Advertorial

Revitalisasi Bahasa Daerah di Aceh

Sebab, awal hilangnya sebuah bahasa adalah karena ia tidak lagi digunakan di dalam keluarga.

Revitalisasi Bahasa Daerah di Aceh
Serambinews.com/IST
Sukseskan PKA ke-7 

Oleh: Dr. Mohd Harun, M.Pd*

PROVINSI Aceh merupakan salah satu daerah yang memiliki bahasa terbanyak di Pulau Sumatra. Tercatat ada sepuluh bahasa yang masih digunakan oleh masing-masing etnis pemiliknya, yaitu (1) bahasa Aceh, (2) bahasa Tamiang, (3) bahasa Gayo, (4) bahasa Alas, (5) bahasa Singkil, (6) bahasa Kluet, (7) bahasa Jamee, (8) bahasa Sigulai, (9) bahasa Devayan, (10) bahasa Haloban. Dari sepuluh bahasa tersebut, ada bahasa yang dituturkan oleh mayoritas, yaitu bahasa Aceh dan ada pula bahasa yang dituturkan oleh minoritas, yaitu bahasa Haloban dan bahasa Kluet.

Bahasa Aceh dituturkan oleh etnis Aceh yang mendiami wilayah Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, sebagian besar Kota Sabang, Kota Banda Aceh, Kota Langsa, Aceh Barat Daya, sebagian wilayah Aceh Selatan dan Aceh Tamiang. Bahasa ini dianggap berkerabat dengan bahasa Campa atau termasuk rumpun Chamic (daerah Komboja dan Vietnam), cabang dari rumpun bahasa Austronesia Barat. Hal ini karena terdapat beberapa kosakata bahasa Aceh yang sama artinya dalam bahasa Campa. Namun, sampai saat ini belum ada penelitian yang komprehensif untuk membuktikan hal ini secara akademis.

Bahasa Tamiang adalah bahasa yang digunakan di wilayah Aceh Tamiang, meliputi Kecamatan Bendahara, Karang Baru, Tamiang Hulu, Seruway, dan sebagian Kecamatan Kuala Simpang. Bahasa ini merupakan dialek dari bahasa Melayu atau dapat disebut Melayu Tamiang, sama halnya dengan dialek Melayu Deli atau Melayu Riau. Sementara itu, bahasa Gayo adalah bahasa yang sekarang digunakan di wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Bahasa di dataran tinggi Aceh ini merupakan bahasa dengan jumlah penutur kedua terbanyak di Aceh. Belum ada penelitian yang sahih tentang kekerabatan bahasa ini, meskipun dalam kebudayaannya terdapat warna Batak dan Aceh.

Bahasa Alas adalah bahasa yang dituturkan oleh masyarakat di Aceh Tenggara. Menurut penelitian SIL Internasional, bahasa ini memiliki pertalian erat dengan bahasa Batak di Sumatra Utara. Selanjutnya, bahasa Kluet adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat di empat kecamatan di Aceh Selatan, yaitu Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Timur, dan Kluet Tengah. Bahasa Kluet oleh SIL Internasional juga dianggap berkerabat dengan bahasa Batak. Untuk membuktikan kebenaran penelitian SIL tersebut diperlukan penelitian yang mendalam, baik secara sinkronik maupun secara diakronik.

Bahasa Singkil adalah bahasa yang digunakan oleh mayoritas masyarakat di Kabupaten Aceh Singkil dan sebagian Kota Subulussalam. Menurut SIL Internasional, bahasa ini diduga berkerabat dengan bahasa Karo. Namun, masyarakat etnis Singkil enggan dikatakan bahasa mereka adalah dialek dari bahasa Karo. Bahasa Singkil memiliki beberapa nama lain, seperti bahasa Julu, Boang, Kade-Kade, dan Kampong. Namun, secara politis tampaknya nama bahasa Singkil lebih berterima untuk digunakan di kalangan terdidik dan di jajaran pemerintahan. Hal ini misalnya dapat dicermati dari penulisan kamus bahasa Singkil oleh Mu'azd Vohry yang berjudul Nanggakh Basa Singkil (2016).

Bahasa Jamee adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat di sebagian Kabupaten Aceh Selatan, terutama di Kecamatan Labuhan Haji Barat, Labuhan Haji Timur, dan Samadua. Bahasa ini juga digunakan di Kecamatan Kawai XI dan sebagian Meureubo di Aceh Barat, Kecamatan Susoh di Kabupaten Aceh Barat Daya, di sebagian Kota Subulussalam, Singkil, dan sebagian Kota Sinabang di Kabupaten Simeulue. Bahasa ini sebenarnya adalah bahasa Minangkabau yang dibawa bersamaan dengan hijrahnya sebagian orang Aceh yang berkeluarga dengan orang Minang semasa Kerajaan Aceh Darussalam berjaya. Karena itu pula mereka disebut sebagai jamee atau tamu, yang dalam budaya Aceh harus dimuliakan. Di kemudian hari terjadilah migrasi orang Minang ke pantai Barat Selatan Aceh untuk mencari kehidupan yang lebih layak di negeri baru.

Tujuh bahasa yang sudah disebutkan merupakan bahasa yang hidup dan berkembang di daratan. Tiga bahasa lagi hidup dan berkembang di kepulauan, dua di antaranya terdapat di Pulau Simeulue, yaitu bahasa Devayan dan bahasa Sigulai. Bahasa Devayan atau Simalur digunakan di Simeulu Timur dan sekitarnya. Bahasa Sigulai digunakan di Kecamatan Simeulu Barat dan Sekitarnya. Kedua bahasa di Pulau Simeulu ini diduga mendapat pengaruh dari bahasa Nias. Meskipun terdapat sejumlah kata yang sama dari kedua bahasa ini, tetapi masih dianggap sebagai bahasa yang berbeda sampai ada penelitian yang komprehensif untuk pembuktiannya. Satu lagi bahasa di kepulauan adalah bahasa Haloban. Bahasa yang diduga dipengaruhi oleh bahasa Nias ini dituturkan oleh ribuan orang di Desa Haloban dan Asantola, di Kecamatan Pulau Banyak Barat. Oleh para pemerhati, bahasa ini dirisaukan sudah diambang "sakratul maut" seiring dengan semakin menyusur jumlah penuturnya.

Kekayaan budaya daerah Aceh dari segi bahasa ini perlu mendapat perhatian serius dari pemangku adat dan pemerintahan. Hal ini karena perkembangan kesepuluh bahasa di Aceh ini tergolong stagnan, di samping bahasa Haloban yang berada para taraf krisis. Beberapa langkah nyata yang segera harus dilakukan sebagai wujud revitaliasi bahasa adalah sebagai berikut. Pertama, menempatkan semua bahasa tersebut sebagai muatan lokal di jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP). Kedua, segera dihasilkan guru bahasa daerah Aceh dari perguruan tinggi yang ada di Aceh. Ketiga, perlu digalakkan satu hari wajib menggunakan bahasa daerah di daerah masing-masing pada perkantoran dan lembaga pendidikan. Keempat, perlu segera dibuat kamus yang komprehensif untuk bahasa dengan penutur minoritas, seperti bahasa Kluet, Haloban, Singkil, Sigulai, dan Devayan. Kelima, perlu dihidupkan media massa yang menggunakan bahasa daerah masing-masing. Keenam, perlu ditumbuhkan kesadaran semua pemilik bahasa agar senantiasa menggunakan bahasa etnis masing-masing di lingkungan keluarga. Sebab, awal hilangnya sebuah bahasa adalah karena ia tidak lagi digunakan di dalam keluarga. Mungkin itulah enam langkah yang perlu dilakukan untuk merevitalisasi bahasa daerah di Aceh.

*Dr. Mohd Harun, M.Pd | Kepala Pusat Studi Bahasa Daerah Aceh,Universitas Syiah Kuala

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved