SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Cinta Terpendam Aceh-Turki

SAAT gempa dan tsunami meluluhlantakkan Aceh pada Minggu pagi, 26 Desember 2004, saya sedang mandi

Cinta Terpendam Aceh-Turki
WAKIL Perdana Menteri Turki, Fikri Isik (kiri) bersama Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dan Duta Besar Turki untuk Indonesia, Mehmet Kadri Sander Gürbüz (kanan) melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid sebelum shalat Jumat di Masjid Raya Banda Aceh, Jumat (13/10). 

(Catatan 13 Tahun Tsunami)

Oleh Azwir Nazar

SAAT gempa dan tsunami meluluhlantakkan Aceh pada Minggu pagi, 26 Desember 2004, saya sedang mandi di pantai Uleelheue, Banda Aceh. Wilayah pantai yang ramai dikunjungi warga kota Banda Aceh setiap harinya ini, nyaris hilang pascabencana. Hanya Masjid Baiturrahim di bibir pantai yang masih kokoh berdiri megah.

Dari pantai ini pula terdapat banyak peninggalan sejarah keajaiban dunia terbentangkan. Salah satunya, kapal PLTD apung berbobot 2.600 ton yang terseret gelombang tsunami dan sampai kini berada di kawasan Punge Blang Cut, Banda Aceh. Ini semua, tentu, menjadi bukti kekuasaan Allah Swt atas bencana yang memangsa lebih 200 ribu orang pada 26 Desember 2004 silam.

Di seluruh Aceh, peristiwa tsunami diperingati sebagai hari duka yang mendalam. Meski sudah 13 tahun, namun kejadian itu masih dan akan selalu diingat oleh para korban maupun warga Aceh dan Indonesia sebagai musibah terbesar di abad 21. Tsunami yang meluluhlantakkan Aceh tersebut meninggalkan banyak cerita duka dan nestapa. Tapi ada pula hikmah yang dirasakan masyarakat. Tsunami telah membuka nurani dunia yang terketuk pintu hatinya untuk membantu Aceh. Solidaritas seluruh dunia terbangun tanpa perintah, tak mengenal ras, suku, bahkan agama. Segala jenis orang dari beragam profesi ikut menyumbang untuk Aceh. Damai Aceh pun tercipta setelah tsunami. Bangsa-bangsa di dunia hadir dengan berbagai bendera. Baik melalui NGO, relawan, maupun pemerintah negara. Para tokoh, selebriti dan pemimpin dunia silih berganti mengunjungi Aceh. Sebut saja, seperti Erdogan, Bill Clinton, Mursi, Jackie Chan hingga Cristiano Ronaldo. Tak ketinggalan aktor Paul Walker (Fast Furious) pernah pula menginjakkan kaki di bumi Iskandar Muda. Rehab rekom Aceh pun kebajiran dana triliunan rupiah. Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh-Nias dibentuk untuk mengkoordinasikan rehab rekom. Tak sedikit LSM dan lembaga donor yang langsung turun ke masyarakat untuk membantu di ke wilayah bencana.

Banyak berubah
Setelah 13 tahun tsunami, wajah Aceh sudah banyak berubah. Sisa-sisa tsunami hanya sedikit yang bisa ditemukan, terutama di Kutaradja. Tumpukan kayu, bangunan roboh, tenda pengungsian, sudah tak lagi ada. Banda Aceh juga sudah jadi kota bersih dan lebih teratur. Rumah bantuan lebih ratusan ribu unit berjejer di sepanjang pesisir pantai dan wilayah relokasi tsunami. Umumnya masyarakat memilih pulang kampung, sebab profesi mengharuskannya untuk mencari nafkah demi melangsungkan kehidupan. Walau sampai saat ini masih juga ada yang tidak kebagian rumah.

Salah satu rumah bantuan rumah paling bagus adalah dari Turki. Ini menjadi rahasia umum di Aceh. Palang Merah Turki malah membuat sebuah perkampungan baru di Desa Lampu’uk, Aceh Besar. Perkampungan yang menjadi primadona wisata sebelum tsunami ini rata dengan tanah terkena hempasan air bah. Lagi-lagi hanya Masjid Rahmatullah yang berdiri megah menjadi saksi sejarah.

Bila Anda pernah menonton film Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye, maka Masjid Rahmatullah adalah masjidnya Delisa. Masjid Rahmatullah dibangun dari dana penjualan sarang burung walet yang dimiliki Desa Lampu’uk yang terletak di pegunungan kapur. Sehingga seluruh masjid ini di cat putih, sebagaimana warna sarang walet. Di sisi belakang masjid masih ada bukti tiang yang roboh dan rusak, plus beberapa foto yang dipajang dalam Miracle Mosque Lampuuk.

Selain membangun rumah, community center Sultan Selim, Turki juga berkomitmen dalam bidang pendidikan. Turki melalui Yayasan membangun sekolah bertaraf Internasional pertama di Aceh. Siswa siswinya banyak menjuarai berbagai olimpiade di berbagai negara. Kini para alumninya banyak yang melanjutkan kuliah di Turki. Selain dari beasiswa yayasan juga melalui beasiswa pemerintah (YTB) yang memiliki kuota hanya 40-50 orang pertahun seluruh Indonesia. Kini ada sekitar 100-san lebih putra putri Aceh kuliah S1, S2 dan S3 yang tersebar di berbagai kota di bumi Alfatih yang memesona.

Karakter orang Turki yang keras kepala, penidur pagi, dan ramah tak jauh beda seperti orang Aceh. Sehingga masa awal rehab-rekon Aceh, relawan Turki begitu membaur dengan para korban. Mereka juga memproduksi roti jumbo bernama Ekmek, lalu dibagikan untuk warga yang melintas sore hari di depan kantornya di kawasan Lueng Bata, Banda Aceh. Di Aceh juga ada dua Desa Turki, yaitu Gampong Bitai dan Gampong Emperum, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Di Kompleks Teungku di Bitai ini tampak jelas jejak Turki di Aceh.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help