Opini

Disrupsi Bisnis Konvensional?

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat dalam satu dekade terakhir telah menghadirkan inovasi

Disrupsi Bisnis Konvensional?
Seorang pengemudi Go-Jek menunggu aksi unjuk rasa di depan kantor manajemen PT Go-Jek, Kemang, Jakarta Selatan.(KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG) 

Oleh Ziad Farhad

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat dalam satu dekade terakhir telah menghadirkan inovasi yang menakjubkan. Kehadiran teknologi telah banyak mengubah kebiasaan dan perilaku manusia. Ibarat mata pisau, di satu sisi teknologi hadir untuk memudahkan, sedang di sisi lain memberikan dampak negatif bagi peran manusia. Pun begitu, perlahan-lahan kehadiran teknologi informasi dan komunikasi telah menggeser aspek bisnis yang dijalankan secara konvensional. Kemajuan teknologi telah mendorong tumbuh kembangnya ekonomi digital.

Istilah ekonomi digital atau e-business muncul sebagai akibat dari majunya teknologi informasi dan komunikasi. Ekonomi digital memiliki karakteristik tujuan yang sama dengan bisnis secara konvensional, hanya saja memiliki cakupan yang berbeda. Ekonomi digital dalam praktiknya, cenderung mengandalkan media internet sebagai sarana untuk memperoleh tujuannya.

Kemunculan ekonomi digital dengan beragam platform, seperti e-commerce, e-banking, e-paper, e-money, nyatanya mulai menunjukkan dominasi. Sejumlah sektor mulai merasakan dampak dari kemunculan ekonomi digital dalam sejumlah aplikiasi.

Dalam hal perdagangan ritel, kehadiran e-commerce memberikan pukulan telak bagi gerai-gerai konvensional. Sejumlah ritel dan departement store terpaksa menutup kegiatan operasionalnya. Sebut saja Seven Eleven kelolaan PT Modern Indonesia yang telah resmi menutup seluruh gerainya di Indonesia pada Juni 2017 lalu. Kemudian Oktober lalu, PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI) mengumumkan akan menutup Lotus Depertement Store dan Debenhams. PT MAPI selaku pemilik Matahari Departement Store juga telah menutup sejumlah gerai Matahari di tanah air.

Pergeseran tren
Selain melemahnya ekonomi, penutupan gerai ditengarai karena ada pergeseran tren belanja generasi milenial secara global. Saat ini konsumen semakin memilih kemudahan serta kenyamanan dalam memenuhi setiap kebutuhannya. E-commerce dianggap mampu menjadi solusi. Tingginya minat berbelanja secara online di dunia berdampak pada menjamurya aplikasi e-commerce di Tanah Air. Maka tak heran, jika Indonesia ditasbihkan menjadi negara Asia dengan pertumbuhan transaksi e-commerce paling besar, mencapai 80%.

Di sektor transportasi, munculya aplikasi transportasi online juga telah membuat goyah sejumlah perusahaan jasa transportasi konvensional. Transportasi konvensional yang mendapat pukulan paling telat adalah taksi. Dua perusahaan taksi konvensional ternama di Tanah Air, Blue Bird Group dan Express Group pun mengakui, bahwa kemunculan aplikasi transportasi online berdampak pada lunglainya pendapatan perusahaan tersebut dalam dua tahun terakhir. Hingga Semester I 2017, Blue Bird hanya mampu membukukan laba sebesar Rp 194 miliar. Sementara Express mengalami kerugian Rp 133 miliar (finance.detik.com, 5/10/2017).

Meski dianggap memberikan dampak negatif bagi transportasi konvensional, kemunculan aplikasi transportasi online nyatanya tidak hanya direspons secara positif baik oleh pengguna maupun penyedia jasa, Majalah Fortune edisi Asia Pacific, September 2017 dalam rilis daftar 56 perusahaan yang telah “mengubah dunia” (The change the wrold list), menyertakan Go Jek di dalamnya.

Penyusunan daftar ini dimaksud untuk mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang telah mendatangkan dampak positif kepada masyarakat luas, melalui inovasi yang terintegrasi dengan orientasi perusahaan. Dengan kata lain, konstribusi publik yang dihadirkan oleh perusahaan tak sekadar merupakan aktivitas CSR (Corporate Social Responsibilities), yang dilakukan ecara terpisah dari agenda bisnis perusahaan. Sebaliknya aktivitas itu merupakan bagian integral darinya.

Go Jek mendujuki peringkat 17 di antara perusahaan raksasa yang memiliki reputasi mumpuni. Peringkat Go Jek bahkan lebih tinggi dibanding nama-nama perusahaan sekaliber Unilever (21), Microsoft (25), dan IBM (35).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved