Tafakur

Mempertanyakan Hidup

Karena hidup adalah perjalanan, sepatutnya sering dipertanyakan. Kita perlu mempertanyakan tujuan

Mempertanyakan Hidup

Oleh: Jarjani Usman

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Karena hidup adalah perjalanan, sepatutnya sering dipertanyakan. Kita perlu mempertanyakan tujuan, arah, dan keadaan perjalanan hidup diri sendiri selama ini.

Apalagi tak jarang, walaupun menyakini hidup sudah berada di jalan yang benar, tak tertutup keadaan amal masih memperihatinkan. Misalnya, walaupun sudah banyak beramal untuk kehidupan akhirat, pahalanya telah kosong. Hal ini terjadi karena perbuatan-perbuatan berdosa yang sengaja dilakukan setiap hari. Kalau orang lain punya program “one day one juz” [satu hari satu juz], tak sedikit di antara kita yang sudah terprogram dengan “one day one ghibah” [satu hari satu gunjingan].

Di samping itu, perlu mempertanyakan cara hidup di dunia yang mengandung ibadah. Walau sangat faham bahwa hidup sedang dalam proses menuju akhirat, tak sedikit orang yang lebih mengarahkan segala kekuatan yang ada untuk memperjuangkan kepentingan duniawi. Bukan tak ada di antara kita yang di atas mimbar meneriakkan kutukan terhadap Yahudi karena telah merampas hak-hak rakyat Palestina khususnya dan umat Islam umumnya, tetapi diri kita sendiri masih gemar mencari nafkah dengan merampas hak-hak orang lain, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.

Singkatnya, mempertanyakan hidup akan bermakna besar bagi diri sendiri. Itu bisa membantu diri kita menuju pintu taubat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help