Tuntaskan Masalah RSUD Meuraxa

Anggota DPRK Banda Aceh, Mukminan SE, meminta pihak manajemen RSUD Meuraxa, Banda Aceh

Tuntaskan Masalah RSUD Meuraxa
DOK SERAMBINEWS.COM
Anggota DPRK Banda Aceh, Mukminan. 

* Soal Pengalihan Remunerasi Pegawai

BANDA ACEH - Anggota DPRK Banda Aceh, Mukminan SE, meminta pihak manajemen RSUD Meuraxa, Banda Aceh, menuntaskan secara komprehensif soal remunerasi pegawai yang dialihkan untuk membayar utang rumah sakit milik Pemko Banda Aceh itu.

“Kita tahu saat ini RSUD Meuraxa defisit anggaran, sehingga mengakibatkan timbulnya utang. Satu di antaranya utang kepada distributor obat,” kata Mukminan, kepada Serambi, Kamis (7/12).

Menurutnya, tahun 2016 utang RSUD Meuraxa hanya berkisar Rp 4 miliar, di tahun 2017 mencapai kurang lebih Rp 30 miliar. Hal itu dikarenakan BPJS tidak dapat membayar klaimnya. Lalu ada utang bangunan fisik di rumah sakit itu sebesar Rp 3 miliar yang akhirnya harus dibayarkan menggunakan uang jasa layanan.

“Penilaian saya, kebutuhan obat hal mendasar yang harus diprioritas. Kalau rumah sakit dalam posisi nggak cukup uang, seharusnya utang bangunan fisik jangan dibayar menggunakan uang jasa layanan, sehingga imbasnya ke krisis obat dan berdampak juga ke remun pegawai,” ujar politisi PKS ini.

Dia menerangkan, DPRK melalui APBK-P 2017 telah menganggarkan sebesar Rp 7,5 miliar untuk memenuhi kebutuhan obat di sana. Tapi, masalah kelangkaan obat masih terjadi. “Ketersediaan obat itu perlu, sehingga pasien dari RS Meuraxa tidak harus dirujuk ke rumah sakit lain yang berdampak kurangnya pendapatan rumah sakit serta klaim BPJS menjadi kecil. Tapi, kalau semua terpenuhi, selain menambah pendapatan rumah sakit, kesejahteraan para pegawai juga akan terjamin,” ungkapnya.

Dia merincikan dari rata-rata Rp 10 miliar klaim BPJS yang diterima RSUD Meuraxa selama tahun 2016 serta di awal-awal tahun 2017, mulai Januari sampai Maret, kondisi klaim BPJS yang diterima saat ini hanya berkisar Rp 8 miliar/bulan. “Ini menunjukkan penurunan. Penyebabkan karena, terjadi kelangkaan obat, sehingga banyak pasien dirujuk. Sekelumit masalah pun mulai muncul, karena apa yang menjadi prioritas, misalnya pengadaan obat, tidak dipenuhi terlebih dahulu,” ujar Mukminan.

Dari yang dianggarkan dalam APBK-P 2017 itu, lanjut Mukminan, ada sekitar Rp 2,5 M untuk biaya obat-obatan gagal lelang. “Penelusuran kami, seharusnya sebagian obat yang ada di daftar e-katalog yang ditender waktu seharusnya bisa dibeli langsung. Kenapa mesti ditender. Itulah yang menyebabkan kekosongan obat. Karena dengan ditender, menghabiskan waktu serta butuh proses panjang yang ujung-ujungnya tender juga gagal,” sebut Mukminan sambil mempelihatkan screenshoot bahwa tender obat itu pernah gagl.

Tapi, justru sebaliknya ujar Mukminan, sebelumnya sebesar Rp 2 miliar bisa dibelikan langsung dari e-katalog, tanpa melalui tender. Hal yang sama seharusnya menurut dia kan dapat dilakukan.

Sementara itu Plt Direktur RSUD Meuraxa, dr Dewi Lailawati MSi, menjelaskan segala permasalahan tetap akan diselesaikan secara bijaksana, termasuk permasalahan yang mencuat, persoalan uang remunerasi para pegawai yang disebut-sebut dialihkan ke pembayaran utang RSUD Meuraxa. “Intinya remunerasi pegawai yang belum terbayarkan, karena tidak cukup di pagu anggaran 2017 ini, sehingga akan tetap dibayarkan tahun 2018 setelah pengesahan APBK-P 2018 Januari mendatang,” sebut Dewi.

Hak-hak pegawai tetap akan dibayarkan. Tapi, karena kondisi rumah sakit yang sedang membutuhkan pengertian bersama, terutama internal di RS Meuraxa, pihak manajemen meminta agar pegawai untuk bersabar. “Tetap akan dibayar 2018 dan itu telah dimusyawarahkan dan kita sudah mensosialisasikan. Karena APBD sangat tidak membantu menuntaskan utang. Sementara utang harus segera diselesaikan, kalau tidak penyediaan obat di rumah sakit akan terkendala. Karena, itu kita minta semua bersabar. Terkait Rp 2,5 miliar untuk biaya obat-obatan yang pernah gagal tender, untuk saat sudah ada pemenanganya dan obat sudah mulai masuk,” sebutnya.(mir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help