iem.

(2) Peralatan atau benda tradisional
Peralatan atau benda tradisional yang terdapat dalam h’iem pada masyarakat Aceh adalah sebagai berikut.
(5) Saboh bubèe japjih tujôh Eungkôt hantom roh si umu donya (Ureung sembahyang)
(6) Malam jeut keu raja Uroe jeut keu beulaga (Panyöt)
(7) Bulat ubé boh leupieng Keumang ubé peureudèe trieng (Jeu)
(8) Kulét-kulét paroe Lam kulét na asoe Lam asoe na baluem Lam baluem na aneuk gandoe (Aneuk boh panah) Benda-benda tradisional yang terdapat dalam h’iem di atas adalah benda tradisional sebagai sistem peralatan hidup yang digunakan oleh masyarakat Aceh. Peralatan atau benda tersebut seperti bubèe, perangkap ikan tradisional yang terbuat dari rangkaian bambu dan ditempatkan pada alur, rawa atau payau. Kemudian panyöt ‘teplok’, benda bersumbu dan diisi minyak untuk alat atau lampu penerang. Jeu, jaring atau jala untuk menangkap ikan. Adapun gandoe, alat tradisional untuk berburu atau penghalau binatang yang dianggap hama.

(3) Makanan atau cemilan tradisional
Makanan atau cemilan tradisional yang terdapat dalam h’iem pada masyarakat Aceh adalah sebagai berikut.
(9) H’iem h’ob Sak bakông idông reuh’ob (Boh jambèe)
(10) Teungku gampông Lhang Muka prok punggông itam (Apam)
(11) Geusak ijô geusueut mirah Polem Dolah keuprop-keuprop (Ureung pajôh ranueb)
(12) ‘Èt noe èt Gigieng Beukah eumpang rô eumpieng (Manyam pineung/manyam u) Makanan atau cemilan yang terdapat dalam pertanyaan dan jawaban h’iem di atas semuanya merupakan makanan atau cemilan tradisional yang dikonsumsi oleh masyarakat Aceh.

Makanan atau cemilan tradisional tersebut seperti bakông, tembakau yang umumnya dimasukkan para orang tua di antara gusi dan gigi sebagai salah satu jenis candu orang Aceh. Apam, kuliner tradisional yang terbuat dari tepung, berbentuk bulat, biasanya dimakan dengan kuah bersantan. Ranueb, cemilan komposisi daun sirih, pinang, dan kapur, lalu dikunyah untuk dihisap airnya. Eumpieng, makanan tradisional yang berbentuk pipih dan kering sejenis Quarker.

(4) Tempat tinggal dan bangunan penting
Tempat tinggal dan bangunan sakral yang merupakan sistem peralatan hidup sebagai unsurunsur kebudayaan dapat ditemukan pada h’iem masyarakat Aceh berikut ini.
(13) Teungku Syiah geuwoe di Mekkah Sayeup dua gaki geuh namblah (Rumoh Aceh)
(14)Rumoh jambô pintô beusoe Teubuka pintô teukeujôt putroe (Abô)
(15) Na saboh rumoh warna jih putéh Kama dua pintô meulapéh (Mata u)
(16) Seumeujid Kayee Panyang Pintô lhèe buka saboh (Alquran) Bangunan-bangunan yang terdapat dalam h’iem di atas merupakan bangunan penting yang digunakan masyarakat Aceh sebagai tempat tinggal atau beraktivitas. Bangunan itu seperti rumoh, rumoh Aceh, atau rumoh jambô.

Adapun Seumeujid adalah bangunan sakral masyarakat tersebut untuk melaksanakan ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Adanya bermacam-macam unsur budaya yang terdapat dalam h’iem pada masyarakat Aceh hendaknya menyadarkan kita bahwa selama ini kita luput dan seakan lupa pada kekayaan budaya yang kita miliki. Sudah saatnya kita mengenalkan kepada anak cucu kita bahwa unsur-unsur budaya tersebut patut dilestarikan bersama sastra lisan h’iem.

Mengingat pengaruh perkembangan zaman, bukan tidak mungkin unsur-unsur budaya yang terdapat dalam h’iem berangsur-angsur akan punah dan tidak dikenal lagi dalam tatanan kehidupan masyarakat Aceh. Upaya pelestarian tersebut salah satunya dapat diwujudkan melalui penyampaian h’iem-h’iem yang berisi unsur budaya tersebut oleh orang tua kepada anaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help