SerambiIndonesia/

Hasil Voting Majelis Umum PBB, 128 Negara Tolak Keputusan AS yang Mengakui Yerusalem Ibu Kota Israel

Seperti dirilis situs PBB, hanya sembilan negara mendukung langkah Amerika, sementara 35 negara lain abstain.

Hasil Voting Majelis Umum PBB, 128 Negara Tolak Keputusan AS yang Mengakui Yerusalem Ibu Kota Israel
(TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN)
Ribuan orang dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Jawa Barat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Selamatkan Al-Aqsha (AMSA) mengikuti aksi Selamatkan Al-Aqsha di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (15/12/2017). Dalam aksinya, mereka mendeklarasikan Jerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina dan menolak dengan tegas klaim Presiden AS, Donald Trump yang menyatakan Jerussalem sebagai Ibu Kota Israel. 

Namun, kata Haley, Amerika akan "mengingat" hari pemungutan suara ini.

Menurut dia, Amerika kini punya pandangan yang tak lagi sama soal PBB dan negara-negara yang berseberangan suara dengannya.

"Ketika kami memberikan kontribusi yang murah hati kepada PBB, kami juga memiliki harapan yang sah bahwa niat baik kami diakui dan dihormati," ujar Haley.

(Baca: Disdik Simeulue Temukan Ijazah Paket C Diduga Palsu)

(Baca: 62 Orang Masuk Daftar Penerima Rumah Dhuafa di Bener Meriah, yang Terima Rumah hanya 14 Orang)

Palestina menyambut gembira resolusi Majelis Umum PBB ini. "(Hasil) pemungutan suara ini adalah kemenangan bagi Palestina," kata Nabil Abu Rdainal, juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, seperti dikutip Reuters.

Adapun Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour menyebut hasil pemungutan suara 128 berbanding sembilan ini merupakan kemunduran besar bagi Amerika Serikat.

21 Negara Tak Hadiri Sidang

Sidang darurat Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dengan agenda pemungutan suara untuk rancangan resolusi terkait status Yerusalem telah digelar pada Kamis (21/12/2017).

Sidang tersebut menghasilkan 128 negara memberikan suaranya untuk mendukung rancangan resolusi yang menentang pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Sementara hanya sembilan negara, termasuk AS dan Israel yang memilih menentang dan 35 negara abstain.

Presiden Majelis Umum PBB Miroslav Lajcak pada Senin (18/12/2017) telah mengirimkan undangan kepada 193 negara anggota.

Dengan kata lain, ada 21 negara yang tidak hadir dalam sidang.

(Baca: 62 Orang Masuk Daftar Penerima Rumah Dhuafa di Bener Meriah, yang Terima Rumah hanya 14 Orang)

(Baca: Diselamatkan Penjaga Pantai, Penyu Ini Terjerat Tali di Bungkusan Kokain Senilai Rp 718 Triliun)

Melihat hasil voting tersebut, maka Majelis Umum PBB resmi meloloskan rancangan resolusi yang salah satu poinnya adalah mementahkan pengakuan Trump terhadap Yerusalem pada 6 Desember lalu.

Meski kalah telak dengan sembilan suara melawan 128 suara, AS dan Israel melihat ada hal positif dari hasil tersebut.

"Sementara resolusi itu disahkan, proses voting menunjukkan cerita yang berbeda," kata juru bicara utusan AS.

"Tampak jelas bahwa banyak negara lebih memprioritaskan hubungan mereka dengan AS," tambahnya.

Sehari sebelum pemungutan suara, Presiden Trump mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan negara-negara yang memilih setuju dengan resolusi.

(Baca: RSUD Nagan Sukses Angkat Tumor Ovarium Seberat 60 Kg)

(Baca: Selamat Hari Ibu - Ini Kumpulan Kata Mutiara Indah dan Doa Untuk Ibu Tercinta)

Trump mengatakan akan memangkas bantuan pendanaan kepada negara-negara yang berseberangan dengannya.

Menurut analis PBB untuk Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa, Richard Gowan, "ancaman" Trump tersebut tampaknya berpengaruh terhadap negara-negara kecil dan miskin.

"Negara-negara yang lebih kecil, negara-negara miskin mungkin sedikit gugup saat mendengar retorika Trump," kata Gowan.

"Namun mereka juga cukup percaya diri bahwa negara-negara besar di blok Arab akan menjamin posisi yang melawan AS, begitu juga dengan negara Eropa," tambahnya. (CNN,AFP)

Editor: faisal
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help