SerambiIndonesia/

Liputan eksklusif

Si Asin pun Didatangkan dari Medan

DARI 23 kabupaten/kota di Aceh, hanya 18 kabupaten/kota yang memiliki laut, minus Aceh Tengah, Bener Meriah

Si Asin pun Didatangkan dari Medan

DARI 23 kabupaten/kota di Aceh, hanya 18 kabupaten/kota yang memiliki laut, minus Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Kota Subulussalam. Namun, tak semua daerah yang memiliki laut itu punya unit usaha yang memproduksi garam tradisional. Misalnya, Aceh Singkil, Kota Langsa, dan Aceh Barat.

Karena Aceh Barat tak memiliki produksi garam lokal, akibatnya bahan yang berasa asin itu harus dipasok dari luar Aceh, yakni dari Medan, Sumatera Utara (Sumut). Konsumsi garam di Aceh Barat, selain untuk kebutuhan dapur, juga yang tak kalah banyaknya adalah untuk mengawetkan ikan asin.

Amatan Serambi, Selasa kemarin di Kompleks Pasar Bina Usaha Meulaboh, garam yang dijual hanya dua jenis, yakni cap Jempol produksi Medan yang dijual Rp 15.000/pak. Isinya 10 bungkus. Bila diecer, harga jualnya Rp 2.000/bungkus.

Garam lainnya adalah cap Supra Salt yang juga diproduksi di Medan. Harga jualnya Rp 3.000/bungkus. “Garam yang dijual di Aceh Barat ini rata-rata pasokan dari luar Aceh, mayoritas dari Medan,” kata Handi, seorang pedagang di Pasar Bina Usaha Meulaboh.

Menurutnya, garam dibeli warga Aceh Barat rata-rata untuk kebutuhan dapur, mengawetkan ikan, dan membuat mi bakso.

Sekretaris Dinas Perdagangan Aceh Barat, Idrus SE mengakui bahwa garam yang dijual di Meulaboh mayoritas garam dari Medan. “Dampak garam yang dipasok dari luar ya relatif mahal,” katanya.

Sekretaris Dinas Perdagangan Aceh Barat mengakui bahwa Aceh Barat hingga kini belum punya usaha atau sentra produksi garam lokal. “Padahal, kalau ada yang mau memproduksi garam lokal pasti laku, harganya bisa lebih murah, dan akan menyerap tenaga kerja lokal,” ujarnya sembari mengimbau hendaknya ada warga Aceh Barat yang tertarik menggeluti usaha garam tradisional.

Apa yang terjadi di Aceh Barat juga berlaku di Aceh Singkil. Kabupaten yang wilayah lautnya sangat luas ini tiap bulan membutuhkan tak kurang dari 50 ton garam, mengingat di Kecamatan Kuala Baru Singkil dan Singkil Utara terdapat sentra pengolahan ikan asin dan ikan rebus. Nah, semua garam industri nonyodium itu juga dipasok dari Medan.

Kondisi ini menyebabkan pengolah ikan asin kerap terhenti beroperasi, ketika pasokan garam dari Medan terlambat masuk. “Kalau garam tak masuk, pembuatan ikan asin otomatis berhenti,” kata Bustami, Pimpinan UD Mitra Nelayan yang bergerak dalam industri pengolah ikan asin di Kuala Baru, Selasa lalu.

Menurutnya, untung pengolahan ikan asin jauh menurun akibat tingginya harga garam. Bahkan ada yang gulung tikar lantaran tak sanggup bertahan setelah melonjaknya harga garam hingga 400 persen per kilonya. Sebelumnya Rp 1.500 per kg menjadi Rp 6.000 per kg.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help