SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Meneladani Nabi SAW

TAK terasa kita kembali bertemu dengan Rabiul Awal, bulan yang istimewa bagi setiap muslim

Meneladani Nabi SAW
SERAMBINEWS.COM/NURUL HAYATI

Oleh Hanifah

TAK terasa kita kembali bertemu dengan Rabiul Awal, bulan yang istimewa bagi setiap muslim. Bulan ini menjadi bulan yang istimewa karena bertepatan dengan perayaan maulid Nabi Muhammad saw. Ada nuansa yang berbeda ketika bulan maulid tiba dibandingkan dengan bulan lainnya. Hal ini dikarenakan sebagian masyarakat Aceh hingga tiga bulan ke depan akan melakukan kenduri untuk merayakan bulan maulid tersebut.

Kenduri yang dilakukan sebagai ajang untuk mempererat silaturrahmi baik dengan sanak keluarga, tetangga, kerabat, orang fakir miskin, anak yatim dan lain sebagainya. Selain kenduri, masyarakat Aceh juga akan mengadakan zikir atau membaca barzanji sebagai bentuk pujian. Dan tidak lupa setelah seremonia selesai akan di tutup dengan acara ceramah pada malam hari. Biasanya akan di undang penceramah dari luar.

Jika di Aceh kenduri maulid disebut dengan khanduri Pang Ulee, maka lain halnya di Yogyakarta. Di Yogyakarta kenduri maulid di sebut dengan Grebeg Maulid, sebuah acara iring-iringan gunungan makanan yang di arak menuju keraton Yogya. Dalam arak-arakan tersebut tampil prajurit keraton Yogyakarta lengkap dengan formasi dan pakaian. Di Banjarmasin maulid Nabi disebut dengan Baayun Maulid, yaitu acara bersyukur atas kelahiran Nabi Muhammad saw yang dihadiri oleh semua usia mulai dari balita hingga lansia.

Menjaga semangat
Pada dasarnya, esensi merayakan maulid adalah untuk menjaga semangat Nabi dalam diri setiap muslim. Saat ini kita hidup di zaman yang sudah berabad-abad jauhnya dari Nabi. Kita tidak pernah bertemu, manatap wajahnya, berbicara dengannya, melihat sosoknya, hanya saja kita sering mendengarkan bagaimana sosok Nabi saw yang begitu baik, penyayang, santun, jujur, pebisnis handal, dan ahli ibadah yang kita dapati dari guru mengaji, penceramah dan para sahabat Nabi yang bisa kita dapatkan informasi dari membaca literatur, sirah nabawiyah, dan lain sebagainya.

Menjaga semangat Nabi adalah dengan melakukan apa yang dilakukan Nabi, menjauhi apa yang dijauhi Nabi. Atau dengan kata lain adalah dengan mengamalkan Islam sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi. Satu identitas Islam adalah ajaran salam (cinta damai) yang berbunyi, assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Nilai-nilai salam ini sangat penting diaktulisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Umat Islam mengucap salam minimal lima kali dalam sehari ketika mengakhiri shalat. Ini berarti, menjadi seorang muslim dituntut mampu mewujudkan nilai-nilai salam (cinta damai, keselamatan, dan kesejahteraan), rahmat (kasih sayang, harmoni, semangat ihsan, berbuat baik), dan barakah (nilai kebaikan, keberkahan, kemashlahatan, dan kebermaknaan dalam hidup).

Sikap dan perilaku demikian pernah ditunjukkan Nabi saat hendak di bunuh oleh Tsumamah bin Itsal. Tsumamah bin Itsal dari kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah hendak membunuh Nabi Muhammad saw. Segala sesuatu telah ia persiapkan secara matang, sebilah pedang tajam sudah disandangnya, dan ia pun masuk ke Madinah, tempat Nabi bermukim. Dengan semangat meluap-luap ia mendatangi majelis Nabi untuk melaksanakan niatnya.

Umar bin Khattab yang melihat gelagat buruk itu, langsung menghadang Tsumamah. Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?” Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad.” Mendengar ucapan Tsumamah, dengan segera Umar meringkusnya. Tsumamah tidak mampu melawan, Umar berhasil merampas senjata dan mengikat tangannya, lalu ia dibawa ke masjid.

Setelah mengikat Tsumamah di satu tiang masjid, Umar segera melaporkan kejadian ini pada Nabi saw. Nabi saw segera menemui Tsumamah yang hendak membunuhnya itu. Setibanya di masjid, Nabi mengamati wajah Tsumamah yang terlihat kelelahan dan ketakutan. Nabi berkata kepada para sahabat, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help