SerambiIndonesia/

Tafakur

Belajar dari Alam

Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah

Belajar dari Alam

Oleh: Jarjani Usman

“Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti” (HR. Bukhari & Muslim).

Melalui alam ini, Allah menitipkan banyak pelajaran penting, dan tentunya bermanfaat bagi insan yang berpikir. Termasuk di antaranya pada perubahan musim yang terjadi setiap tahun. Misalnya, dari musim hujan ke musim kemarau di Indonesia. Bahkan di negeri-negeri lain, mulai dari musim dingin, musim semi, musim panas, musim gugur, dan ke musim dingin lagi. Untuk memudahkan hidup, kita perlu membuat perencanaan hidup dengan baik.

Bila tidak merencanakan hidup di musim yang berubah, kita bisa terbawa dalam perbuatan berdosa. Di negara-negara yang bermusim dingin, misalnya, ada orang yang merasa putus asa, hingga bunuh diri. Demikian juga pada musim hujan di negara kita, sebahagian orang marah dan memaki hujan karena mengganggu aktivitas dan usaha yang sedang dirintis. Padahal menurut Rasulullah, hujan itu karunia dan rahmat Allah (HR. Muslim). Namun sayangnya sebahagian kita tak mampu memahami dan menjadikannya sebagai karunia dan rahmat.

Kalaupun memaki hujan, kita harus memikirkan siapa yang menciptakan hujan. Tentunya Allah. Dengan demikian, Allah lah sebenarnya yang menjadi sasaran dari makian, hujatan, kutukan, cacian itu. Sungguh itu suatu perbuatan tak berterimakasih dan berdosa.

Bila ingin memperoleh pahala, saat hujan, kita bisa mensyukurinya dengan memanfaatkannya untuk berbagai keperluan. Bila terjadi banjir, kita perlu memahaminya sebagai reaksi alam dan oleh karena perlu berusaha belajar untuk memastikan apakah telah mengelola alam ini dengan baik.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help