SerambiIndonesia/

Eksistensi Puisi dalam Musikalisasi Puisi

Puisi adalah bentuk karya sastra paling tua yang berfungsi sebagai salah satu media untuk mengungkapkan pengalaman

Eksistensi Puisi dalam Musikalisasi Puisi
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Foto Silaturrahmi penyair, bersama kopi dan puisi.

Oleh: Ibrahim Sembiring, Peneliti Bidang Sastra di Balai Bahasa Aceh

Puisi adalah bentuk karya sastra paling tua yang berfungsi sebagai salah satu media untuk mengungkapkan pengalaman hidup manusia (pikiran dan perasaan) yang bersifat imajinatif. Pengalaman itu berhubungan dengan cinta, cita-cita, kerinduan, kebencian, kegembiraan, kegelisahan, kesedihan, dan lain-lain.

Puisi yang ditulis penyair itu pada umumnya dipublikasikan dalam bentuk buku antologi puisi atau melalui surat kabar, majalah, tabloid, dan lain-lain. Puisi yang telah dipublikasikan itu ternyata tidak sekadar dibaca oleh khalayak, melainkan juga dikreasikan menjadi karya pertunjukan. Salah satunya yaitu menjadi pertunjukan musikalisasi puisi.

Eksistensi puisi tidak bisa diabaikan begitu saja dan sesungguhnya memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pertunjukan musikalisasi puisi. Sebab rangkaian teks yang dikandung puisi merupakan bahan dasar yang kemudian dikolaborasikan dengan unsur musik.

Sebagai bahan dasar, sebuah puisi terlebih dahulu harus dibaca dan diinterpretasikan sebelum diharmonisasikan dengan unsur musiknya agar selanjutnya menjadi musikalisasi puisi. Berdasarkan hal tersebut, dapat dilihat betapa pentingnya eksistensi puisi dalam mewujudkan musikalisasi puisi.

Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa tanpa puisi maka mustahil tercipta musikalisasi puisi. Puisi yang dijadikan bahan untuk musikalisasi puisi seyogianya adalah puisi karya penyair, yaitu seseorang yang telah dijuluki oleh khalayak sebagai penyair. Terkait hal ini, terkadang pada festival musikalisasi puisi yang puisi-puisinya tidak disediakan panitia – akan tetapi puisipuisinya dicari dan ditentukan oleh peserta – yang ditampilkan justru bukanlah puisi karya seorang penyair melainkan karya si peserta itu sendiri yang diciptakan secara instan dalam rangka untuk mengikuti festival.

Karena diciptakan secaramendadak dan bukan pula merupakan kreasi seorang penyair maka karya yang mereka katakan sebagai puisi itu, isinya pun tidak lebih berupa curhatan yang tidak jelas juntrungannya. Teks yang mereka ciptakan dan diungkapkan lewat nyanyian itu tampak lemah nilai-nilai estetis, makna, dan kadar kesastraannya karena proses penciptaannya tidak ubahnya seperti menciptakan lirik/syair lagu atau nyanyian.

Karena itu, secara konsepsi, pertunjukan yang mereka lakukan tersebut sesungguhnya bukanlah musikalisasi puisi, melainkan menampilkan nyanyian (lagu). Oleh karena itu, agar puisipuisi yang ditampilkan dalam festival musikalisasi puisi itu adalah puisi seorang penyair dan bukan puisi yang terkesan diciptakan secara asal-asalan oleh peserta, maka puisinya (baik puisi wajib maupun puisi pilihan) seharusnya disediakan oleh panitia penyelenggara festival. Bertolak dari realita di atas, esungguhnya terdapat perbedaan antara teks puisi dalam musikalisasi puisi dengan lirik/syair lagu dalam sebuah nyanyian.

Apabila mengacu pada teori-teori sastra lisan maupun tulisan bersifat umum, kedua hal tersebut tampak berbeda. Berdasarkan praktiknya pun kedua hal tersebut dapat dibedakan secara sederhana. Menurut Salad (2015), lirik/syair lagu merupakan jenis puisi yang sengaja dicipta, dibuat, direncanakan sebagai bagian utama dari unsur komposisi musik, lagu atau nyanyian.

Dengan kata lain, lirik/ syair lagu senantiasa dicipta/ditulis secara bersamaan atau berangkaian dengan proses penciptaan lagu, sehingga lirik/syair lagu tersebut dapat diubah judulnya, boleh diganti bait dan barisnya, bisa dibuang sebagian bait dan diganti dengan bait yang baru. Sedangkan identitas puisi dalam konteks musikalisasi puisi, merupakan bagian dari ragam genre karya sastra. Teks puisi merupakan kerangka ekspresi pokok yang menyebabkan lahirnya komposisi musik. Teks puisi haruslah tetap utuh sebagaimana adanya, seperti tertera dalam halaman buku atau media lain yang memuat puisi tersebut.

Karena itu, seorang komposer, aranger atau grup musikalisasi puisi, tidak memiliki otoritas apapun utuk mengubahnya secara tekstual. Kecuali kebebasan untuk menafsirkan, mengaktualisasikan, dan merepresentasikan makna-makna, nilai, dan unsur estetis yang terkandung di dalamnya, baik yang berkaitan dengan unsur musikalitas maupun kontekstualitasnya.

Karena itu pulalah sehingga dalam festival musikalisasi puisi para peserta tidak dibenarkan menambah atau mengurangi kata/suku kata dalam puisi yang dipilih dengan alasan apa pun. Bahkan ada pula aturan yang tidak membolehkan peserta untuk mengulangi baris atau bait puisi, baik untuk dinyanyikan maupun dibacakan. Peraturan tersebut sesungguhnya dimaksudkan sebagai salah satu bentuk penghargaan bagi penyair dalam upaya menciptakan puisinya.

Dengan demikian, puisi yang sudah bersusah payah diciptakan penyair, tidak sampai kehilangan makna dan substansinya ketika ditampilkan sebagai pertunjukan musikalisasi puisi.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help