SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Pengembangan Kawasan Sabang

PERHELATAN akbar Sail Sabang 2017 telah berlangsung dengan baik pada 28 November - 5 Desember 2017

Pengembangan Kawasan Sabang
SUASANA malam teluk Sabang diabadikan dari Taman Kota Sabang, Senin (4/12) malam. 

(Strategi Pasca-Sail Sabang 2017)

Oleh Fauzi Umar

PERHELATAN akbar Sabang'>Sail Sabang 2017 telah berlangsung dengan baik pada 28 November - 5 Desember 2017. Perhelatan yang bertemakan “Sabang sebagai Pintu Gerbang Destinasi Wisata Bahari Internasional” itu melibatkan 14 kementerian/lembaga, Pemerintah Aceh, Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) dan Pemko Sabang di bawah pengarahan Kementerian Koordinasi Bidang Kemaritiman RI, dengan ketua pelaksana nasional Menteri Pariwisata RI, sedangkan untuk tingkat daerah diketua oleh Gubernur Aceh.

Penunjukan Kota Sabang sebagai tuan rumah, bukan sesuatu yang datang begitu saja karena ada 4 provinsi lain yang sangat mengincar untuk menjadi tuan rumah Sail Indonesia 2017 kemarin. Atas dasar pertimbangan ada kemajuan signifikan perkembangan wisata bahari di Sabang, terutama kunjungan kapal cruise dan kapal yacht disertai ketersediaan infrastruktur yang memadai ditambah dengan letak lokasi yang strategis di Selat Malaka, serta keberhasilan pelaksanaan Sabang Marine Festival menjadi dasar pemerintah menunjukkan Sabang sebagai tuan rumah Sail Indonesia.

Proses transisi
Suatu proses perjalananan panjang dan memakan waktu lama sejak direncanakan pemerintah pusat, terutama dengan proses transisi kepemimpinan baik di lingkungan Pemerintah Aceh maupun Pemko Sabang hasil Pilkada 2017. Demikian juga halnya penunjukan lokasi acara puncak yang memakan waktu dan pembahasan yang lama. Semula direncanakan di lokasi Pelabuhan CT-2, guna menata kawasan tersebut yang semula terkesan kumuh menjadi kawasan Sabang Marina Bay yang tertata secara asri sebagai pelabuhan pariwisata berstandar dunia.

Namun hal tersebut tidak dapat diselesaikan mengingat ada beberapa asset yang sudah tidak fungsional seperti asset milik Perum PT Perikanan Nusantara yang telah lama menjadi besi tua yang merusak pandangan Kota Sabang. Hal yang sama juga dengan asset PT Doks Kodja Bahari yang berada di tengah Kota Sabang yang sudah tidak sesuai lagi dengan peruntukan tata ruang kawasan perkotaan yang terus berbenah dan berkembang. Persoalan utama juga terkait beberapa asset eks PT Pelindo yang belum diserahkan pengelolaannya kepada BPKS karena belum mendapat persetujuan DPRA.

Atas dasar persoalan tersebut hingga memasuki bulan ke-6 belum ada solusi penyelesaian yang aman dan nyaman secara administrasi negara terkait lokasi Pelabuhan CT-2, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan pada suatu Rakor Lintas Kementerian/Lembaga di Hotel Sari Pan Pacific memutuskan lokasi Sabang Fair sebagai lokasi puncak acara Sabang'>Sail Sabang 2017.

Namun karena substansi utama Sabang'>Sail Sabang 2017 adalah untuk menggerak sektor pariwisata bahari akhirnya pemerintah memutuskan lokasi yang tepat adalah Pelabuhan CT-3 yang lokasinya mencapai 7 Ha dengan panjang dermaga mencapai 430 meter dan menjadi tempat bersandar utama tall ship Bima Suci dan Dewa Ruci.

Tidak dapat dipungkiri menjelang Sabang'>Sail Sabang 2017, Kota Sabang berbenah bersolek dan mempercantik diri menjadi tuan rumah yang baik dan ramah terhadap tamu. Segenap sumber daya dikerahkan untuk menunjukkan bahwa Sabang sebagai satu kota yang bersih, indah dan nyaman.

Tidak hanya unsur pemerintah daerah dan pusat, TNI-Polri dan bahkan beberapa komunitas masyarakat, seperti Teurawah dan Sahabat Kota terlibat aktif dan gercar dengan aksi nyata di lapangan untuk menyukseskan event Nasional ini. Hasilnya, Sabang menjadi kota yang bersih dan indah dengan warna-warni hasil kreativitas dan inovasi masyarakat dengan dukungan pemerintah dan pihak TNI-Polri. Hasil kerja keras ini mendapat apresiasi langsung dari Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help