SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Menjadi Guru Hebat

BERDASARKAN hasil diskusi penulis dengan Kepala SD Muhammadiyah 7 Bandung, beberapa pekan lalu

Menjadi Guru Hebat
SERAMBINEWS.COM/RIZWAN
Kepala SMPN 3 Meulaboh, Aceh Barat, Cut Dandalina bersalaman dengan siswa pada peringatan hari guru di sekolah itu, Sabtu (25/11/2017). 

Oleh Nurhasanah

BERDASARKAN hasil diskusi penulis dengan Kepala SD Muhammadiyah 7 Bandung, beberapa pekan lalu, bisa disimpulkan bahwa profesi guru merupakan profesi yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Juara II Kepala Sekolah Berprestasi tingkat Nasional 2017 itu memaparkan, guru adalah satu profesi yang langsung dicontohkan oleh Allah Swt di hadapan para malaikat, sebagaimana firman-Nya, “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman: Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar.” (QS. al-Baqarah: 31).

Oleh sebab itu, berbahagialah bagi siapa saja yang sedang mengemban amanah sebagai guru. Posisi guru juga mendapat tempat yang sangat mulia di dalam agama. Ilmu bermanfaat yang telah disampaikan oleh seorang guru kepada peserta didiknya dapat menjadi investasi amal yang kekal hingga hari kebangkitan nanti. Sehingga, semakin banyak ilmu yang ditransfer kepada peserta didik, maka semakin besar pula pertolongan yang didapat di hari kemudian kelak.

Terlebih lagi, jika sang peserta didik turut menurunkan ilmu yang telah ia dapatkan dari sang guru kepada orang lain atau kepada anak dan cucunya kelak. Sungguh, ilmu bermanfaat ini akan menjadi investasi yang tidak dapat dibayangkan lagi bagaimana banyaknya. Inilah kemuliaan seorang guru yang tidak bisa dibayar oleh rupiah, baik itu guru PNS maupun guru non PNS.

Keteladanan guru
Untuk menjadi guru yang hebat di tengah pesatnya informasi beserta tantangannya saat ini, seorang guru harus mampu dan siap menjadi contoh atau model yang baik bagi para peserta didiknya. Guru merupakan sosok yang hampir setiap hari dijumpai oleh para peserta didik, sehingga guru memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter siswa-siswi yang bersekolah. Di kancah pendagogik saat ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menawarkan nilai Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai solusi untuk menyiapkan Generasi Emas 2045 yang memiliki kecakapan abad 21.

Kemendikbud juga memaparkan bahwa dengan menempatkan kembali karakter sebagai ruh pendidikan di Indonesia, berdampingan dengan intelektualitas, PPK berperan dalam pembentukan generasi muda yang tangguh, cerdas, dan berkarakter. Isu PPK ini semakin hangat ketika Presiden Joko Widodo pada September lalu, telah resmi menandatangani Perpres mengenai PPK yang terdaftar sebagai Perpres Nomor 87 Tahun 2017.

Adapun beberapa nilai karakter yang diutamakan di dalam PPK adalah religius, nasionalis, gotong royong, mandiri, dan integritas. Oleh karena itu, seseorang yang mempunyai profesi guru dituntut untuk mempunyai karakter-karakter yang bersifat positif, sehingga dapat menjadi penggerak utama dan menjadi teladan dalam pembentukan karakter para peserta didiknya.

“Keteladanan seorang guru lebih luar biasa nilainya jika dibandingkan dengan kegiatan mengajar yang dilakukan berjam-jam”. Pernyataan ini disampaikan oleh Bapak Marwan SAg, Kasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pada pembukaan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Diseminasi PPK yang dilaksanakan di SD Teuku Nyak Arif Fatih Bilingual School pekan lalu. Dapat dikatakan bahwa jika seorang guru telah berhasil menjadi panutan yang baik bagi anak didiknya di era informasi ini, maka ia telah berhasil menjadi guru yang hebat.

Pada 2016 lalu, sekolah komprehensif di Finlandia menerapkan kurikulum inti Finlandia terbaru, di mana kebahagiaan diberi tempat utama sebagai suatu konsep pembelajaran (Teach Like Finland, Timothy D. Walker, hal. 189). Dapat disimpulkan bahwa di dalam kurikulum kebahagiaan ini, guru diharapkan mampu mengarahkan dan membuat anak didiknya untuk mencintai pengetahuan, bukan memaksa anak untuk menerima semua materi yang terdapat dalam kompetensi pembelajaran dengan cara yang tergesa-gesa.

Untuk melaksanakan kurikulum ini, guru harus sadar bahwa ia akan memainkan beberapa peranan di kelas. Guru harus mampu turut serta melakoni peran sebagai teman, psikiater dan motivator, bagi para peserta didiknya di kelas. Dengan demikian, guru akan mampu mengarahkan anak-anak yang mempunyai keragaman karakter, fisik maupun mental, untuk senantiasa merasa bahagia dalam belajar dan mencintai ilmu pengetahuan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help