SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Selamat Jalan Guru

SUATU hari pada 2001, puluhan aktivis dan pembela hak asasi manusia (HAM) di Asia Tenggara berkumpul di Sasa International

Selamat Jalan Guru
Munawar Liza Zainal 

(Surin Pitsuwan dalam Kenangan)

Oleh Munawar Liza Zainal

SUATU hari pada 2001, puluhan aktivis dan pembela hak asasi manusia (HAM) di Asia Tenggara berkumpul di Sasa International House (Sasa Nives), sebuah gedung penginapan di dalam komplek Universitas Chulalongkorn yang terletak di depan mall Mahboongkrong (MBK), tidak jauh dari Siam Square, jantung bisnis kota Bangkok, ibu kota Thailand.

Mereka berkumpul untuk pertemuan dengan Hina Jilani, Special Representative of UN Secretary-General Ban Ki-moon on Human Rights Defenders, seorang advokat asal Pakistan yang menjadi Utusan Khusus Sekjen PBB untuk aktivis dan pembela HAM.

Di sela-sela pertemuan tersebut, kepada saya diperkenalkan seorang berkulit hitam manis, ruman mukanya ramah, dengan wajah sedikit kearab-araban. Sebelum berjabat tangan, melambai dan mengucapkan, “Assalamualaikum”. Setelah menjawab salam, kami berkenalan. Sewaktu tahu saya berasal dari Aceh, dia bertambah semangat dan banyak menanyakan tentang kondisi Aceh yang sedang bergejolak.

“Kuliah di mana? Thammasat?” begitu dia bertanya sambil menyebut salah satu universitas di Thailand. “Saya di Al-Azhar, Kairo,” jawab saya. Matanya langsung berbinar-binar, dan berusaha berbicara dengan bahasa Arab walaupun agak terpatah.

Rupanya pada 1970-an, laki-laki yang lahir pada 28 Oktober 1949 itu, pernah belajar bahasa Arab selama setahun setengah di American University, Kairo.

Tanpa ragu saya langsung berseru, “Ah, ini Dr Surin Pitsuwan.” Dia tertawa lebar.

Iya, begitulah cerita perjumpaan pertama dengan Dr. Surin Pitsuwan, Menteri Luar Negeri Thailand, anggota partai demokrat, seorang muslim berasal dari sebuah provinsi di bagian selatan Thailand, Nakhon Si Thammarat.

Dari 2002-2004, Dr Surin bersama tokoh dunia lainnya seperti Jenderal Anthony Zinni, menjadi anggota Wise Men Group di bawah naungan the Henri Dunant Centre for Humanitarian Dialogue (HDC) di Geneva, memberi nasihat dan pertimbangan dalam proses dialog antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help