DKP Aceh Kembangkan Garam Halal

Di akhir tahun 2017, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh membuat enam proyek percontohan

DKP Aceh Kembangkan Garam Halal
KADIS Kelautan dan Perikanan Aceh, Ir T Diauddin bersama staf sedang melihat lokasi pembuatan garam metode tunel dan membran plastik di kluster pembuatan garam rakyat Desa Lam Ujong, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, Jumat (22/12). 

* Untuk Industri dan Rumah Tangga

BANDA ACEH - Di akhir tahun 2017, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh membuat enam proyek percontohan pembuatan garam yang sehat, aman, dan halal (SAH). Garam untuk kebutuhan rumah tangga dan industri ini dibuat dengan metode tunel dan membran plastik di sejumlah kabupaten, yakni Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara.

“Lima daerah itu kita jadikan proyek percontohan pembuatan garam yang sehat, aman, dan halal (SAH) untuk memberikan pengetahuan baru dan sekaligus sebagai solusi masalah yang dialami petani garam di Aceh, “ kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Ir T Diauddin kepada Serambi Jumat (22/12) di lokasi proyek pembuatan garam di Desa Lam Ujong, Kecamatan Baitussalihin, Aceh Besar.

Didampingi staf, Afrizal, T Diauddin mengatakan, pembinaan petani garam baru diberikan kepada DKP Aceh pada tahun 2016. Sebelumnya, Tupoksi pembinaan petani garam itu berada pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh.

Setelah pembinaan petani garam diserahkan kepada DKP Aceh, kata T Diauddin, pihaknya langsung menyusun program pembinaan petani. Sebelum program disusun, pihaknya lebih dulu melakukan identifikasi dan menganalisa permasalahan industri garam rakyat yang ada di Aceh.

Hasil identifikasi dan analisanya, kata T Diauddin, proses pembuatan garam untuk konsumsi maupun industri di Aceh umumnya masih dilakukan dengan cara-cara manual dan tradisional. Pemrosesan pada lahan terbuka dan kemudian air garam yang tingkat salinitasnya sudah mencapai 25 persen, dimasak dalam sebuah kuali besar dengan menggunakan bahan bakar kayu yang banyak.

Oleh karena air garam dijemur di lahan terbuka, kata Diauddin, maka wajar saja jika LPPOM MUI Aceh berpendapat sebagian garam yang diproduksi petani garam di Aceh, belum bebas dari najis.

Metode atau cara membuat garam seperti itu, kata T Diauddin, sangat tidak efisien, efektif, dan ekonomis. Untuk mendapatkan pola pembuatan garam untuk konsumsi rumah tangga dan kebutuhan industri yang yang hieginis, efisien dan efektif, DKP Aceh telah mengirimkan beberapa orang staf dan petani garam ke Madura untuk belajar metode pembuatan garam yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga sesuai dengan nilai-nilai syariat.

Dari sejumlah metode atau cara pengolahan garam yang dilihat dan dipelari di Madura dan beberapa tempat lainnya di Pulau Jawa, ditemukan metode terbaik saat ini, yakni dengan menggunakan tunel beratap plastik transparan putih dan berlantaikan membran plastik berwarna hitam.

Dijelaskan Diauddin, biaya untuk pembangunan satu unit tunel (terowongan ) tempat penjemuran garam tidak begitu mahal. Untuk tunel ukuran 3,8 x 21 m, membutuhkan dana Rp 12 juta. Bangunan tunel terbuat dari tiang bambu, dibaluti plastik putih transparan berbentuk terowongan setengah lingkaran dan lantainya dilapisi plastik membran berwarna hitam.

Untuk ukuran penjemuran garam 3,8 x 21 m, kata Diauddin, pada musim kemarau panjang bisa menghasilkan garam sebanyak 1,5 ton dalam waktu dua minggu. Jika dalam satu bulan dua kali panen, jumlah produksi menjadi 3 ton/bulan. Saat ini harga garam rakyat yang putih dan hiegenis itu berkisar antara Rp 7.000-10.000 per kilogram. “Jadi, untuk sekali panen petani bisa menghasilkan uang Rp 10,5 - Rp 15 juta,” kata Diauddin. Biaya untuk pembutan tunel plastik untuk penjemuran garam itu bisa diganti dengan biaya satu bulan penjualan garam. “Itu sebabnya di Madura banyak orang jadi kaya,” tandasnya.

Diauddin berharap, enam lokasi yang dijadikan pilot project itu pada bulan Januari dan Februari 2018 sudah bisa memproduksi garam untuk konsumsi rumah tangga dan industri. Tahun depan, pihaknya akan menambahkan tiga kabupaten lagi sebagai lokasi percontohan, yakni di Kabupaten Aceh Timur, Abdya, dan Aceh Selatan.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help