SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Sabang, Antara Bahari dan Wisata Spiritual

SAIL Sabang 2017 yang berlangsung pada 28 November hingga 5 Desember 2017, lebih difokuskan agar menjadi

Sabang, Antara Bahari dan Wisata Spiritual
SERAMBI/MUHAMMAD NASIR
Gubernur Aceh, drh Irwandi Yusuf, membuka Business Forum Jambore Iptek Sail Sabang 2017 yang bertema 'Sabang sebagai Destinasi Wisata Bahari Kelas Dunia itu', berlangsung di Mata Ie Resort, Kamis (30/11/2017). 

Oleh Yuswar Yunus

SAIL Sabang 2017 yang berlangsung pada 28 November hingga 5 Desember 2017, lebih difokuskan agar menjadi andalan untuk menumbuh kembangkan ekonomi Indonesia, khususnya Aceh yang diproyeksikan sebagai terminal wisata bahari bagi turis asing. Pemberdayaan Sabang sebagai bagian paling dekat dengan masyarakat Aceh, perlu diwujudkan secara nyata, baik dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat luar (turis asing) dan dalam negeri (turis domestik).

Pembangunan Sabang yang selama ini terkesan seperti mati suri, akibat ditutup sebagai wilayah perdagangan dan pelabuhan bebas, kopensasinya sekarang pemerintah mencoba-coba lagi beralih ke wisata bahari. Namun, jika Jakarta hanya sekadar basa-basi dan setengah hati membangun Sabang --dengan mengembangkan wisata bahari dan perhelatan Sabang'>Sail Sabang 2017-- tentunya masyarakat Aceh tak ingin lagi “dininabobokan” dengan program yang hanya mampu meniupkan “angin surga” saja, tanpa ada itikad baik ke depan untuk memberi dukungan sepenuhnya dalam implementasinya.

Realitas Sabang (existing), ibarat janda cantik yang banyak pelamarnya datang dari kayangan (program top down) bukan program button up dan untuk menghibur masyarakat Aceh, maka Sabang tidak pernah sunyi dengan tawaran berbagai program. Sebelumnya, saat Menteri Koperasi/Kepala Bulog Bustanil Arifi (alm) dan Gubernur Ibrahim Hasan (alm) mencoba membangun industri rotan, pabrik sepatu dan mengembangkan industri perikanan, namun Sabang tetap mati suri. Mengapa? Karena pembangunannya setengah hati dan tidak fokus untuk implementasi.

Oleh karena itu, program wisata bahari tersebut, harus menjadi program reprioritas (taktis/skala prioritas) sebagai dukungan pemerintah pusat, sekaligus harus menjadi program strategis untuk jangka panjang. Program ini harus disosialisasikan ke semua kementerian, agar jangan lepas pada satu kementerian, maka sangkut lagi pada kementerian lainnya.

Harus proaktif
Jika memang Sabang, benar-benar programnya akan diwujudkan dengan serius, perlu pengelolaan potensi kepariwisataan yang ada di Sabang melalui perwujudan otonomi khusus (Aceh) yang nyata dan bertanggung jawab, maupun peningkatan prakarsa dan peran aktif masyarakat, pemerintah, pengusaha, termasuk perguruan tinggi beserta lembaga perencanaan dan pembangunan daerah, harus lebih proaktif dan fokus mengelola pengembangan pariwisata spiritual sebagai wilayah syariat yang bakal didatangi oleh turis mancanegara.

Sabang bukanlah Bali yang menjadi maskot Indonesia di mata dunia dan menonjol di sektor pariwisata. Infrastruktur (escential) untuk pendukungnya, harus dibangun secepatnya di Sabang dan mampu melayani dengan manajemen yang baik, terutama hotel berbintang. Akan tetapi mungkinkah Sabang akan “terbebas dalam gaya hidup” para pelancong mancanegara? Mereka harus betah berlibur di Sabang dengan berbagai objek wisatanya, termasuk makanan spesifik Aceh yang dapat mengundang selera para turis. Di sisi lain, citra positif Aceh sebagai daerah berbasis islami, harus dipertahankan dalam format kespesifikannya untuk wisata spiritual.

Namanya boleh apa saja, wisata bahari atau bukan. Tujunnya agar para turis asing dapat berlibur ke Sabang karena potensinya, dengan menjual kecantikan panorama alam dan taman lautnya yang indah, serta didukung oleh pelabuhan alam yang bisa mengekspor berbagai produk industri perikanan. Sungguh Sabang nantinya akan lebih mencuat di mancanegara, fasilitas hotel setidaknya harus dapat mengimbangi untuk kenyamanan para turis asing dengan berbagai budayanya. Namun mungkinkah budaya syariat akan rapuh dan akhirnya sirna ditelan oleh kondisi yang relatif tanpa pengawasan ketat? Jikapun diketatkan, maka pasar wisata akan terabaikan tanpa ada lagi yang mau datang untuk berkunjung dengan kapal pesiar atau untuk berlibur dimusim panas.

Karenanya perlu program keseimbangan dengan tetap menjadi Sabang sabagai wilayah syariat dengan wisata spritualnya. Bila perlu pemerintah Aceh, mengundang Raja Salman untuk berlibur ke Sabang, namun siapkan dulu hotel yang sesuai untuk fasilitas seorang raja yang selalu dilayani dengan kemewahan. Jika Raja Salman memulai berlibur di Sabang, maka gaung kepariwisataan Sabang akan lebih mencuat ke berbagai belahan dunia Arab juga cocok dengan pariwisata spiritual. Di sisi lain hubungan emosional Aceh-Arab Saudi amat tinggi, karenanya menjual wisata Aceh ke tanah Arab, tentu lebih feasible untuk diprioritaskan.

Sabang tidak hanya dikonsentrasikan untuk wisata bahari Pulau Weh, lebih dari itu perlu perencanaan yang lebih matang terhadap pembangunan sekitarnya. Jika benar nanti Sabang berkembang, maka Pulau Weh Sabang akan menjadi “bahari inti” dan akan berdampak terhadap wilayah sekitarnya sebagai plasma. Katakan plasmanya adalah Pulo Aceh, Aceh Besar dan Pidie serta kabupaten lainnya, semuanya akan fokus mengawal berbagai kebutuhan bahari Sabang, termasuk menyuplay semua kebutuhan dalam rangka mendukung ekspor produk perikanan dan kepariwisataan bahari.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help