Wagub Buka Festival Panen Kopi Gayo

Wakil Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah membuka Festival Panen Kopi Gayo di Kampung Gunung Suku Rawe

Wagub Buka Festival Panen Kopi Gayo
Wakil Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah didampingi Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM serta seorang budayawan, Fikar W Eda memukul gong tanda dimulai pagelaran Festival Panen Kopi Gayo di Kampung Gunung Suku Rawe, Kecamatan Lut Tawar, Sabtu (16/2). SERAMBI/MAHYADI 

TAKENGON - Wakil Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah membuka Festival Panen Kopi Gayo di Kampung Gunung Suku Rawe, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah, Sabtu (16/12). Festival sederhana itu, juga dihadiri perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

Wagub Aceh yang didampingi Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM tiba di Kampung Gunung Suku Rawe, sekira pukul 17.00 WIB yang langsung disambut dengan tarian adat yang menjadi tradisi warga. “Acara ini, memang benar-benar sederhana, jadi tidak perlu ada penghormatan berlebihan,” kata Nova Iriansyah dalam sambutannya.

Lokasi pembukaan festival diselenggarakan di pekarangan rumah warga, tanpa tenda, serta pernak-pernik hiasan layaknya menyambut seorang pejabat. Wagub dan Bupati Aceh Tengah, hanya duduk di kursi kayu dan berbaur dengan masyarakat.

Khas pedesaana sangat terasa dalam pembukaan festival itu, dimana warga bebas melihat langsung proses pembukaan. “Ini merupakan kreativitas masyarakat. Jadi, akan memberikan dampak yang cukup besar. Salah satunya warga bisa lebih mandiri dan akan memberikan efek secara ekonomi,” kata Nova Iriansyah.

Menurut Wagub Aceh ini, even festival panen kopi Gayo merupakan bentuk ekonomi kerakyatan yang sangat kreatif yang menjadi sentra adalah komoditi kopi. Tapi yang terpenting, bagaimana mengelola komoditi kopi dengen perspektif kebersamaan, persepektif, kebudayaan, dan pariwisata. “Kawasan ini, sangat mendukung untuk itu, karena ada perkebunan, gunung serta danau, serta areal persawahan,” tuturnya.

Dia menjelaskan even seperti ini, juga akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyaraka sehingga memunculkan kesejahteraan dan menurunkan angka kemiskinan. “Jadi, saya atas nama Pemerintah Aceh, sangat mendukung skema pariwisata, ekonomi rakyat serta mendukung kebersamaan masyarakat yang seperti ini,” akunya.

Di sisi lain, katanya, pemerintah pusat telah mencanangkan percepatan pengembangan kawasan khusus Gayo-Alas. Salah satunya, di tahun 2018, Kemenko PMK akan diselenggarakan even Gayo-Alas Mountain International Festival. “Ini merupakan festival yang terpadu. Didalamnya ada agro industri, pariwisata, kebudayaan, dan pertemuan bisnis. Dalam waktu dekat, kami bersama para bupati terkait akan membuat perencanaan untuk kesiapan kegiatan ini,” sebut Wagub.

Sedangkan Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM, dalam sambutanya menyampaikan, bahwa kopi arabika Gayo identik dengan perekonomian masyarakat di daerah. Ketika hasil produksi kopi meningkat, serta harga jual kopi baik, kondisi ekonomi masyarakat juga akan meningkat. “Ada sekitar 80 persen penduduk Aceh Tengah menggantungkan hidup dari kopi. Jadi, kondisi ekonomi, tergantung situasi harga dan produksi kopi,” jelas Nasaruddin.

Disebutkan, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, sebelumnya tidak mengizinkan lahan-lahan kopi dikuasai oleh perusahaan-perusahaan swasta dan hanya dikelola oleh masyarakat. “Lebih baik diberikan kepada masyarakat, ketimbang kepada perusahaan swasta. Karena kalau dipegang oleh perusahaan, masyarakat justru hanya jadi buruh,” ungkapnya.

Festival panen kopi gayo digagas oleh warga Kampung Gunung Suku Rawe, dengan rangkaian acara berupa pertunjukan seni didong, baca puisi serta penampilan musik jazz yang pementasannya digelar di pinggir Danau Lut Tawar.(my)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved