Home »

Opini

Opini

Tsunami Semakin Menseremoni

PERINGATAN 13 tahun gempa dan tsunami Aceh semakin meriah. Ustad Abdul Somad yang sedang fenomenal

Tsunami Semakin Menseremoni
SERAMBINEWS.COM/RIZWAN
Warga memadati Masjid Agung Baitul Makmur, Meulaboh, Aceh Barat dalam peringatan 13 tahun tsunami Aceh, Selasa (26/12/2017). 

Oleh Teuku Dadek

PERINGATAN 13 tahun gempa dan tsunami Aceh semakin meriah. Ustad Abdul Somad yang sedang fenomenal pun diundang, zikir dalam skala besar juga dilaksanakan. Sebelumnya, World Football Solidarity pun digelar. Satu upacara yang memang harus besar, sebab kita sedang mengenang kejadian besar, kejadian yang menghantarkan banyak hikmah dan sekaligus perjuangan orang Aceh sebagai sebuah entitas dalam bangkit dari remukan gempa dan tsunami.

Hikmah pertama, gempa dan tsunami telah mencairkan konflik antaranak bangsa, sehingga terlihat betapa lapangnya hati dan dada orang Aceh dalam menyelesaikan konflik. Slogan-slogan yang menyatakan “merdeka harga mati” sudah berganti dengan negosiasi perdamaian dan dengan harapan berubah menjadi kesejahteraan lewat dana Otsus untuk pembangunan.

Kini, tinggal masalah-masalah simbolik dari kemerdekaan yang sedang diperdebatkan, dari bendera sampai himne Aceh. Dari siapa yang berhak memegang kekuasaan sampai dengan UUPA itu milik orang Aceh atau segolongan dari mereka yang merasa telah berjasa, walaupun semua rakyat Aceh merasakan sakitnya hidup di bawah bayang-bayang konflik?

Intinya, gempa dan tsunami 2014 telah membuat kita semua bebas bergerak tanpa rasa takut, walaupun ketakutan itu masih ada dalam gertakan-gertakan frutrasi “kami akan naik gunung” atau hubungan yang terus memanas dengan Jakarta terkait pelaksanaan UUPA.

Kedua, orang Aceh semakin plural dan toleran, ketika ratusan LSM dari berbagai bangsa datang dengan membawa sejuta bantuan. Aceh yang sebelumnya sangat tertutup dalam menjaga agama dan budaya dihadapkan kepada budaya dan keyakinan global yang nyata. Kontak dengan para donatur yang sebagian besar non muslim terjadi dengan intensitas yang sangat dalam. Bahkan, ada yang memancing isu misionaris untuk mencoba membeli akidah Aceh oleh oknum tertentu yang memboncengi bantuan. Namun orang Aceh tetap tegak, kuat dan teguh dengan agama dan ajaran Islam yang dipeluknya.

Ketiga, memang bangsa yang tangguh, kejadian tsunami sekaliber 2004, menurut kita tidak memungkiri adanya bencana tsunami (smong) yang pernah terjadi di Aceh beberapa abad lalu dengan skala yang berbeda-beda. Hasil penelitian terkini memang menunjukkan bahwa Meulaboh, misalnya bukan hanya sekali dilanda tsunami. Ini juga terjadi di pantai Barat Aceh, termasuk Banda Aceh.

Dalam sebuah report penelitian Coastal progradation Patterns As A Potential Tool Inseismic Hazard Assessment menyimpulkan, tsunami pernah terjadi beberapa kali di perairan Meulaboh (Aceh Barat) dengan perkiraan waktu antara tahun yang berbeda, sesuai dengan ditemukan deposit tanah bekas tsunami. Ini semakin mendukung catatan-catatan gempa dalam manuskrip di Aceh, misalnya di bulan Syakban 1211 H (Februari 1797) gempa 8,4 SR di perairan Laut Hindia, tepatnya Mentawai dan Padang menimbulkan tsunami yang melanda pesisir pantai barat Sumatera.

Dalam catatan sampul manuskrip Tanoh Abee disebut al-zalzalah as-syadidah at-tsaniyah (gempa besar kedua kali), Kamis 9 Jumadil Akhir 1248 H/3 November 1832 M. Lima tahun kemudian (September 1837) pada periode Sultan Muhammad Syah (1824-1838), Belanda mencatat kembali gempa yang terjadi di Aceh dan epicenter di perairan barat Aceh. Di abad yang sama, pada 1861 terjadi gempa tektonik di Singkil, menghancurkan infrastruktur Belanda yang dibangun pada 1852. Jadi orang Aceh memang terbiasa dengan tsunami dari abad ke abad. Tangguh untuk berbuat, tapi tidak cukup tangguh dalam mengambil langkah pengurangan risiko bencana, beda dengan orang Jepang.

Belajar dari Jepang
Bencana gempa dan tsunami telah membuat orang Jepang sebagai bangsa yang disiplin, taat pada asas-asas pengurangan bencana. Mari kita lihat bagaimana bencana telah menjadi bagian dari kebudayan mereka dan Aceh perlu mencontohnya: Pertama, saat di Jepang pada 2012 lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi daerah Tohuku bagian yang sangat parah dilanda tsunami, namun saat di bandara dan tempat keramaian seluruh penanggung jawab tempat selalu mengulangi apa yang harus dilakukan apabila gempa dan tsunami terjadi. Ya simulasi selalu menjadi fokus utama. Pengumuman sebelum sebuah acara dilaksanakan tentang prosedur apa yang harus ditempuh apabila gempa dan tsunami terjadi selalu diumumkan dari mikrofon dan sebagainya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help