Ada Masjid Kaca di Ateuk Jawo

MASJID Baiturahim, tampak berdiri megah di tengah Gampong Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh

Ada Masjid Kaca di Ateuk Jawo
MASJID Baiturrahim, Gampong Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. 

MASJID Baiturahim, tampak berdiri megah di tengah Gampong Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Rumah ibadah dengan satu kubah berwarna hijau itu, seluruhnya bercat putih, nan memambah kewibawaannya. Namun nama Baiturrahhim bagai “tenggelam”, karena umumnya masyarakat setempat menjulukinya sebagai Masjid Kaca.

Kenapa masjid kaca? Ternyata, penamaan Masjid Kaca bukan karena masjid ini dilapisi kaca atau konstruksi bangunannya yang dipenuhi kaca. Faktanya, konstruksi bangunan masjid ini sama saja dengan masjid pada umumnya. Hanya saja setiap pintu dan jendela masjid Baiturrahim terbuat dari kaca, dengan tujuan menghindari masuknya burung ke dalam masjid. Tak heran oleh masyarakat sekitar, masjid ini, disebut sebagai Masjid Kaca. Lagi pula dengan gaya khas Masjid Kaca, akan memudahkan saat memberi petunjuk lokasi keberdaannya.

Masjid Baiturrahim termasuk salah satu masjid yang indah di Banda Aceh. Arsitektur dan ukiran dinding masjid tampak modern dan bergaya timur tengah. Apabila diperhatikan, lebih kurang ukirannya berbentuk ukiran Masjid Raya Baiturrahman.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Baiturahim, Samsuir yang ditanyai Serambi Mihrab seusai shalat Zuhur, Rabu (13/12) menjelaskan, disain ukiran itu berasal dari ide salah seorang warga Gampong Ateuk Jawo yang berkemampuan arsitektur.

“Dia sering ke timur tengah, ada masjid-masjid yang memiliki ukiran indah difoto, kemudian dipadukan dengan ukiran masjid lain. Maka lahirlah ukiran seperti ini,” jelasnya didampingi Sekretarisnya, T Bustami.

Dia mengisahkan, pembangunan masjid itu secara kontinu di mulai sejak 1997. Tapi sebelum tahun itu, sudah lebih dulu dibangun pondasi, namun kemudian terhenti beberapa saat sebelum dilanjutkan pada 1997.

Botol kaca
Ada kisah menarik dalam proses pembangunan rumah ibadah itu. Hampir semua masyarakat Gampong Ateuk Jawo terlibat dalam proses pembangunan, karena dilakukan secara gotong royong, baik tua maupun muda.

Pembangunan itu, katanya, tidak dilakukan sekaligus, tergantung dana yang terkumpul. “Masyarakat mengumpulkan botol kaca dan beras untuk biaya pembangunan. Uangnya dibeli semen, dapat 30 sak, bangun,” kata Samsuir lagi.

Selain dari sumbangan masyarakat, pembangunan masjid tersebut juga dibantu oleh pihak lain seperti pemerintah dan perusahaan swasta. “Kita kumpulkan dana sedikit-sedikit, buat proposal, kirim ke sana kemari,” ujanya.

Hingga akhirnya, masyarakat Ateuk Jawo bisa melaksanakan shalat Jumat di masjid sendiri setelah beberapa dikerjakan. “Sebelum ada masjid ini, masyarakat kita melaksanakan shalat Jumat ke masjid gampong lain,” kenang Samsuir.

Alhamdulillah, masjid Baiturrahim kini sudah berdiri kokoh dan megah. Selain memiliki halaman luas, sekarang juga sudah dibuat satu bak air berukuran besar sebagai tempat berwudhu di samping dipasang juga air keran.

Berdasarkan disain, seharusnya pembangunan Baiturrahim terdiri atas tiga kubah. Yaitu satu kubah besar (kubah utama) didampingi dua kubah kecil, plus sebuah menara di depan masjid. Namun, hingga kini panitia baru berhasil membangun satu kubah utama.

“Dua kubah lagi sedang dibuat juga. Kalau menara kita belum sanggup. Kalau ada donatur yang mau membantu pendaan untuk bangun menara, kami sangat menerimnya,” tambah Samsuir yang didampingi jamaah lain.

Dalam peristiwa tsunami 26 Desember 2004, Masjid Baiturahim tidak terkena imbasnya. Sebab, air tsunami saat itu tidak sampai ke Gampong Ateuk Jawo dan hanya berhenti di seputaran perkotaan.

Masjid Baiturrahim hingga kini masih berdiri megah dengan segala fungsinya. Sama seperti masjid lain pada umumnya, kegiatan ibadah berlangsung tanpa hambatan. Bahkan, bila Anda singgah atau melewati Masjid Kaca pada Rabu Malam, jelas terdengar kegiatan pengajian oleh masyarakatnya. Salah satu tanda bahwa gerakan memakmurkan masjid terus berjalan, kendati belum punya dua kubah pendamping dan menara, itu bukanlah hambatan. By the way, adakah diantara Anda (yang berkemampuan), sudi menabung amal jariyah melalui Masjid Kaca? (masrizal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help