SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Problema Guru Zaman Now

PERAN guru dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) belum bisa dinafikan

Problema Guru Zaman Now
SERAMBi/SAIFUL BAHRI
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Lhokseumawe, Drs Rusli MM, menyerahkan penghargaan pada para guru di sela-sela upacara HUT ke-71 PGRI dan Hari Guru Nasional di Lapangan Hiraq Lhokseumawe, Jumat (25/11). SERAMBi/SAIFUL BAHRI 

Oleh Sadri Ondang Jaya

PERAN guru dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) belum bisa dinafikan. Malah, guru merupakan komponen yang penting dan strategis di zaman now ini. Keberadaan guru merupakan faktor condisio sine quanon. Tidak mungkin digantikan oleh komponen manapun. SDM yang berkualitas, tidak akan pernah tercipta dengan ucapan bimsalabim adakadabra. Tetapi, mereka lahir dari proses pendidikan yang diracik oleh guru. Ini sesuatu yang niscaya dan tak terbantah lagi.

Oleh sebab itu, sepatutnya guru diberi ruang seluas-luasnya dan motivasi sebesar-besarnya agar guru-guru tadi terus berkarya, berkreasi, dan berinovasi. Pendeknya, mereka selalu berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara, terutama peserta didik.

Sudah jamak diketahui, tugas dan fungsi guru di samping mentranfer ilmu pengetahuan. Guru juga, harus membina, melatih, mendidik, dan membimbing peserta didik. Tak kalah pentingnya, guru mesti pula melakukan penelitian (riset) dan pengabdian pada masyarakat.

Untuk itu semua, guru sebagai tenaga profesional, harus merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar dalam kelas, menilai hasil pembelajaran peserta didik, dan melakukan follow up, serta remedial teaching. Bahkan, guru berperan pula menyelesaikan “sengketa” siswa jika ada.

Untuk menjalankan tugas guru yang “mahaberat” itu, guru harus menjadi “manusia ajaib”, yaitu senantiasa mengembangkan diri dan selalu memperbarui kompetensinya. Baik itu, kompetensi pedagogik dan sosial maupun kompetensi profesional. Sehingga guru tadi, menjadi guru yang pintar dan mumpuni. Jika guru tidak pintar secara pedagogik, guru tidak bisa dan tidak mampu melaksanakan proses didaktik dan metodik di ruang kelas.

Dalam artian, ia tak cakap mengajar, tidak piawai memilih strategi dan metode serta mengemas konten pembelajaran dengan baik, menguasai ruang kelas, dan tidak bisa mentransfer ilmu. Alias guru tadi akan keteter dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Malah lambat laun berubah menjadi “mumi” yang bergerak di zaman now.

Melek literasi
Untuk menjadi guru-guru pintar nan ajaib yang mampu mengemban tugas di zaman now dan bisa memenuhi dahaga tuntutan zaman, serta melahirkan siswa yang bisa diserap dunia kerja, guru harus selalu iqra’ (membaca) atau melek literasi. Banyak orang-orang hebat di dunia ini, karena mereka menggemari literasi. Bila kita baca biografi orang-orang hebat, politisi, negarawan, ekonom, teknokrat, dan orang-orang berilmu, tak satu pun dari mereka yang tak cinta literasi.

Bagaimana mungkin guru bisa pintar dan melahirkan siswa yang pintar, jika ia tidak rajin membaca, meneliti, dan menulis, serta cinta buku. Karena semua itu, merupakan kunci untuk menyingkap simpul-simpul ilmu pengetahuan. Berkaitan dengan ini, ada kalimat bijak yang mengatakan, “Lima tahun lagi guru akan sama seperti sekarang, kecuali ada dua hal; dengan siapa guru itu bergaul dan buku apa yang dibaca dan ditulisnya.”

Sudah masanya, budaya literasi: membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi tradisi keilmuan di sekolah. Di samping itu juga, guru harus menjadikan sekolah sebagai research and development program. Program sekolah yang diarahkan pada penciptaan sebagai lembaga riset. Dan guru harus menjadi pionir dan pelopornya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help