460 Paket Proyek Fisik Berstatus Kritis

Asisten II Setda Aceh, dr Taqwallah MKes, meminta kontraktor dan para kepala Satuan Kerja Perangkat (SKPA)

460 Paket Proyek Fisik Berstatus Kritis
TAQWALLAH, Asisten II Setda Aceh

* Masa Kerja Tinggal 12 Hari Lagi

BANDA ACEH - Asisten II Setda Aceh, dr Taqwallah MKes, meminta kontraktor dan para kepala Satuan Kerja Perangkat (SKPA), Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), serta Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) proyek fisik APBA 2017 untuk lebih serius lagi menyelesaikan proyek fisiknya yang masuk dalam status kritis karena realisasinya masih di bawah 75 persen.

“Masa kerja tahun anggaran 2017 tinggal 12 hari lagi. Jika kontraktor tidak bisa menuntaskan borongan proyek fisiknya sebelum 31 Desember 2017, maka akan ada pemotongan kontrak,” kata dr Taqwallah kepada kontraktor pada saat melakukan kunjungan lapangan ke beberapa lokasi proyek yang tergolong kritis di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Pidie, Jumat (15/12), Sabtu, dan Minggu kemarin.

Pada saat berlangsung rapat pimpinan (rapim) evaluasi pelaksanaan APBA 2017 tanggal 23 November lalu, terungkap ada 460 lagi paket proyek fisik APBA 2017 yang realisasi proyeknya berada di bawah 75 persen. Itu sebab Taqwallah dalam kapasitasnya sebagai Asisten II Setda Aceh merasa perlu melakukan kunjungan lapangan tiga hari pada akhir minggu lalu. Tujuannya untuk meninjau proyek-proyek fisik yang realisasi fisiknya masih belum menggembirakan.

Dalam kunjungan itu, Taqwallah juga mengajak dan memotivasi para kontraktor, kepala SKPA, KPA, dan PPTK, agar proyek fisik yang tergolong kritis itu, tidak sampai putus kontrak. Kalau putus kontrak, menurut Taqwallah, tidak hanya kontraktor yang rugi, tapi pemerintah dan masyarakat juga sangat dirugikan.

Kerugian kontraktor, sebutnya, dana jaminan proyeknya ditarik/dicairkan pemerintah, sehingga ia tidak mendapat keuntungan. Kerugian pemerintah, proyeknya tidak selesai. Jika akan dilanjutkan kembali, maka anggaran yang harus disediakan jadi lebih besar nilainya. Sedangkan kerugian masyarakat, tidak bisa memanfaatkan hasil pembangunan secara tepat waktu.

Dari sisa waktu 12 hari lagi, kata Taqwallah, para kontraktor yang posisi realisasi fisik proyeknya masih minus antara 20-25 persen, masih ada cara dan solusinya asalkan kontraktor bersama buruhnya mau bekerja sama menambah jam kerja atau menambah jumlah buruh. Selain itu, bahan material di lapangan haruslah cukup.

Kepala SKPA, KPA, dan PPTK proyek pun diminta Taqwallah melakukan pengawasan intensif bersama konsultan pengawas, agar pekerjaan yang dilakukan tidak salah atau dikerjakan secara sembarangan.

Misalnya, proyek pembangunan rumah guru SMK Penerbangan di Blang Bintang, Aceh Besar, dengan nilai kontrak Rp 4,4 miliar. Di lokasi itu ada tiga unit pembangunan gedung yang mirip dengan rumah asrama guru SMK tersebut. Satu unit pembangunannya telah selesai 100 persen, satu lagi berada di atas 95 persen, tapi satu unit lagi realisasinya baru 85 persen.

Pada Sabtu lalu, Taqwallah memfokuskan kunjungannya ke asrama guru SMK Penerbangan yang realisasi pembangunannya baru 85 persen itu. “Kepada kontraktornya, kita minta untuk meningkatkan jumlah jam kerja, buruh, dan bahan material. Alasannya, sisa waktu kerja cuma 12 hari lagi. Jadi, jika tidak dicarikan terobosan oleh kontraktor, konsultan pengawas, SKPA, KPA dan PPTK, maka proyek tersebut bakal diputus kontraknya,” kata Taqwallah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved