SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Tipologi Elite Birokrat Aceh

SATU misi kampanye pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah

Tipologi Elite Birokrat Aceh
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Pengurus DPP PNA bersama sejumlah ketua partai nasional lainnya dalam acara milad ke-6 PNA di Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, Senin (4/12/2017). 

Oleh Miswar Fuady

SATU misi kampanye pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah adalah melakukan reformasi birokrasi secara menyeluruh dalam rangka mewujudkan birokrasi Pemerintah Aceh yang profesional dan berintegritas. Satu turunan dari misi ini adalah dengan melaksanakan mekanisme fit and proper test dalam rekrutmen pejabat struktural birokrasi, yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

Oleh tim yang telah dibentuk oleh gubernur, seperangkat instrumen kini telah dipersiapkan sebagai materi uji dalam rekrutmen tersebut. Sebagaimana lazim kita ketahui ada beberapa syarat standar seperti kelayakan administrasi, pengalaman, leadership, dan prestasi kerja yang bakal dijadikan rujukan.

Di luar itu sebenarnya ada point penting lain yang cukup menentukan plus minus profil seorang pejabat birokrat, yang biasanya memang tidak tertera di atas kertas, dalam curiculum vitae. Namun dapat kita peroleh gambarannya melalui proses pengamatan atas style, gaya kepemimpinan. Ini lebih terkait dengan etos, watak, dan mentalitas yang akumulasinya kemudian membentuk karakter tipikal seorang birokrat.

Karakter birokrat
Aspek karakter tersebut seringkali terabaikan, namun sangat menentukan kualitas dan performa birokrasi. Ia adalah entitas yang melekat pada subjek birokrasi, yaitu manusia. Secara garis besar ada empat tampilan karakter birokrat yang dimaksud, yaitu the stylish-entertainer, the godfather, the fighting-good learner, dan the working leader.

The stylish-entertainer: Birokrat berkarakter stylish-entertaniner adalah sosok birokrat penuh gaya yang sangat piawai memanipulasi image atau citra diri di ruang-ruang publik. Dengan dukungan media, melalui statement, juga narasi-narasi dan postingan visual di berbagai forum resmi, mereka sangat pintar membangun dan mengelola citra sebagai “pemain inti”. Mereka gemar meng-update proses-proses kerja, bukan hasil kerja. Senang bermain dengan ragam teori dan retorika, dan dengan pseudo indicators (indikator semu), mereka sangat cerdik membangun kesan seolah-olah (seolah-olah hebat, seolah-olah progresif, seolah-olah penuh gebrakan dan terobosan).

Hobi bermain “di awang-awang” serta suka pamer, persis sejalan dengan moto kerja mereka, every time is show time. Mereka sebagian punya koneksi dan jaringan cukup meyakinkan, yang mereka dapat dan bangun dengan trik yang sama; politik tebar pesona.

Mereka adalah oportunis 100% yang sangat hebat dalam meyakinkan, atau lebih tepatnya memanipulasi keyakinan publik dan media, bahkan pemimpin politik yang menjadi pimpinannya, bahwa mereka adalah sosok birokrat berkompeten, memiliki “pengalaman pribadi” segudang dengan track record wara-wiri. Selalu saja beruntung beroleh kesempatan menjabat kepala birokrasi di instansi/dinas yang berbeda-beda. Padahal, hanya punya pengalaman setahun di mana dengan pola (kegagalan) yang sama kemudian ia ulang-ulang sampai 10, 20, atau 30 kali dan seterusnya.

Dengan “pengalaman yang banyak” itu, faktanya nyaris tidak ada kontribusi mereka yang betul-betul signifikan dalam membawa perubahan dan kemajuan, setidaknya tidak seheboh dan sehebat dugaan banyak orang. Sementara setiap jabatan dan posisi yang diberi pada mereka apa pun selalu disambar walaupun mungkin tidak sesuai dengan latar pendidikan, keilmuwan, kualifikasi dan kompetensi, dengan prinsip no problemo. Tidak ada rotan akar pun jadi, yang penting tidak hilang jabatan.

Ketidakpahaman publik dan media bahkan pimpinan politik yang menjadi user mereka dalam menilai dan mengukur kapasitas, kualitas, dan kinerja sesungguhnya dari seorang birokrat, membuat mereka tetap eksis dan leluasa memainkan ilmu belutnya, licin dan selalu lolos dari lubang jarum bernama “bangku panjang”. Di sinilah memang kelebihan terdahsyat mereka; selalu saja berhasil membuat the game of image mereka yang sebenarnya tidak lebih dari gerakan meuputa-puta bak sot itu, bisa disalah-pahami sebagai gebrakan “maju ke depan” oleh banyak orang.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help