SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Menaklukkan Zona Nyaman Guru

GURU merupakan garda terdepan dalam dunia pendidikan. Baik dan buruknya pendidikan sangat dipengaruhi

Menaklukkan Zona Nyaman Guru
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Wakil Bupati Abdya, Muslizar MT dan anggota Forkopimda menyalami satu persatu guru usai upacara Hari Guru Nasional dan HUT ke-72 PGRI di lapangan upacara depan kantor bupati, Senin (27/11/2017). 

Oleh Jon Darmawan

GURU merupakan garda terdepan dalam dunia pendidikan. Baik dan buruknya pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas guru. Begitu vitalnya keberadaan guru membuat Kaisar Jepang lebih memprihatinkan kekurangan guru dibandingkan yang lain pasca tragedi bom Hiroshima dan Nagasaki pada 1945. Namun demikian saat ini banyak guru yang terjebak dalam zona nyaman. Terlalu lama terkungkung dalam zona nyaman sangat merugikan guru, siswa, sekolah, dan bahkan dunia pendidikan. Kondisi ini menyebabkan kualitas pendidikan menjadi stagnan atau bahkan menurun.

Oleh karena itu, zona nyaman ini perlu ditaklukkan. Zona nyaman merupakan zona dimana seseorang merasa sudah mencapai apa yang dicita-citakan. Zona ini sangat disukai karena tidak banyak tantangan yang dihadapi. Hal ini disebabkan karena masih banyak orang yang tidak menyukai tantangan. Banyak orang bertahan dalam zona nyaman meskipun menjenuhkan. Mereka tidak mau melakukan gebrakan-gebrakan baru yang bersifat kreatif dan inovatif. Orang yang sudah berada pada zona nyaman cenderung mengisolasikan diri, sehingga tidak mau keluar dari zona tersebut. Dengan kata lain, orang tersebut terperangkap dalam kenyamanan diri karena sudah puas dengan apa yang telah dicapai.

Demikian juga dengan guru. Guru yang terperangkap dalam zona nyaman tidak mau mengeksitasikan diri guna peningkatan kompetensi. Polarisasi pendidikan yang berinterferensi dengan perkembangan teknologi seolah menjadi sesuatu yang sangat ditakuti. Padahal Kurikulum 2013 sangat dianjurkan untuk pemanfaatan teknologi dalam penerapannya. Guru seperti ini cenderung berdiam diri meskipun kualitas layanan pendidikan di sekolahnya menurun. Upaya pengembangan kompetensi tidak dihiraukan, kecuali sudah dipaksa oleh atasan. Padahal sudah banyak teman-teman yang mengajak untuk mengembangkan diri. Termasuk regulasi penggunaan tunjangan profesi yang diterimanya, di mana harus menyisihkan sebagian kecil untuk pengembangan kompetensi guru tidak digubris.

Banyak guru yang peduli terhadap peningkatan kualitas pendidikan berupaya mengajak guru lain untuk menaklukkan zona nyaman ini. Meskipun banyak tantangan tetapi upaya itu terus dilakukan. Terlebih lagi guru yang memiliki wadah untuk menaklukkan zona nyaman tersebut. Wadah yang digunakan umumnya merupakan organisasi profesi guru yang peduli dengan upaya peningkatan kompetensi guru. Hal ini sesuai dengan perintah Uu No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam UU ini dijelaskan bahwa setiap guru wajib menjadi anggota profesi guru yang bersifat meningkatkan kompetensi. Ini tentunya bisa menjadi satu jalan bagi guru untuk keluar dari zona nyaman untuk sama-sama meningkatkan kompetensi.

Kondisi zona nyaman
Sebelum menguraikan lebih lanjut bagaimana cara menaklukkan zona nyaman ini, perlu diketahui kondisi yang bagaimana yang menyebabkan munculnya zona nyaman. Hal ini berdasarkan observasi yang penulis lakukan terhadap beberapa guru yang masuk dalam zona nyaman, yaitu: Pertama, wawasan statis. Penyebab wawasan statis karena banyak guru yang merasa sudah cukup dengan wawasan yang diperoleh ketika kuliah dulu. Umumnya didominasi oleh guru senior dari segi usia. Mereka menyadari memiliki wawasan statis, tetapi tidak ada upaya yang dilakukan oleh guru tersebut untuk hijrah dari kondisi wawasan statis ke wawasan dinamis.

Kedua, tidak kreatif dan inovatif. Kreatif dan inovatif seharusnya dimiliki guru. Terlebih dalam merekayasa pembelajaran, kreatif dan inovatif sangat dituntut. Dengan demikian pembelajaran tidak monoton dan membosankan. Tetapi masih banyak guru yang mengabaikan kreatifitas dan inovasi dalam pembelajaran. Padahal banyak akses meningkatkan pembelajaran kreatif dan inovatif. Bahkan pemerintah mengadakan kompetisi kreatifitas dan inovasi guru dalam pembelajaran.

Ketiga, gagap teknologi (gaptek). Saat ini kita memasuki zaman milenium. Teknologi sudah memasuki hampir semua lini kehidupan termasuk dunia pendidikan. Perkembangan teknologi pembelajaran yang demikian pesat seharusnya mempermudah aktivitas guru. Masih banyak guru yang gagap teknologi dan bahkan sangat alergi dengan teknologi. Berbagai alasan diungkapkan ketika kita menawarkan penggunaan teknologi dalam pembelajaran.

Keempat, acuh terhadap siswa. Acuh terhadap siswa dalam hal ini bukan berarti tidak mau melaksanakan pembelajaran. Akan tetapi banyak guru yang justru hanya melaksanakan tugas mengajar saja, sementara tugas mendidik diabaikan. Banyak guru terutama yang sudah memiliki sertifikat sertifikasi, namun jam mengajar di tempat tugasnya tidak cukup terpaksa harus mencari jam mengajar di sekolah lain. Kondisi ini menyebabkan konsentrasi guru terganggu. Terkadang guru harus “mengemis jam mengajar” ke sekolah lain demi TPG. Hal ini disebabkan oleh regulasi TPG sedikit lebih rumit.

Beberapa kerugian
Berada dalam zona nyaman belum tentu akan baik-baik saja. Ada beberapa kerugian yang dialami guru, jika tetap memilih berada zona nyaman. Kerugian tersebut penulis rangkum dari pendapat Rohmah Rainie Young sbb: Pertama, tidak ada kemajuan yang dicapai. Orang yang berada di zona nyaman selamanya akan tetap ajeg. Tak ada kemajuan yang ia peroleh. Hidupnya hanya diisi dengan upaya menghindari tantangan-tantangan yang ada, sehingga setiap saat ia merasa takut jika ada tantangan baru yang harus ia lalui. Guru seperti ini menyebabkan kualitas pendidikan cenderung stagnan. Tidak ada kemajuan terhadap kompetensinya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help