SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Spirit Maulid Nabi

BILA maulid mendapatkan tempat khusus di hati rakyat Aceh, mengapa pula mesjid dan surau kosong kala

Spirit Maulid Nabi
LAUTAN manusia memadati arena pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh warga Lampulo, Banda Aceh, Senin (26/12) malam. Kegiatan tersebut menghadirkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Muhammad Rizieq Shihab. 

Oleh Muhajir Juli

BILA maulid mendapatkan tempat khusus di hati rakyat Aceh, mengapa pula mesjid dan surau kosong kala shalat tiba? Bila maulid sebagai bentuk media untuk mengingat perjuangan Rasulullah saw, mengapa pula, jujur, sebagai fondasi ajaran Muhammad saw, tidak diterapkan dalam peri kehidupan umat Islam di Serambi Mekkah? Perayaan sebuah momentum, tanpa berhasil menemukan spirit yang sesungguhnya dari sesuatu yang diperingati, sungguh sebuah kesia-siaan.

Kala diturunkan di Mekkah al-Mukarramah, Nabi Muhammad saw memikul beban yang luar biasa. Beliau mendapatkan mandat dari Ilahi, untuk menyelamatkan kaum jahiliyah yang hidup dalam kondisi musyrik serta bar-bar. Tanpa etika, yang kuat menindas yang lemah, zina yang diumbar di mana saja, minuman keras yang bebas dikonsumsi, serta hal-hal buruk lainnya. Lakap jahiliyah untuk kaum Quraisy waktu itu adalah sesuatu yang pantas.

Muhammad kecil lahir dari keluarga yang sederhana, namun masih memiliki talian darah dengan para pemegang amanat penjaga Baitullah. Kakeknya yang bernama Abdul Muthalib adalah penjaga Kakbah, yang kala itu menjadi tempat suci bagi kaum penyembah patung.

Muhammad, adalah seorang anak yang lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya meninggal dunia dalam sebuah perjalanan dagang kala itu, sebelum baginda Rasulullah dilahirkan oleh sang ibunda yang bernama Aminah. Dalam usia yang masih sangat belia, ayahanda Fatimah itu pun harus kehilangan ibunda tercinta, yang dipanggil pulang keharibaan Ilahi Rabbi.

Dalam sirah hidupnya, Rasulullah, sepeninggal ibunya yang lemah lembut itu, diasuh oleh pakciknya yang bernama Abu Thaleb, yang juga ayah dari saudara, sahabat sekaligus menantu Rasulullah, yaitu Sayyidina Ali, sang hero Islam yang terkenal pemberani.

Sebagai seorang bocah yang kelak mendapatkan mandat sebagai seorang rasul yang harus mengeluarkan manusia dari alam jahiliyah, Muhammad memiliki sebuah sifat yang luar biasa, yaitu jujur. Semenjak belia putra Abdullah itu selalu berperilaku jujur kepada siapa pun. Ia tidak memiliki waktu untuk berbohong. Hal ini kemudian ia teruskan hingga Baginda dipercayakan sebagai juru dagang sebuah perusahaan dagang kala itu yang dipimpin oleh Khadijah.

Atas kejujuran sang Rasul, ia kemudian digelari Al-Amin oleh orang-orang musyrik kala itu. Bahkan, kemudian Khadijah menjadikan Muhammad muda sebagai suaminya. Luar biasa, di tengah kehidupan manusia kala itu yang tidak menjadikan moral sebagai pandangan hidup, Muhammad justru mendapatkan pengakuan sebagai manusia terjujur.

Padahal kala itu, sang Utusan hidup di tengah kaum jahiliyah yang tidak pernah mau memberikan apresiasi kepada siapa saja yang lebih hebat dari mereka. Namun, untuk “calon presiden” Negara Madinah, adalah pengecualian.

Nilai kejujuran
Seseorang yang cerdas di abad pertengahan, akan menjadi seseorang yang biasa saja di era modern. Mengapa? Karena ilmu pengetahuan mengalami perkembangan. Seseorang yang dikatakan baik oleh si A, belum tentu baik bagi si B. Mengapa? Karena kebaikan selalu menemukan batas dan ruang. Baik adalah sesuatu yang memiliki kecenderungan memihak.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help