Mihrab

Toleransi Beragama jangan Merusak Aqidah

Islam mengedepankan sikap toleransi. Namun toleransi dalam Islam memiliki batasannya yaitu aqidah

Toleransi Beragama jangan Merusak Aqidah

Islam mengedepankan sikap toleransi. Namun toleransi dalam Islam memiliki batasannya yaitu aqidah, yang merupakan hal sangat prinsipil bagi muslim sejati. Prinsip ini harus dipertahankan, karena aqidah adalah harga mati yang tidak boleh tawar menawar.

Namun, saat ini sebagian muslim dengan mudahnya mengucapkan selamat kepada umat agama lain yang melaksanakan hari raya mereka. Mengucapkan dengan sukarela atasnama toleransi, tanpa ada yang memaksa atau mengancam nyawanya.

“Sepakat para ulama bahwa mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain, seperti selamat Natal adalah haram,” ujar Ustaz Dr. Abizal Muhammad Yati Lc, MA, Ketua Bidang Pendidikan Dewan Dakwah Islamiyah Aceh, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (20/12/2017) malam.

Pengajian malam itu turut dihadiri oleh Prof. Janet Steele, Guru Besar Bidang Jurnalisme George Washington University, Amerika Serikat.

Ustaz Abizal yang juga Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh ini memaparkan, betapa banyak umat Islam saat ini yang ikut-ikutan merayakan hari besar agama lain. “Harus diingat, hal tersebut sangat bertentangan dengan penegasan Allah SWT dalam Alquran Surat Al-Kafirun, karena dapat merusak aqidah,” ujarnya.

Sikap toleransi umat Islam terbaik adalah dengan menghargai mereka merayakan hari kebesaran mereka dengan tidak mengganggu kenyamanan mereka, dan tidak pula menghalangi mereka merayakannya. Hal ini sudah dipertegas oleh Allah, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az-zuur (perbuatan yang merusak akidah seperti menyembah berhala), dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqan: 72).

Umar bin Khatab berkata, “Janganlah kalian masuk pada nonmuslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah. Ibnu Qayyim berkata: Jauhilah musuh-musuh Allah di hari perayaan mereka.

Dijelaskannya, Allah SWT tidak melarang muslim untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Alquran Surat Al-Mumtahanah ayat 8.

Ayat ini sebagai gambaran, Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Islam tidak melarang ummatnya untuk berbuat baik dalam perkara-perkara keduniaan dan kemanusiaan. “Perbedaan aqidah tidak menghalangi kaum muslimin saling berbuat baik, tolong, menolong, dan hormat menghormati,” ujarnya.

Ustaz Abizal juga memaparkan contoh prinsip toleransi Rasulullah dalam aqidah, ketika Beliau ditawarkan oleh kafir Quraisy untuk tukar menukar dalam melaksanakan ibadah.

“Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami? Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya”

Allah memberikan jawaban dengan menurunkan Surat Al-Kafirun ayat: 1-6: Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 1-6).

“ Semoga kita dapat memahami makna toleransi dengan benar dan mengedepankan aqidah sebagai prinsip yang harus dipertahankan demi terciptanya kerukunan antar umat beragama,” tegas Ustaz Abizal M. Yati yang juga Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry.(*/nal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved