SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

‘Aceh Teuga’ atau Hura-hura?

TURNAMEN Sepakbola Internasional Aceh World Solidarity Cup yang akan digelar pada 1-6 Desember 2017 di Stadion

‘Aceh Teuga’ atau Hura-hura?
SEKJEN PSSI, Ratu Tisha Destria didampingi Pembina turnamen sepak bola Aceh World Solidarity Cup (AWSC), HM Zaini Yusuf memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor PSSI, Kuningan, Jakarta Selatan, sore kemarin. 

Oleh Muharril Al Aqshar

TURNAMEN Sepakbola Internasional Aceh World Solidarity Cup yang akan digelar pada 1-6 Desember 2017 di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Aceh. Masalahnya bukan pada pelaksanaan even dimaksud, akan tetapi lebih kepada porsi anggarannya.

Menurut ketua panitia pelaksanaan Aceh World Solidarity Cup --awalnya bernama Aceh Tsunami Cup-- even ini membutuhkan dana sekitar Rp 7 miliar, sedangkan Pemerintah Aceh hanya mengalokasikan Rp 2,5 miliar dalam APBA-P 2017 ini. Besarnya total anggaran yang dibutuhkan membuat panitia pelaksana harus mencari sumber-sumber lain untuk menutupinya, di antaranya melalui penjualan tiket.

Besarnya anggaran yang dibutuhkan inilah yang penulis pertanyakan; apakah even ini sebagai manifestasi dari program Gubernur Aceh, yaitu Aceh Teuga atau hanya hura-hura?

Besarnya estimasi anggaran oleh panitia, yakni hampir mencapai angka Rp 7 miliar. Jika uang tersebut digunakan untuk biasiswa atau santunan anak yatim, maka berapa mahasiswa yang bisa kita kuliahkan dan berapa anak yatim yang bisa kita santuni? Jika uang tersebut untuk membangun rumah dhuafa, berapa banyak rumah dhuafa yang bisa dibangun? Walaupun hanya sebesar kurang lebih 35% uang APBA-P 2017 untuk event tersebut, akan tetapi jumlahnya sangat besar.

Di saat pemerintah kabupaten/kota sedang mengalami defisit anggaran, sedangkan pemerintah provinsi dengan anggaran berlimpah mengingat dana otsus kembali dikelola pemerintah provinsi. Anggaran berlimpah tersebut harus digunakan dengan skala prioritas untuk pembangunan daerah yang lebih baik, bukan untuk hura-hura. Termasuk pertimbangan penganggaran dalam pelaksanaan Aceh World Solidarity Cup tersebut.

Tak bebani masyarakat
Seharusnya panitia pelaksana dan Pemerintah Aceh tidak boleh lagi membebankannya pada masyarakat melalui tiket sebagaimana yang dikatakan oleh Ketua Fraksi PAN DPRA, Asrizal H Asnawi (Serambi, 25/11/2017). Hal tersebut sangat rasional mengingat anggaran pemerintah aceh merupakan uang rakyat sudah seharusnya digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat Aceh.

Walaupun Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan bahwa Pemerintah Aceh melalui program Aceh Teuga mempunyai misi untuk mengembalikan dan meningkatkan prestasi olahraga Aceh, di antaranya melalui peningkatan frekuensi even kompetisi olahraga untuk menjaring bibit-bibit unggul. Inilah di antaranya yang menjadi latar belakang penyelenggaraan Aceh World Solidarity.

Selain itu, menumbuhkan kembali prestasi olahraga Aceh sebagaimana disampaikan oleh Gubernur Aceh, tentu saja wajib kita dukung. Program Aceh Teuga yang merupakan satu visi-misi Gubernur Aceh periode 2017-2022, menjadi modal besar dalam menggali potensi dan menjaring bibit unggul olahragawan Aceh. Namun, di even ini tidak ada tim Aceh yang tampil, akan tetapi hanya diwakili oleh tim Nasional Indonesia.

Selain itu penyelengaraan even-even kompetisi olahraga tersebut juga harus melihat azas efisiensi, transparansi, dan efektivitas. Jangan sampai anggaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan manfaatnya. Mengingat masih banyak masyarakat Aceh yang hidup di bawah garis kemiskinan dan masih banyak usaha kecil menengah di Aceh yang membutuhkan suntikan dana untuk modal usaha.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help