SerambiIndonesia/

Milad GAM Diperingati Sederhana

Sejumlah mantan kombatan memperingati milad ke-41 Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Senin (4/12)

Milad GAM Diperingati Sederhana
SERAMBINEWS.COM/MASRIZAL
Peringatan Milad Ke-41 GAM, di kompleks makam Pahlawan Nasional Tgk Chik Ditiro dan Deklarator GAM, Tgk Hasan M Ditiro di Desa Meureu, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Senin (4/12/2017). 

* Mualem: Realisasikan Semua Butir MoU

BANDA ACEH - Sejumlah mantan kombatan memperingati milad ke-41 Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Senin (4/12). Kegiatan itu dipusatkan di Kompleks Makam Pahlawan Nasional Tgk Cik Ditiro, tempat deklarator GAM, Hasan Tiro, dimakamkan di Desa Meure, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, 3 Juni 2010 silam.

Peringatan milad tahun ini berlangsung dalam suasana sangat sederhana. Sejumlah mantan kombatan hanya terlihat menggelar doa bersama dan ceramah yang disampaikan oleh Tgk Abdul Wahid dari Aceh Besar. Bahkan, mantan kombatan yang hadir juga tidak tampak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Amatan Serambi, hanya hadir Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat yang juga Ketua DPA Partai Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, Wakil Ketua KPA Pusat, Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak, Ketua KPA Pase, Tgk Zulkarnaini alias Tgk Ni, Ketua KPA Aceh Besar, Saifuddin Yahya alias Pak Cek, dan Mukhlis Basyah alias Adun Mukhlis.

Hadir juga Ketua DPRA, Tgk Muharuddin, Ketua DPRK Aceh Besar, Sulaiman, Ketua Fraksi Partai Aceh di DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky, Anggota DPD RI asal Aceh, Fachrul Razi, dan sejumlah anggota dewan dari Partai Aceh. Sedangkan Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al-Haythar, mantan mantan menteri kesehatan dan menteri luar negeri GAM, dr Zaini Abdullah, dan mantan menteri pertahanan GAM, Zakaria Saman, tidak tampak hadir.

Rangkaian kegiatan kemarin hanya diisi dengan doa bersama, mendengarkan amanat Wali Nanggroe, Malik Mahmud yang disampaikan oleh Adun Mukhlis, sambutan Abu Razak, sambutan Ketua KPA Pusat, Mualem, dan mendengarkan ceramah yang disampaikan Tgk Abdul Wahid.

Wali Nanggroe, Malik Mahmud dalam amanatnya yang dibacakan Adun Mukhlis mengajak semua pihak untuk menjaga dan merawat perdamaian yang diraih dengan susah payah sejak 15 Agustus 2005. Perdamaian yang sudah berusia 12 tahun tersebut diminta jangan sampai hancur karena perlakuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Dia juga meminta pemerintah pusat untuk menghormati Aceh dan dapat dengan segera menyelesaikan semua kesepakatan yang tertuang dalam MoU Helsinki. Pemerintah Aceh dan DPRA, kata Malik Mahmud, harus bekerja sama untuk memastikan semua butir-butir MoU dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) terealisasi.

Wakil Ketua KPA Pusat, Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak menyampaikan bahwa perdamaian yang sudah terwujud saat ini menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaganya. “Damai ini bukan untuk GAM saja, damai ini milik kita bersama bangsa Aceh. Terima tidak terima tapi ini sudah jadi kenyataan,” katanya.

Terkait ada beberapa butir-butir MoU yang belum direalisasi oleh pemerintah pusat, Abu Razak berharap eksekutif dan legislatif Aceh termasuk dari unsur KPA harus duduk bersama untuk menemui Presiden RI, Joko Widodo membahas masalah itu.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help