Salam

Waspadalah, Kejahatan Seks terhadap Anak Kian Tinggi

ACEH sepertinya bukan lagi provinsi yang ramah dan aman bagi anak. Terutama dalam kaitannya dengan kejahatan seksual

Waspadalah, Kejahatan Seks terhadap Anak Kian Tinggi
SERAMBINEWS.COM/JAFARUDDIN
DPO kasus pelecehan seksual anak di bawah umur 

ACEH sepertinya bukan lagi provinsi yang ramah dan aman bagi anak. Terutama dalam kaitannya dengan kejahatan seksual yang menyasar anak-anak. Dalam tahun ini saja hingga bulan September Kepolisian Daerah (Polda) Aceh sudah menangani 389 kasus kejahatan seksual terhadap anak. Dari jumlah tersebut, 30 persen pelakunya merupakan orang terdekat anak, yaitu ayah, ibu, paman, dan sepupu. Sedangkan 60 persen lagi dilakukan oleh pengasuh anak dan tetangga, dan 10 persen merupakan orang asing yang tidak dikenal korban.

Jumlah kasus kejahatan seksual terhadap anak bisa jadi lebih banyak daripada angka 389 itu, namun ada juga yang tidak dilaporkan ke polisi karena pihak keluarga menganggapnya aib.

Angka yang memprihatinkan itu diungkapkan Kepala Unit I (Perlindungan Perempuan dan Anak) Subdit IV Ditreskrimum Polda Aceh, Kompol Elfiana SH saat menjadi narasumber pada Seminar “Perlindungan Anak terhadap Kejahatan Seksual dalam Keluarga, Sekolah, dan Lingkungan”, di Keude Kupi Aceh, Banda Aceh, Sabtu (25/11). Sebagaimana diberitakan Serambi Indonesia kemarin, Kompol Elfiana menilai, kondisi yang terjadi di Aceh saat ini sangat parah dan darurat. Kebanyakan anak usia sekolah menjadi korban oleh pelaku yang notabene orang terdekatnya.

Apa yang diungkapkan Kompol Elfiana itu sangatlah menyentak nurani kita dan seharusnya membuat kita, para orang tua, semakin waspada bahwa perundungan seks terhadap anak di Aceh ternyata paling banyak terjadi dalam lingkup domestik, di tempat ayah, abang, paman, atau pembantu serta pengasuh anak (pramusiwi) berada. Tetangga pun menjadi ancaman potensial dalam kasus-kasus kejahatan seks terhadap anak.

Oleh karenanya, kepedulian orang tua terhadap anak-anaknya harus ditingkatkan dan tak boleh lengah. Di saat kita lengah, pada saat itulah kejahatan seksual sangat mungkin terjadi. Apakah itu dalam bentuk perkosaan, sodomi, pencabulan, atau perbuatan asusila lainnya.

Orang tua pun harus memberikan sex education yang sehat dan pantas secara berkala kepada sang anak agar mereka memahami secara baik tentang kemungkinan bahwa ia bisa menjadi sasaran kejahatan seksual di mana pun berada. Termasuk, misalnya, mengajarkan anak tentang zona tertentu di tubuhnya yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun. Empat area itu adalah bibir, dada, bokong, dan kemaluan anak, seperti direkomendasikan Kompol Elfiana.

Menjadi kewajiban orang tua pula untuk menanamkan bekal iman dan takwa kepada anak-anaknya agar mereka takut dosa dan semakin menghargai orang lain, menyayangi anak-anak, dan tidak melakukan kejahatan serta seks menyimpang terhadap orang lain, terutama anak-anak yang seharusnya ia lindungi dan sayangi.

Menjadi sangat penting pula bagi orang tua untuk menjadi teman aktif bagi anak di dunia maya. Awasi aktivitasnya, mengingat sangat sering terjadi kasus pelecehan seksual justru bermula dari perkenalan dan percakapan antara pelaku dengan korbannya di jejaring sosial.

Orang tua pun jangan mendiamkan kasus-kasus perundungan seks hanya karena takut aib keluarga atau aib tetangga terbongkar. Orang tua harus menjadi pelopor untuk melaporkan kasus-kasus jenis ini ke polisi agar pelakunya segera ditindak sehingga ia tidak mengulangi tindakan serupa terhadap korban maupun orang lain. Dengan dilapor ke pihak berwajib, dapat disegerakan trauma healing terhadap korban dan tindakan hukum yang pantas terhadap pelaku.

Akhirnya, kepedulian di kalangan orang tua harus terus dipupuk untuk menyadari bahwa anak merupakan golongan yang rentan terhadap pelecehan seksual. Jangan lengah dan jangan biarkan mereka sendirian menghadapi tantangan zaman bersama realitasnya bahwa kejahatan seksual terhadap anak bisa terjadi di mana saja. Di rumah, sekolah, dayah, bahkan di tempat pengajian. Orang jahat tetap saja ada, bahkan makin ramai. Tugas kitalah membekali anak-anak kita agar waspada terhadap orang jahat dan kita juga harus menahan diri jangan justru menjadi “predator” terhadap anak orang lain, apalagi anak sendiri. Sebarlah nilai-nilai kebaikan, bukan keburukan agar Aceh menjadi provinsi yang ramah dan aman bagi anak.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved