Salam

Layanan Kepada Turis ke Sabang Belum Memuaskan

Sekitar 150-an bus maupun mobil pribadi milik wisatawan yang akan berlibur ke Pulau Weh, Sabang, diinapkan

Layanan Kepada Turis ke Sabang Belum Memuaskan
Turis turun dari Kapal Pesiar Albatros saat merapat di Pelabuhan CT3 BPKS, Sabang, Sabtu (28/3).SERAMBI/AZHARI 

Sekitar 150-an bus maupun mobil pribadi milik wisatawan yang akan berlibur ke Pulau Weh, Sabang, diinapkan di Kompleks Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh. Kasihannya, tempat penitipan kendaraan atau parkiran tidak cukup untuk menampung kendaraan para turis lokal maupun mancanegara. Akibatnya, kendaraan-kendaraan sebagiannya tersengat matahari atau terguyur hujan.

Di balik kondisi ini, sebetulnya Pemerintah Kota Banda Aceh maupun PT ASDP Indonesian Ferry selaku operator pelayaran Banda Aceh-Sabang dan sebaliknya, harus memahami bahwa minat turis ke Sabang kini sudah mulai membaik. Artinya, segala fasilitas pelayanan kepada para “pengantar rupiah” itu harus diberikan secara memadai.

Tentang penitipan kendaraan di Kompleks Pelabuhgan Ulee Lheue, itu sebetulnya solusi yang diplih para turis guna mencegah antrean panjang kendaraan saat berangkat ke Sabang atau sebaliknya saat kembali ke Banda Aceh.

Sebab, pengalaman bertahun-tahun belakangan ini, untuk menyeberangkan kendaraan ke Sabang, para wisatawan harus menunggu berhari-hari guna mendapatkan seat di kapal. Demikian pula pada saat usai liburan ratusan kendaraan menumpuk di kompleks Palabuhan Balohan, Sabang, menunggu kesempatana naik kapal. Tak jarang para turis harus menginap di pelabuhan berhari-hari.

Keterbatasan kapal adalah penyebab utama. Dan, itu tidak pernah mendapat perhatian bertahun-tahun. Lonjakan penumpang akhir tahun dan musim hari raya, sering sekali tidak diantisipasi oleh PT ASDP. Maka, mengeluhlah para wisatawan yang sesungguhnya ingin memberi banyak manfaat secara ekonomi bagi pemerintah dan masyarakat Banda Aceh dan Sabang.

Padahal, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat berkunjung ke Sabang awal bulan ini sudah berkali-kali mengatakan pelayanan pelayaran dan penerbangan ke Sabang harus ditingkatkan baik secara kualitas maupun kuantitas. Artinya, seleian memperbaiki layanan pelayaran, jumlah keberangkatan kapal juga harus ditambah.

Pelaksanaan Sail Sabang yang sudah mengabiskan beratus-ratus miliar rupiah uang negara itu sesungguhnya adalah untuk memajukan pariwisata Sabang ke mancanegara. Seusai Sail Sabang, seharusnya ASDP Indonesian Ferry berbenah dengan mengantisipasi saat-saat terjadinya lonjakan pengnjungan Pulau Weh. Misalnya, pada musim liburan jumlah pelayaran penumpang dan kendaraan ditambah sehingga wisatawan bisa membawa kendaraannya ke Sabang. Apalagi, pada musim liburan itu, menurut para wisatawan, tarif rental kendaraan di Sabang agak mahal dan sulit mendapatkannya.

Guna mendapatkan perbaikan pelayaran penumpang dan barang ke pulau-pulau di Aceh, mestinya Gubernur dan DPRA bisa memanggil pihak ASDP Indonesian Ferry untuk mempertegas komitmennya kepada masyarakat Aceh. Penduduk kepulauan seperti Sabang, Simeulue, dan Pulau Banyak sebetulnya sangat mengeluhkan layanan kapal penyberangan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help