Opini

Mengenang Tsunami Aceh Selamanya

SELASA, 26 Desember 2017 atau tepatnya 5 Rabiul Akhir 1439 H akan menjadi tahun ke-13 peristiwa terbesar yang pernah

Mengenang Tsunami Aceh Selamanya
SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
Kondisi di bekas Hotel Aceh, Banda Aceh, 26 Desember 2004. 

Oleh Rahmadhani dan Humeidy Ghazali

SELASA, 26 Desember 2017 atau tepatnya 5 Rabiul Akhir 1439 H akan menjadi tahun ke-13 peristiwa terbesar yang pernah terjadi pada abad modern ini, yaitu gempa berkekuatan 9.2 skala Richter dan gelombang tsunami yang melanda kawasan pesisir pantai Aceh dan beberapa negara lainnya di kawasan Asia Pasifik yang telah menimbulkan jumlah korban jiwa yang relatif besar, kehilangan harta benda dan kehancuran sarana prasarana yang bersifat masif serta trauma masyarakat yang sungguh mendalam.

Tahun berganti tahun, peristiwa tsunami pada 26 Desember terus dikenang dalam bentuk peringatan dengan berbagai aktivitas yang bersifat tasyakur dan tafakur, tidak hanya melibatkan pemerintah dan masyarakat, tapi juga masyarakat yang langsung mengalami bencana tersebut, khususnya masyarakat korban tsunami.

Tentu saja, peringatan yang dilakukan pada setiap 26 Desember tidaklah hanya mengenang kejadian bencana gempa dan tsunami yang pernah terjadi pada tanggal tersebut saja, melainkan juga menjadi media penting lainnya untuk selalu mengenang kembali setiap kejadian bencana lainnya yang pernah mendera Aceh.

Hal itu, seperti gempa di dataran tinggi Gayo pada Selasa 2 Juli 2013, gempa di Pidie Jaya pada Rabu 7 Desember 2016, dan bencana-bencana mematikan lainnya yang dirasakan oleh saudara-saudara kita, baik yang terjadi di tanah air, maupun di luar negeri, termasuk juga konflik Aceh yang juga menimbulkan kehilangan, trauma dan korban jiwa.

Tasyakur dan tafakur
Menjadi sebuah perhatian, di mana setiap peringatan yang diinisiasi oleh pemerintah dan masyarakat dari berbagai pelosok, khususnya kawasan yang pernah mengalami bencana besar di masa lalu, selalu tergugah untuk memperingati kejadian bencana tersebut dalam rangka mengenang kembali kejadian yang pernah menimbulkan kehancuran dan kehilangan dalam bentuk acara tasyakur dan tafakur, yang diakhiri dengan kenduri bersama yang merefleksikan “kita adalah senasib dan sepenanggungan” melalui kebersamaan dan persaudaraan.

Berbagai komunitas lainnya yang diinisiasi oleh anak-anak muda Aceh, maupun masyarakat Aceh di perantauan juga terpanggil untuk mengabadikan peringatan tersebut dengan berbagai aktivitas menarik dan menggugah dengan mengusung berbagai tema yang bersifat membangun dan percaya diri, seakan mengajak kita semua “Ayo melawan lupa” dan bangkit, tidak hanya membangun budaya siaga bencana, namun juga bangkit membangun negeri, seperti pameran photo, nonton bareng “Kejadian Tsunami dan Kebangkitan Masyarakat”, olah raga, aksi tanam pohon, napak tilas, zikir, testimoni, teatrikal, simulasi Tsunami, dsb.

Penting menjadi sebuah renungan lainnya juga, dimana peringatan Tsunami setiap tahunnya menjadi perhatian dan daya tarik masyarakat luar, khususnya masyarakat Jepang yang berlainan kepercayaan atau agama dengan kita. Mereka selalu datang saat peringatan Tsunami Aceh tiba dan melakukan penelitian tentang kekuatan, kesabaran dan kebangkitan masyarakat Aceh pasca bencana.

Mereka juga takjub dan bangga kepada ketangguhan masyarakat Aceh yang tidak pernah merasakan bencana gempa dan tsunami masa lalu sebagai sebuah “malapetaka”, sehingga masyarakat Aceh tidak larut dalam perasaan kehilangan, kesedihan dan keterpurukan berkepanjangan.

Sebaliknya, kejadian yang telah terjadi tigabelas tahun lalu selalu dirasakan sebagai sebuah cobaan dari Allah Swt, yang pada akhirnya dipercayakan akan memberikan sebuah hikmah dan pembelajaran lessons learnt, yaitu perdamaian dan peluang dalam rangka membangun Aceh lebih baik, maju dan sejahtera dengan segala keunggulan alam yang dimiliki. Di antaranya dengan pengembangan industri pariwisata Aceh berbasis peninggalan tsunami, disaster based tourism industry, yang saat ini telah menjadi daya tarik wisata bagi setiap wisatawan. Tapi sampai kapankah tsunami Aceh akan terus diperingati?

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help