SerambiIndonesia/

Diprediksi Punah, Ini Alasan Mengapa ATM Bisa Jadi Tidak Akan Digunakan Lagi di Masa Depan

Hal itu meyakinkan John Howells, CEO Link, bahwa mesin ATM akan segera musnah, setelah makin banyaknya kantor bank yang tutup.

Diprediksi Punah, Ini Alasan Mengapa ATM Bisa Jadi Tidak Akan Digunakan Lagi di Masa Depan
ilustrasi
ATM 

SERAMBINEWS.COM - Transaksi uang kertas menurun drastis seiring beralihnya gaya hidup orang berbelanja online di Inggris.

Hal itu meyakinkan John Howells, CEO Link, bahwa mesin ATM akan segera musnah, setelah makin banyaknya kantor bank yang tutup.

Howells percaya penurunan penarikan tunai akan merugikan ATM dan berujung pada penutupan.

Prediksi ini membuat sebagian orang khawatir, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil. Mereka akan kehilangan  akses terhadap uang tunai.

Baca: Wanita Terkaya di Indonesia dan Miliki Harta Mencapai Rp 11 Triliun, Siapakah Arini Subianto?

Sebab, karena tidak ada ATM, konsumen harus menarik uang dari pemilik toko atau pengecer.  

Ini membuat para pengecer dan pemilik toko rentan menjadi sasaran kriminal karena seperti dipaksa menimbun uang dalam jumlah besar.

“Entah 5 atau 10 tahun lagi akan datang masanya di mana kita tidak memiliki ATM. Kita butuh cara lain bagi konsumen untuk mengakses uang tunai yakni melalui pengecer," ungkap John Howells kepada Mail Online.

Rencana penutupan ini berarti beberapa orang harus berjalan berkilo-kilometer untuk menarik uang tunai karena toko-toko kecil, pub, dan kafe tidak menyediakan mesin ATM.

Baca: Meskipun Kekayaannya Merosot, Bos Amazon Tetap Jadi Orang Terkaya Dunia

Peringatan tersebut datang saat bank-bank menutup cabang di kota dan desa-desa yang tidak menguntungkan.

Link, yang mengoperasikan 70.000 mesin ATM di Inggris, berencana mengurangi 20 persen mesinnya.

Kelompok pelobi ekonomi Inggris khawatir, itu adalah rencana mengakhiri peredaran uang tunai selamanya.

Artikel ini telah ditayangkan pada intisari dengan judul : Menyusul Dinosaurus, 10 Tahun lagi Mesin ATM Akan Punah

Editor: Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help