Aceh Carong karena Pustaka Aceh “Meugiwang” karena Arsip

CET LANGET,” kata Gubernur Ir­wandi Yusuf sua tu ketika. Ia menyuarakan itu di hadapan Kepala Di­nas Perpustakaan dan

Aceh Carong karena Pustaka Aceh “Meugiwang” karena Arsip

* PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK TERHADAP KINERJA DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN ACEH TAHUN 2017

Tamong perpustakaan meuwoe-woe riwang, mangat bek sanggong jahe tahila; meseubab arsip nanggroe meugiwang, Aceh ka carong jithee le donya.

CET LANGET,” kata Gubernur Ir­wandi Yusuf sua tu ketika. Ia menyuarakan itu di hadapan Kepala Di­nas Perpustakaan dan Ke­arsipan (Dispusip) Aceh Zulkifli M. Ali. “Cet langet,” sekali lagi Irwandi berujar, “dalam konteks Aceh Carong, tentu cet langet kita bisa meraihnya bila tak di ikuti kemauan untuk mem­baca. Mulai sekarang, orang Aceh harus kembali banyak membaca.” Zulkifli paham. Ini isya rat gubernur agar perpus takaan mesti hidup dan budaya literasi harus pula tumbuh dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Di kali yang lain, Wakil Gubernur Nova Iriansyah berujar pula. “Di mana-mana di negara maju, pemerintahnya sangat mem­perhatikan keberadaan perpustakaan.” Berbekal dua “peunutoh” pimpinan daerah itu, jajaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh pun pasang kuda-kuda dalam tahun 2017 ini. Di mulai dengan pembenahan aspek manajerial dan komu­nikasi di lingkungan inter-nal, peningkatan layanan bagi pengunjung perpusta kaan, turun langsung ke bawah (turba) melihat realitas literasi dalam kehidupan masyarakat saat ini, roadshow menumbuhkan minat dan budaya baca ma syarakat di 23 kabupaten/kota, dan melakukan pela cakan serta restorasi arsip __termasuk pelacakan nas­kah asli Memorandum of Understanding (MoU) Pe- merintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditandatangani di Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Tak hanya itu. Aspek monumental terkait per­pustakaan Aceh pun terja- di. Tahun 2017 tercatat sebagai saat dimulain baru Pusat Layanan per pustakaan senilai Rp. 28,3 miliar. Gedung perpustakaan lama di kawasan Lamnyong, Banda Aceh, dirubuhkan. Di atasnya kini se­dang dibangun gedung ba ru empat lantai yang nantinya akan lebih memanjakan pengunjung.

“Bagi kita di Aceh, membangun gedung perpustakaan representatif baru di ka­wasan Lamnyong merupakan solusi mendesak di saat pengunjung kian bertambah dan gagasan Aceh Carong mesti diwujudkan,” tutur Wagub Nova Iriansyah. Perpustakaan Aceh di dirikan tahun 1969 dengan nama Perpustakaan Negara, awalnya hanya menem­pati ruangan seluas 12 meter persegi di Kantor Per­wakilan Departemen Pendidikan dan ebudayaan Daerah Istimewa Aceh. Koleksi bukunya pun cuma 80 eksemplar dan dikelola dua orang pegawai.

Terus ber­metamorfosis menjadi Perpustakaan Negara, Perpus takaan Wilayah, Perpustakaan Nasional Daerah Isti mewa Aceh, hingga pada 2016 menjadi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh dengan harapan da pat memberikan layanan optimal kepada masyara- kat dalam memenuhi kebu­tuhan informasi Sinyal ke arah itu tentu saja ada. Keberhasilan Gam­pong Paya Tumpi Baru di Aceh, Tengah sebagai Per­pustakaan Umum Desa Ter­baik Tingkat Nasional 2017, merupakan salah satu bukti bahwa budaya baca dan gerakan literasi mulai jumbuh di tengah-tengah masyara kat Aceh.

Keberhasilan ini, ditam bah kegiatan restorasi dan pelacakan arsip-arsip pen ting yang dilakukan Dispu­sip tentu saja akan mem­buat gagasan Aceh Carong potensial dapat diwujudkan. Tak berlebihan, Aceh “carong” memang karena pusta­ka, Aceh “meugiwang” karena Arsip. Hal ini persis seperti dinyatakan Azwardi, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra FKIP Unsyiah. Dalam buku tamu kunjungannyake edung Pusat Layanan Perpus takaan Aceh, ia menulis: Tamong perpustakaan meu­woe-woe riwang, mangat bek sanggong jahe tahila; meseubab arsip nanggroe meugiwang, Aceh ka carong jithee le donya

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPUSIP) Aceh memiliki tanggung jawab moral menyediakan berbagai arsip dan kebutuhanliterasi guna mewujudkan terciptanya masyarakat Aceh yang carong, meuadab, dan meugiwang (pintar, bertamadun, dan menyeja­rah___red).

Dari aspek arsip, tahun 2017 ini kita telah mendapatkan salinan resmi MoU Helsinki dansedang terus berupaya mendapatkan naskah aslinya dari para pihak. Nanti, bukan hanya ada naskah MoU Helsinki, tetapi semua hal tentang Aceh, termasuk ragam arsip peristiwa tsunami yang tanggal 26 Desember kemarin kita peringati, ada di Depo Arsip Dispusip Aceh. Ini komitmen kami untuk melawan lupa supaya momen bersejarah tentang Aceh, kelak, tak dianggap sebagai dongeng dari as­pek kearsipan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved