SerambiIndonesia/

Korban Banjir Diserang Penyakit

Korban banjir Aceh Utara yang berada di pengungsian mulai diserang penyakit seperti deman, gatal-gatal

Korban Banjir Diserang Penyakit
Paurkes Poli Klinik Polres Aceh Tenggara, dr Eva Yurisna, membantu persalinan Jannah, korban banjir Desa Pinding, Kecamatan Bambel, Agara, Selasa (5/12). 

LHOKSUKON - Korban banjir Aceh Utara yang berada di pengungsian mulai diserang penyakit seperti deman, gatal-gatal, dan infeksi saluran pernafasan (ispa) dalam dua hari terakhir. Kondisi mereka tak tertangani secara maksimal, karena stok obat untuk penyakit tersebut kurang. Hingga saat ini, kondisi terparah banjir masih dialami Lhoksukon dan Pirak Timu. Sedangkan Matangkuli sudah surut.

Untuk diketahui, Aceh Utara mulai direndam banjir pada 2 Desember. Lalu kondisi banjir semakin meluas sampai ke kawasan Lhoksukon dan ke-23 kecamatan lainnya dari 27 kecamatan yang ada di kabupaten itu. Hingga Rabu (6/12) kemain, jumlah pengungsi di Aceh Utara mencapai 33 ribu orang dari 88 titik.

“Ketinggian di Pirak Timu tadi saat kami mengantarkan bantuan, di jalan setinggi 80 sampai 90 centimeter. Sedangkan dalam rumah warga masih di atas 1 meter. Air masih sama seperti kemarin, kemungkinan ini yang menyebabkan timbulnya penyakit seperti gatal-gatal,”

ujar warga Pirak Timu, Teuku Faisal Razi kepada Serambi, Rabu (6/12). “Banyak anak di kawasan kami sudah terserang deman, sedangkan untuk berobat tidak memungkinkan. Karena itu, kita berharap ada petugas medis yang datang ke setiap titik pengungsi untuk memeriksanya,” pinta Faisal.

Disebutkan, titik pengungsi di Kecamatan Pirak Timu, antara lain di Desa Reungkam, Keutapang, Trieng Krueng Kreh, Beuracan Rata, Asan Trieng Krueng Kreh, Geulumpang, dan Desa Bungoh. Warga umumnya mengungsi di meunasah masing-masing. Bantuan yang sangat diperlukan pengungsi, ungkapnya, adalah kebutuhan bayi dan anak-anak seperti susu dan pampers. “Kebutuhan lain yang dibutuhkan warga yakni, kelambu dan selimut,” rinci dia.

M Nasir, warga Hagu, Kecamatan Matangkuli kepada Serambi, kemarin, membenarkan, air di kawasan Matangkuli sudah mulai surut. Bahkan, warga di Desa Hagu sudah mulai membersihkan rumahnya. Meski begitu, jelasnya, di lokasi tertentu masih ada rumah yang terendam. “Kemungkinan jika tak hujan, malam ini semua warga di kawasan kami sudah bisa membersihkan rumah mereka masing-masing,” kata M Nasir

Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Aceh Utara, T Nadirsyah kepada Serambi, kemarin, menerangkan, titik pengungsi sudah berkurang karena warga banyak yang memilih pulang ke rumahnya. “Misalnya di Seunuddon, Tanah Luas, Sawang, Tanah Jambo Aye, dan sejumlah kecamatan lain, di mana warga sudah pulang ke rumah. Sedangkan di Lhoksukon, sampai sekarang masih mengungsi, bahkan jumlahnya bertambah,” terangnya.

“Jumlah pengungsi sampai hari 33 ribu orang. Tapi, titik pengungsi tidak kita tambah supaya memudahkan proses distribusi bantuan,” ujar Nadirsyah. “Kita berharap kepada warga untuk mengungsi ke lokasi yang sudah disediakan,” imbau Kabag Humas.

Disebutkan, untuk saat ini bantuan yang sangat dibutuhkan adalah obat-obatan untuk warga yang sudah mulai diserang penyakit, seperti gatal-gatal. Karena stok obat yang tersedia memang sudah tidak mencukupi lagi.

Pihaknya juga berharap kepada pihak donatur yang ingin menyumbangkan bantuan supaya dapat menyalurkan melalui BPBD Aceh Utara, supaya proses distribusinya merata dan tidak salahgunakan. “Selain itu, juga untuk memastikan supaya bantuan yang disalurkan itu tidak kedaluwarsa. Karena jika sampai kedaluwarsa, bisa menimbulkan keracunan, atau hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help