SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Respek terhadap Guru

SETIAP negara menyadari betapa pentingnya peran guru di dalam kehidupan berbangsa

Respek terhadap Guru
Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud ST, didampingi Kepala Dinas Pendidikan Pidie, Murthalamuddin, menyerahkan penghargaan kepada guru berprestasi pada HUT PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) di lapangan kompleks pelajar Tijue, Sabtu (26/11) . SERAMBI/M NAZAR 

Oleh Lailatussaadah

SETIAP negara menyadari betapa pentingnya peran guru di dalam kehidupan berbangsa. Karena itu, semua negara mendedikasikan hari tertentu sebagai apresiasi terhadap jasa guru. Amerika Serikat, misalnya, merayakan hari guru pada minggu pertama di setiap bulan Mei. Tiongkok melakukannya pada 10 September, Singapura pada 1 September, Vietnam pada 20 November, Australia pada hari Jumat terakhir bulan Oktober. Sedangkan Indonesia menjadikan 25 November sebagai Hari Guru Nasional yang bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Masing-masing negara memiliki momen dan cara sendiri-sendiri dalam merayakan hari guru. Pada hari sakral guru sebagian negara menjadikannya sebagai hari libur sekolah secara Nasional, sebagian lainnya tidak. Misalnya, Singapura meliburkan sekolah secara Nasional, namun mengadakan serangkaian acara peringatan hari guru sehari sebelumnya dan memulangkan siswa sekolah lebih cepat dari biasanya. Vietnam meliburkan sekolah-sekolah dan menjadikan hari itu sebagai hari kunjungan ke rumah-rumah guru dan mantan guru. Sedangkan Indonesia tidak meliburkan sekolah secara Nasional (namun, kebijakan ini berbeda di masing-masing pemerintah kabupaten/kota) dan merayakan hari guru dengan upacara di lapangan tertentu dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada beberapa guru. Setelah itu, selesailah acara.

Jika melihat jasa guru terhadap anak bangsa, rasanya sulit diterima akal bahwa respek terhadap guru hanya sekadar upacara dan pemberian penghargaan yang hanya diterima oleh beberapa guru. Sedangkan guru-guru lain hanya menerima peluh upacara dan menyaksikan kebahagiaan satu dua orang teman mereka yang dianggap berprestasi. Padahal, hari guru sebenarnya harus menjadi momen bahagia bagi semua guru, tidak terkecuali untuk guru yang dianggap tidak berprestasi, guru KW atau bukan KW. Sebab, semua guru merupakan bagian penting dari proyek mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat undang-undang.

Oleh sebab itu, dalam konteks Aceh diperlukan tradisi-tradisi baru dalam merayakan hari guru yang melampaui dua tradisi di atas. Hal ini dilakukan sebagai bentuk reapresiasi terhadap jasa semua guru yang telah bekerja keras dalam mencerdaskan anak bangsa, yang dewasa ini semakin tampak kehilangan wibawa di mata masyarakat (orang tua) dan pengamat. Guru seringkali disorot sebagai biang kerok bobroknya peringkat pendidikan Aceh dalam skala nasional, begitu juga halnya dengan kasus-kasus kekerasan yang terjadi di beberapa sekolah di Aceh. Padahal, dua persoalan tersebut (kualitas pendidikan dan kekerasan) bukan kesalahan tunggal guru, namun berkelindan dengan berbagai unsur terkait lainnya.

Belajar dari Vietnam
Tradisi baru yang mungkin diadopsi oleh Aceh sebagai bentuk respect terhadap guru adalah apa yang dilakukan Vietnam, di mana mereka menjadikan Hari Guru sebagai hari libur Nasional yang dimanfaatkan untuk mengunjungi guru dan mantan guru (meskipun kita menolak menggunakan istilah mantan guru). Tradisi ini bagus bukan hanya untuk mewujudkan sikap respek terhadap guru, melainkan untuk menjalin harmoni antara masyarakat dan guru mereka, orang tua siswa dan guru, pejabat dan mantan gurunya, dan sebagainya.

Hal ini juga akan menjalin persaudaraan yang kuat antara guru, murid, masyarakat, bahkan stakeholder pendidikan, sehingga akan saling respek antara satu sama yang lain dan akan menghilangkan kekerasan struktural terhadap guru.

Apalagi jika ditilik lebih lanjut, kebiasaan mengunjungi guru tidak asing dalam masyarakat Aceh. Hanya saja, kegiatan tersebut biasanya dilakukan pada dua hari raya, sehingga tidak khas sebagai penghargaan untuk guru. Oleh sebab itu, saya meyakini tradisi ini akan mengandung makna yang lebih mendalam bagi guru seandainya juga dilakukan pada hari guru. Secara psikologis, guru akan merasa dihargai oleh semua murid yang pernah mereka ajarkan.

Selain itu, silaturrahim dengan guru di Hari Guru Nasional merupakan bentuk aktualisasi pesan tetua di Aceh tempo doeloe yang sering dinyanyikan orang tua ketika men-do-da-idi-kan anaknya dalam ayunan. “....ayah ngon poma, keu lhe ngon guree, ureung nyan ban lhe mubek ta dhot-dhot. Meunyou na salah meu’ah ta lakee beu miyup ulee, ta com bak tuot.”

Menghargai guru tidak harus dengan hadiah sebagaimana fenomena yang terjadi belakangan ini yaitu para murid dan orang tua terlihat sibuk memilih kado untuk gurunya yang akan diberikan di Hari Guru, atau dengan membawa guru piknik ke luar negeri seperti yang dilakukan seorang mantan murid yang heboh beberapa waktu lalu, sebab hal ini merupakan hadiah yang amat langka. Tapi bersilaturrahim ke rumah-rumah guru dan mantan guru baik guru dari lembaga pendidikan formal maupun non formal di hari guru merupakan respect yang tidak ternilai harganya. Orang Vietnam yang non muslim saja melakukan hal ini, mengapa kita yang bersyariat tidak? Semoga ilmu yang telah diberikan oleh guru menjadi ilmu yang bermanfaat. Ayo respek, selamat Hari Guru!

* Lailatussaadah, Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Peneliti Center For Area Studies (CFAS), dan Pengurus Yayasan UMMI Gampong Aree, Pidie. Email: lailamnur27@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help