Opini

Membangun Aceh ala Fun Walk

TEMAN itu merasa bahwa rakyat sedang dininabobokkan dengan hal-hal yang kurang kreatif, sesaat dan tidak menyelesaikan

Membangun Aceh ala Fun Walk
WALI Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, melepas start peserta fun bike di Lapangan Hiraq, Lhokseumawe, Minggu (10/12) 

Oleh Jarjani Usman

“Bidang yang paling maju dan melibatkan partisipasi masyarakat sekarang ini di Aceh adalah fun walk dan fun bike,” gurau seorang teman suatu ketika, seraya menampakkan iklan lengkap dengan foto-foto wajah para pejabat di sebuah koran.

TEMAN itu merasa bahwa rakyat sedang dininabobokkan dengan hal-hal yang kurang kreatif, sesaat dan tidak menyelesaikan permasalahan-permasalahan substansial di Aceh. Sedangkan bidang-bidang substansial yang melibatkan partisipasi masyarakat luas dan mengurangi kemiskinan belum menampakkan kemajuan signifikan di provinsi paling ujung Pulau Sumatera ini. Namun demikian, saya melihat ada pentingnya belajar dari semangat fun walk atau jalan kaki gembira untuk membangun Aceh.

Apalagi selama ini, Pemerintah Aceh sepertinya masih belum beranjak dari paradigma reaktif dalam pembangunan, yang berdampak terhadap pelayanan bagi masyarakat. Misalnya, pemerintah baru bereaksi untuk membangun jembatan baru setelah didapati benar-benar tak bisa digunakan lagi. Jembatan Tingkeum di Kabupaten Bireuen, misalnya, telah membuat perjalanan atau mobilitas penduduk antarprovinsi terhambat berbulan-bulan. Rakyat terpaksa mengambil jalan alternatif yang sangat jauh, berbatu, dan tak berkualitas. Akibatnya, sejumlah mobil mengalami kecelakaan seperti terbalik. Mungkin ini warisan pemerintahan sebelumnya.

Seharusnya, pada masa Otonomi Khusus (Otsus) dengan banyaknya kucuran dana Otsus, setiap jembatan yang menghubungkan jalan nasional dibangun ganda, seperti jembatan Krueng Lamnyong di Banda Aceh dan beberapa jembatan lainnya. Tujuannya agar kalau yang satu jembatan retak atau runtuh, langsung bisa dialihkan ke satu lagi. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi keharusan untuk menunggu lama pembangunan jembatan, seperti jembatan Tingkeum dan baru-baru ini jembatan wilayah Indrapuri, Aceh Besar.

Akibat kerusakan jembatan tersebut, pada suatu malam sepulang dari penelitian di Lhokseumawe, perjalanan kami terpaksa dialihkan ke jalan alternatif, sempit, dan masuk jauh melewati perkampungan di wilayah Indrapuri. Tentunya butuh waktu lama. Anehnya, jalan alternatif itu pun tidak dipasang rambu-rambu penunjuk arah atau lampu penerang jalan pada malam itu, sehingga sempat berputar ke jalan yang sama.

Semangat fun walk
Seandainya belajar dari semangat fun walk, beberapa poin penting bisa digunakan, misalnya: Pertama, fun walk sangat merakyat, melibatkan rakyat banyak, dan siapa saja bisa berpartisipasi dengan mudah. Apalagi siapa pun bisa berjalan, suatu olahraga yang tak memerlukan fasilitas mewah. Berbeda dengan kompetisi golf yang pernah dilaksanakan di Aceh, yang hanya bisa diikuti dan dinikmati oleh segelintir kalangan elite. Demikian juga dalam pembangunan Aceh, siapa pun rakyat bisa berpartisipasi dengan menyuarakan ide-ide pembangunan di wilayahnya masing-masing, dan pemerintah membuat skala prioritas secara transparan kepada rakyat.

Kedua, dalam fun walk ada harapan dan kegembiraan bersama. Walaupun tak semua memperoleh hadiah, ada keuntungan lainnya yang dirasakan bersama berupa kegembiraan, kesetaraan dan kesehatan. Semua orang melewati jalur yang sama, jelas, dan terukur. Demikian juga seharusnya pembangunan, yang seharusnya semua pihak merasa gembira, setara, dan sehat karena pembangunan jelas peruntukannya dan bagus kualitasnya. Namun yang terjadi di Aceh, saya melihat banyak bangunan yang dibangun pemerintah terbengkalai walaupun sudah menghabiskan anggaran miliaran. Soalnya, yang lebih dipersoalkan setiap tahun adalah serapan anggaran, bukan sejauh mana manfaatnya bagi rakyat banyak.

Ketiga, dalam fun walk ada lintasan dan rambu-rambu yang jelas yang harus diketahui bersama. Sama halnya, bila sedang dalam proses pembangunan, rakyat perlu diberitahukan proges dan permsalahannya agar itu menjadi masalah yang ditanggung bersama. Termasuk diberitahukan kepada rakyat pengguna jalan. Misalnya, 1 atau 2 kilometer sebelum lokasi pembangunan jembatan, perlu dipasang rambu-rambu agar pengguna kendaraan berhati-hati. Seperti “1 Km ke depan sedang ada pembangunan jembatan”, agar para pengendara bisa memperlambat kendaraannya dan siap-siap untuk mengerem. Namun selama ini, banyak pengumuman ditempel dekat proyek jembatan yang sedang dikerjakan, bisa berbahaya bagi pengendara.

Cara melibatkan rakyat seperti ini dalam pembangunan saya lihat sering diterapkan di Australia. Rakyat sekitar dikirim brosur pembangunan yang akan dilakukan dan dampaknya terhadap wilayah pemukiman mereka. Rakyat disediakan juga tempat untuk mengisi saran, keluhan, dan sejenisnya. Ini suatu upaya untuk menjaring suara-suara rakyat atau bentuk partisipasi rakyat banyak.

Sangat penting
Sebenarnya di Aceh, sangat penting dijaring suara-suara rakyat untuk pembangunan. Soalnya, wakil rakyat walaupun telah diamanahkan dana aspirasi, tak semuanya mampu mewakili rakyat. Untuk jalan, misalnya, tak sedikit yang dibangun asal jadi atau dibiarkan berlubang menganga sekian lama hingga menimbulkan korban jiwa bagi pengguna jalan. Berkali-kali saya melewati jalan di kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, misalnya, tak ada yang peduli walaupun sudah begitu banyak dan besar lubang. Padahal itu satu-satunya jalan utama atau menjadi urat nadi perekonomian bagi masyarakat di kecamatan tersebut.

Bukan hanya itu, permasalahan memprihatinkan yang lain terjadi di jalan nasional Banda Aceh-Medan. Walaupun di wilayah perkampungan, bus-bus lari sangat kencang hingga 120 km/jam atau mungkin lebih. Padahal kalau kita lihat kondisi jalan yang sempit, banyak melalui perkampungan penduduk, tak berdinding di sekelilingnya dan tak ada tempat untuk pejalan kaki atau pengayuh sepeda, layaknya bus lari 80 km/jam atau 100 km/jam.

Kalau lari 120 km/jam atau bahkan lebih, maka sama artinya dengan mengcabut dengan paksa hak-hak pengguna jalan lainnya. Ini jelas bentuk diskriminasi yang telah lama dipertontonkan dan pembiaran terhadap terjadinya kecelakaan lalu lintas. Bahkan anehnya, jarang terlihat adanya rambu-rambu di jalan raya. Kalau pun ada rambu satu dua, bukan untuk dipatuhi. Apalagi tak ada konsekuensi bila tak mematuhinya. Yang juga tak kalah anehnya, (nyaris) tak terdengar protes dari wakil rakyat terhadap kelakuan buruk para awak bus antarprovinsi, walaupun kecelakaan yang mengorbankan rakyat telah sering menimpa. Sementara corong untuk menyuarakan aspirasi langsung bagi rakyat kepada pemerintah tidak disediakan.

Akibatnya, kelakukan buruk para supir bus itu terus berlangsung bagai di negeri tanpa aturan. Seolah-olah bus boleh tancap gas sesuka hati, sehingga polisi pun tak mencegatnya. Bahkan sampai ada mobil yang masuk jurang saat menghindari bus yang lari serampangan. Jalan kaki atau menggunakan sepeda di jalan raya tak menyenangkan layaknya fun walk atau fun bike. Di samping karena banyak pengendara yang sembarangan, juga umumnya tak disediakan ruas jalan untuk pengendara sepeda atau jalan kaki. Dalam keadaan demikian, fun walk yang harusnya jalan kaki santai, gembira, menyenangkan, berubah menjadi fearful walk atau jalan kaki menakutkan.

* Dr. Jarjani Usman, M.Sc, M.S., Doktor bidang pendidikan di Deakin University, Australia, dan dua Master bidang pendidikan dari Universiteit Twente Belanda (M.Sc) dan Texas A&M University, Amerika Serikat (M.S.), sekarang dosen di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: jarjani@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help