Citizen Reporter

Thailand, Negara Bebas yang Ternyata tak Bebas

THAILAND merupakan negara ketiga yang saya unjungi dalam program Muhibah International setelah Singapura dan Malaysia selama satu minggu

Thailand, Negara Bebas yang Ternyata tak Bebas

DR SRI RAHMI, Dosen Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, melaporkan dari Hat Yai, Thailand

THAILAND merupakan negara ketiga yang saya unjungi dalam program Muhibah International setelah Singapura dan Malaysia selama satu minggu. Jika kita mengunjungi Thailand setelah berkunjung ke Singapura, maka kita akan memperoleh pengalaman yang sangat berbeda. Laki-laki dan wanita yang ingin masuk Singapura akan diperiksa ketat di bagian imigrasi. Saya sempat menyaksikan teman yang ikut bersama saya dibawa ke dalam kantor imigrasi untuk dicek paspor, handphone, dan terakhir dites kejujurannya.

Saya yang sudah “bebas” dari pemeriksaan di bagian imigrasi harus menunggu teman tersebut di bagian luar gedung imigrasi dengan harap-harap cemas hampir empat jam lamanya. Malah banyak kasus yang menimpa warga negara asing, meskipun mereka sudah berada di Imigrasi Singapura tapi ada yang tidak diperbolehkan masuk setelah sempat ditahan 5-8 jam di imigrasi.

Asumsi saya, ada ketakutan yang luar biasa dari Pemerintah Singapura dalam menerima kedatangan tamu asing, walaupun sistem yang dipakai oleh pihak imigrasi sangat menguntungkan dan membantu keamanan negara. Namun, ada ketidaknyamanan tersendiri bagi wisatawan mancanegara “diperlakukan” secara berlebihan seperti itu.

Perbedaan langsung saya rasakan saat masuk Thailand. Proses yang dilalui saat berada di Imigrasi Thailand hanya menghabiskan waktu 15 menit saja. Dari hasil perbincangan dengan guide yang merupakan orang asli Melayu-Thai tahulah saya bahwa Thailand sebetulnya merupakan negara bebas yang siapa saja terbuka untuk mengunjunginya.

Menyesuaikan dengan makna nama negara, yaitu Thai yang berarti bebas dan Land yang berarti daratan, maka setiap wisatawan akan merasakan kebebasan yang luar biasa saat mengurus izin masuk di bagian imigrasi. Namun, kebebasan di sini bukanlah kebebasan yang tanpa aturan. Negara yang berpenduduk lebih kurang 65 juta jiwa--dengan provinsinya yang mencapai 77 ini–memiliki keunikan yang bagi saya tidak dimiliki oleh banyak negara lainnya. Loyalitas dan kecintaan yang dimiliki rakyatnya kepada pemimpin (raja) bagi saya sangatlah luar biasa. Hal ini terlihat dari kepatuhan rakyat terhadap aturan dan perintah yang dikeluarkan sang Raja. Bahkan Raja kesembilan Thailand yang sudah mangkat (Bhumibol Adulyadej) sejak hampir setahun lalu masih diingat oleh seluruh rakyat Thailand, baik yang beragama Budha (agama yang sama dengan raja) maupun rakyat Thailand yang beragama Islam.

Kecintaan ini terlihat dari masih dipajangnya foto raja kesembilan itu di kantor pemerintahan, di sekolah, maupun di beberapa pojok Kota Thailand. Kecintaan dan loyalitas rakyat muncul dikarenakan keadilan dan kemakmuran yang dihadirkan oleh sang Raja. Jika raja membangun kuil/vihara untuk umat Budha, maka raja juga akan membangun masjid bagi umat Islam, sehingga saya sama sekali tidak merasa kesulitan saat ingin melaksanakan shalat selama berada di Thailand. Raja juga membuat kebijakan bahwa dari 77 provinsi yang ada di Thailand, setiap provinsi harus memiliki komoditi andalan. Hal inilah salah satunya yang membuat kesejahteraan rakyat Thailand lebih terjamin.

Thailand merupakan salah satu negara yang tak pernah dijajah oleh negara mana pun, sehingga tidak memiliki hari kemerdekaan. Kebebasan yang dimiliki Thailand merupakan kebebasan yang sangat terkontrol. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Budha, maka akan menjadi ketakutan tersendiri bagi wisatawan Islam jika berkaitan dengan makanan. Namun itu tidak saya rasakan saat berada di Thailand.

Walaupun penduduk Thailand hanya 10% yang beragama Islam, namun dengan mudahnya saya temukan rumah makan Melayu atau rumah makan Thailand yang bertuliskan Allah atau Bismillahhirrahmanirrahim.

Jika ingin berbelanja makanan ringan, maka kita hanya perlu jeli mengecek logo halal yang ada di kemasannya. Menurut saya, di daerah kita saja yang mayoritas penduduknya Islam masih banyak terdapat produk makanan yang tak bersertifikat halal.

Tidak hanya itu, bahkan di hotel tempat saya menginap di daerah Hat Yai, saya lihat beberapa lembar sertifikat yang ditempel di dalam lift hotel dengan berbagai bahasa yang menyebutkan bahwa makanan yang terdapat di hotel tersebut merupakan makanan halal yang disertifikasi oleh The Central Islamic Council of Thailand dengan kalimat “Halal Food Service Standard for Tourism”.

Selain itu, ketika saya berkunjung ke Samila Beach, petugas pantai langsung mengatakan bahwa dilarang membuang sampah dan merokok di wilayah pantai. Jika ada yang melanggar, maka akan didenda 200 bath (kurang lebih 80.000 rupiah).

Keunikan lain adalah pada saat saya membeli kacang rebus di daerah pantai, penjual langsung memberikan plastik tempat saya menaruh kulit kacang.

Untuk membeli oleh-oleh di Thailand juga sangat amat mudah karena wisatawan dapat berbelanja menggunakan mata uang negaranya masing-masing.

Ada banyak hal dan kebaikan yang bisa diikuti oleh negara kita walaupun negara yang kita kunjungi mungkin tidak lebih maju dibanding negara kita.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help