Aceh Jadi Contoh Merawat Keindonesiaan

Kegiatan Deklarasi Kebangsaan kali ini lumayan istimewa. Selain dihadiri mayoritas perwakilan alumni dari seluruh

Aceh Jadi Contoh Merawat Keindonesiaan
Sulaiman Abda 

Kegiatan Deklarasi Kebangsaan kali ini lumayan istimewa. Selain dihadiri mayoritas perwakilan alumni dari seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia, kegiatan ini juga diiringi dengan penampilan tari saman, musik etnik, mulai dari Aceh hingga Papua. Sejenak kemudian, para alumni kampus negeri seluruh Indonesia itu berkumpul bersama mengucapkan ikrar deklarasi di halaman Gedung Rektorat Unsyiah, Banda Aceh, Rabu (20/12) siang itu.

Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unsyiah Drs Sulaiman Abda MSi dalam sambutannya mengatakan, sejarah mencatat, tak terhitung sumbangan Aceh untuk Republik Indonesia. “Aceh ikut mendirikan dan merawat republik ini, “ kata Sulaiman Abda.

Salah satu peran Aceh tersebut diwujudkan dalam kunjungan Presiden Soekarno pada 15 18 Juni 1948 atau berselang tiga tahun setelah proklamasi. Ini adalah kunjungan yang ditandai dengan penabalan Aceh sebagai daerah modal dan pengakuan Aceh sebagai satu satunya wilayah di Indonesia yang tetap merdeka di tangan kolonial.

Kata Sulaiman Abda, ada dialog yang terjadi antara Soekarno dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh kala itu dan melahirkan lima dukungan utama Aceh terhadap NKRI. Dia antaranya, berupa pengadaan pesawat terbang. “Seulawah RI 001 sebagai alat juang untuk menerobos blokade udara Belanda,” katanya.

Aceh juga tidak dapat dipisahkan dari perannya dalam mengembangkan berbagai konsep pembangunan melalui kehadiran putra putri terbaiknya, baik sebagai perencana pembangunan di tingkat nasional, pimpinan lembaga negara, maupun sebagai pelaku bisnis. Bahkan banyak kelembagaan negara yang awalnya berdiri di Aceh kemudian diadopsi menjadi kelembagaan di tingkat nasional, pimpinan lembaga negara, maupun sebagai pelaku bisnis. Bahkan banyak kelembagaan negara yang awalnya berdiri di Aceh kemudian diadopsi menjadi kelembagaan di tingkat nasional.

Selain itu, kata Sulaiman Abda, peran alumni maupun keluarga besar Unsyiah lainnya juga tercatat dalam berbagai aspek. Sejumlah tokoh Aceh mewakafkan dirinya dalam pembangunan Indonesia, semisal Prof Dr Ibrahim Hasan yang pernah menjabat sebagai menteri pangan.

Kini, Indonesia dihadapkan pada tantangan baru yang harus dilawan bersama, yakni radikalisme baik atas nama sara maupun akibat pengaruh globalisasi.

“Secara khusus kami ingin mengingatkan, Aceh telah menjadi contoh dalam memperjuangkan dan merawat kebangsaan dan keindonesiaan. Di masa lalu, Aceh menjadi modal perjuangan melawan kolonialisme penjajahan. Dan di masa kekinian, Aceh telah mewakafkan putra putrinya untuk merawat Indonesia,” tandas Sulaiman Abda.

Sebagai ketua IKA Unsyiah, pihaknya mendukung sepenuhnya upaya-upaya memperkuat kebangsaan. “Kami mendukung sepenuhnya upaya mengurangi radikalisme atas nama apa pun. Bersama lebih dari 90.000 alumni Unsyiah, saya menyatakan perang terhadap segala bentuk radikalisme dan intoleransi di Indonesia,” katanya.

Wakil Gubernur (Wagub) Aceh Ir Nova Iriansyah MT dalam sambutannya mengatakan, ada kelompok yang kerap menentang ideologi bangsa dan begitu gamblang memperlihatkan perilaku koruptif, permisif, intoleransi, dan menonjolkan sikap primordial yang tinggi. “Kelompok ini kerap pula mengagung-agungkan kebebasan dan liberalisme serta melakukan penindasan terhadap kelompok lain, sehingga meregangnya semangat kebangsaan,” tandas Wagub di hadapan ribuan peserta Deklarasi Kebangsaan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help