SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Perkuat Deteksi Dini

DI Indonesia, kisah virus yang melemahkan daya tahan tubuh manusia atau lebih dikenal dengan HIV sudah 30 tahun

Perkuat Deteksi Dini

(30 Tahun HIV/AIDS di Indonesia)

Oleh Mohd. Andalas

DI Indonesia, kisah virus yang melemahkan daya tahan tubuh manusia atau lebih dikenal dengan HIV sudah 30 tahun, tepatnya sejak pertama kasus HIV diidentifikasi pada 1987. Pada saat itu, ditemukan beberapa kasus di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bali, dan Bandung. Virus immunodefisiensi pertama diidentifikasi pada 1983 oleh Jean Claude Chermann, ilmuan Prancis.

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), yaitu sebuah sindroma pada manusia akibat ketahanan tubuh menurun pascaterinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus). Proses perubahan dari infeksi awal sampai mengganggu sistem kekebalan tubuh membutuhkan periode waktu yang relatif 1-2 tahun, dan untuk berlanjut menjadi AIDS 8-10 tahun sangat tergantung pada daya tahan tubuh seseorang.

Obat anti virus HIV belum ada sampai saat ini. Pengobatan yang ada saat ini hanya obat anti-retrovirus yang berfungsi mencegah replikasi atau pembelahan sel virus. Tulisan ini diharapkan mengingatkan kita akan hal bahaya laten virus HIV dan potensi kasus baru bertambah, dan upaya pencegahan dengan deteksi dini.

Bila kita ikut jejak 30 tahun HIV di Indonesia, pada 12 tahun lalu Aceh masih berada pada zona relatif aman dalam distribusi kasus HIV-AIDS. dari list nasional, umumnya kasus HIV/AIDS masa itu hanya teridentifikasi dibeberapa daerah yang secara geografis dekat dengan Sumatera Utara, tapi kini kasus HIV/AIDS telah meluas merata walau dalam skala relatif kecil. Ini juga cukup beralasan karena Aceh masih daerah dengan hukum syariah, sehingga kegiatan-kegiatan terkait hiburan malam dilarang, karena sampai saat ini satu penyebab infeksi dari hubungan seksual dari orang yang terinfeksi.

Kurang maksimal
Laporan Ditjen P2P Kemenkes 24 Mei 2017, di Aceh terdata 684 kasus, yaitu masing-masing 346 HIV dan 338 AIDS per 31 Maret 2017. Pengelolaan HIV/AIDS di Indonesia masih kurang maksimal, di mana pada 2014 pernah mendapat rapor merah dari The joint United program on HIV/AIDS (UNAIDS), karena gagal dalam menghambat laju kasus HIV/AIDS. Kasus baru HIV meningkat 47% sejak 2005. Kematian akibat AIDS masih tinggi, karena hanya 8% orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mendapatkan terapi anti-retrovirus dan Indonesia masuk menjadi negara ketiga terbanyak kasus HIV sebanyak 640.000 orang, setelah Cina dan India.

Laporan WHO pada 2016 terdapat 36.7 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia, di antaranya 17,8 juta pada wanita dan 2.1 juta pada anak kurang 15 tahun. Kelompok wanita dan anak ini cukup rentan bila tidak diterapi dengan baik, misal wanita hamil berpeluang menurunkan pada anak dan orang lain bila tidak mendapat terapi dengan baik dan mangenen persalinan yang aman. Hanya saja prevalensi di Indonesia 0,43% masih di bawah tingkat epidemi sebesar 1%.

Terkait status HIV/AIDS di Indonesia secara umum dan kondisi Aceh secara khusus, apakah situasi semakin meningkatnya kasus kita biarkan begitu saja, sesuai mekanisme pengelolaan yang berlaku selama ini? Atau kita harus pro-aktif melakukan upaya menghambat penyebaran secara massif dengan berbagai terobosan promotif dan preventif yang terintegrasi? Menjadi tugas kita bersama menjawab kekhawatiran tersebut.

Apa yang dikhawatirkan dari HIV? Penyebaran HIV/AIDS selama ini terbatas pada kelompok pengguna narkoba dengan menggunakan jarum suntik yang terinfeksi, hubungan seksual dengan partner yang terinfeksi, ibu hamil dengan HIV positif pada bayiynya, dan air liur serta cairan semen dari seseorang posif HIV/AIDS. Bila seseorang yang terinfeksi virus HIV sadar akan hal ini sebenarnya dia sendiri dapat melindungi dirinya dengan berbagai upaya seperti komsumsi obat anti-retrovirus, dan melakukan hubungan seksual aman dengan menggunakan pelindung.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help