Liputan eksklusif

Garam Pencegah Darah Tinggi Favorit Darwati

SEJAK tahun 2015 Darwati A Gani, istri Irwandi Yusuf, hanya memilih satu produk garam untuk dikonsumsi

Garam Pencegah Darah Tinggi Favorit Darwati

SEJAK tahun 2015 Darwati A Gani, istri Irwandi Yusuf, hanya memilih satu produk garam untuk dikonsumsi keluarganya di Banda Aceh. Garam itu bukan diproduksi di Banda Aceh atau pun di Aceh Besar, tapi justru nun di Bireuen.

Darwati memang kelahiran Bireuen, tapi sejak kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala tahun 1991 ia terus bermukim di Banda Aceh. Tiap kali istri Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf ini pulang kampung, ia hampir selalu menyempatkan diri datang ke Desa Tanoh Anoe, Kecamatan Jangka, Bireuen. Ada apa di Tanoh Anoe? Ternyata di desa itulah diproduksi garam beryodium yang rendah kadar NaCl-nya, sehingga bagus dikonsumsi untuk mencegah dan mengatasi hipertensi (darah tinggi), kolesterol, asam urat, bahkan penyakit gondok (tiroid).

NaCl atau Natrium Chlorida adalah nama senyawa kimia untuk garam dapur. Ya, karena pertimbangan rendah kadar NaCl-nya itulah, sehingga garam tersebut menjadi favorit Darwati sekeluarga. “Garam jenis ini tidak berbahaya bagi penderita darah tinggi, makanya kami suka,” kata Darwati menjawab Serambi di Banda Aceh tadi malam.

Garam tersebut, selain digunakan Darwati untuk memasak gulai, menggoreng ikan atau daging, dan penganan lainnya, juga dijadikannya sebagai garam meja. Ia juga tak perlu khawatir terhadap kehalalan garam produk Tanoh Anoe itu karena produsennya sudah mengantongi sertifikat halal dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.

Apa yang diterangkan Darwati kepada Serambi tadi malam selaras dengan informasi yang duluan didapat wartawan koran ini di Bireuen. “Ibu Darwati setiap bulan memesan garam beryodium pencegah darah tinggi dari kami untuk keluarganya. Ada yang saya kirim ke Banda Aceh, ada juga yang dibeli langsung Ibu Darwati saat datang ke pabrik kami, bersamaan dengan kepulangannya ke rumah orang tuanya di Cot Raboe, Peusangan,” kata Qurrataaini (38) kepada Serambi di Kecamatan Jangka, Bireuen, Kamis lalu.

Siapa Qurrataaini? Dialah perempuan pemilik Pabrik Garam UD Milhy Jaya, di Gampong Tanoh Anoe, Jalan Cot Ijue-Jangka, Km 5, Jangka-Bireuen. Garam beryodium itu dia jual dengan harga yang sangat terjangkau, mulai Rp 5.000 per kemasan hingga Rp 100.000.

Unit usaha ini ia rintis sejak 2006, dua tahun pascatsunami melanda Aceh. Luas pabrik garam tersebut mencapai 700 meter persegi. Awalnya, pabrik garam itu mengolah garam secara tradisional dan hanya satu jenis saja, yakni garam dapur untuk dikonsumsi.

Tapi seiring perkembangan teknologi, UD Milhy Jaya terus mengembangkan usahanya dengan mengolah berbagai jenis garam, baik untuk dikonsumsi maupun garam nonkonsumsi. “Kami juga memproduksi garam untuk tidak dikonsumsi, yaitu garam pencegah penyakit kaki kebas-kebas, kelelahan, dan penyakit kulit, seperti kulit kaki pecah-pecah,” terang Qurrataaini.

Sehari, kata Qurrata, pabriknya kini menghasilkan 3-5 ton garam. Selain dipasarkan untuk seluruh Aceh, juga dikirim ke Sumtaera Utara dan provinsi lainnya di Sumatera, Jakarta, dan sebagian Jawa.

Garam produksi Milhy Jaya diminati konsumen karena beryodium, di samping sudah lulus uji lab di Balai Besar Pemeriksaan Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh serta sudah mendapat sertifikat halal dari LPPOM MPU Aceh.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help